Dark
Light
Dark
Light

All Eyes on Sumatera: Bencana dan Kepongahan Manusia

All Eyes on Sumatera: Bencana dan Kepongahan Manusia

Pemukiman penduduk rata digulung air. Nyawa manusia bergeletakkan, berbagi ruang dengan lumpur, kayu, dan bangkai hewan-hewan. Mata yang melihat melalui gawai berkaca-kaca. Bibir tak luput memanjatkan doa bagi para korban. Sisanya, berupaya membantu yang memungkinkan untuk dilakukan. Indonesia berduka atas bencana banjir dan tanah longsor. All eyes on Sumatera.

Tragedi itu mendorong banyak orang bersuara dan berpikir. Apakah ini terjadi semata-mata karena cuaca? Atau tangan kotor manusia yang sejak lama dibiarkan mencabik-cabik alam lewat tambang, pembakaran, dan penggundulan hutan secara ugal-ugalan? Banyak orang meyakini, perlakuan yang buruk pada alam menjadi cikal bakal lahirnya bencana yang menelan ratusan korban jiwa.

Tak ada asap jika tak ada api, ungkapan itu mungkin tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Saya percaya, kerusakan alam yang disebabkan tangan manusia, menjadi salah satu penyebab munculnya bencana. Terbukti, saat banjir besar melanda, limpahan kayu gelondongan ikut hanyut terbawa. Tampilan itu menjadi sorotan publik. Banyak warganet mengaitkan gelondongan kayu dengan praktik illegal logging yang tidak ditangani serius oleh pihak berwenang.

Kepercayaan yang saya yakini didukung beberapa data. Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi melaporkan bahwa Sumatera Barat kehilangan 27.447 hektar (1,5 persen) hutan sepanjang tahun 2022. Pada periode 2011-2021, total kehilangan mencapai 139.590 hektar. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera juga mencatat Riau kehilangan sekitar 20 ribu hektare hutan sepanjang tahun 2023. Forest Watch Indonesia (FWI) mengidentifikasi ekspansi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas hutan tanaman industri  (HTI) sebagai aktor utama penyebab deforestasi di provinsi tersebut.

Semoga Pemerintah sigap menangani persoalan ini. Tak hanya bantuan-bantuan yang sifatnya insidental tapi juga menyentuh akar permasalahan yang telah lama berlangsung. Bantuan memang diperlukan, tapi tak bisa menyelesaikan persoalan jika hanya berhenti pada tataran permukaan.

Sembari mengikuti berita lebih lanjut melalui sosial media, saya menghabiskan waktu dengan membaca novel. Niat hati ingin melepas ketegangan atas berita-berita yang muncul akhir-akhir ini, tapi saya justru dipertemukan titik temu antara bacaan dengan tragedi bencana yang sedang terjadi. Titik temu itu terjalin lewat sebuah paragraf.

Saya manggut-manggut saat membaca novel karangan Ridwan Malik. Buku itu berjudul Ajengan Anjing (2025). Secara garis besar mengisahkan kebudayaan masyarakat Sunda, perbedaan pandangan, praktik beragama, dan corak kepemimpinan antar generasi dalam lingkup pesantren. Di beberapa bagian, Ridwan Malik ternyata juga menyoroti sikap manusia pada selain sesamanya: hewan, tumbuhan, hingga bebatuan.

Di halaman 63, Mama Aleh—kiai panutan masyarakat dalam novel— menuturkan kepada para jemaah bahwa manusia tak hanya mesti menjaga akhlak kepada anjing. Manusia pun wajib menjaga akhlak kepada makhluk lain yang ada di bumi. Salah seorang jamaah bertanya maksud dari ajengan tersebut lalu. Mamah Aleh menuturkan:

“Jaga akhlak kepada pohon, batang singkong, ikan-ikan, kepiting, ular sawah, keong, pohon cengkih, bunga-bunga, dan intinya kepada semuanya. Segalanya yang ada di bumi ini. Jaga akhlak. Sebab kita tak lebih baik daripada terong. Kita ini saudaranya daun mangga, sepupunya pohon belimbing, dan kerabat jauh kayu jadi. Jaga akhlak, sebab islam adalah akhlak.”

Saya terkekeh saat membaca bagian paragraf ini. Rasanya seperti menguliti kepongahan manusia dengan cara paling sarkas. Manusia disandingkan tak lebih baik daripada terong. Buah (secara botani) atau sayuran (secara kuliner) ini bukan jenis tumbuhan berharga tinggi atau langka seperti Yartsa Gunbu, Jamur Truffle Putih, atau Akar Wasabi. Terong sangat mudah ditemui di pasar dengan harga murah, hanya kisaran dua belas sampai dua puluh lima ribu per kilo. Di desa-desa bahkan bisa menemukannya di pinggir jalan atau belakang rumah.

Paragraf ini secara tidak langsung (mungkin) berupaya mendudukkan posisi manusia yang sebenar-benarnya di putaran semesta. Manusia bukan penguasa apalagi pemilik dunia ini. Manusia tak lain posisinya sama seperti ciptaan Tuhan yang lainnya. Hanya bedanya ada akal yang dititipkan dalam batok kepalanya untuk menjadi pemelihara bumi, atau yang lebih dikenal sebagai khalifah.

Namun sayangnya, peran sebagai khalifah itu bergeser. Manusia dijangkiti antroposentris akut: pandangan yang menempatkan dirinya sebagai pusat dan yang terpenting di alam semesta. Anggapan itu kerap membuat manusia melahirkan tindakan sewenang-wenang pada makhluk lain, terutama alam. Dan inilah yang mungkin terjadi di Indonesia. Nasib hutan-hutan ditentukan oleh manfaatnya bagi manusia secara ekonomis bukan keberlangsungan hidup.

Novel Ajengan Anjing (2025) sejatinya tidak secara spesifik mengulas tentang alam. Inti dari novel ini justru menjadi otokritik dalam beragama. Namun petuah-petuah yang dinukilkan mengajak pembaca turut berpikiran soal perlakukan manusia terhadap makhluk lain. Penulis sangat piawai menegur manusia lewat bahasanya yang ringan dan bergaya humor.

Membaca tulisan Ridwan Malik turut mengingatkan saya pada gagasan ekoteologi. Sebuah refleksi yang membahas hubungan Tuhan, manusia, dan alam. Gagas ini menjadi penting untuk ikut disuarakan di tengah permasalahan ekologis yang melanda Indonesia. Persoalan yang terjadi pada alam pada akhirnya tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum, ilmiah atau sains, tetapi juga dukungan dari otoritas keagamaan dan kebudayaan. Salah satunya lewat sebuah novel. 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo