Banjarnegara, Arina.id—Menjelang akhir tahun 2025, bencana alam kembali menimpa sejumlah wilayah tanah air. Belum sembuh duka di Majenang Cilacap, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah kembali menanggung derita. Bukit Situkung, Desa Pandanarum, longsor hebat pada Minggu siang. 16 November 2025.
Bencana itu merenggut 28 jiwa. Saat ini 17 orang telah diketemukan, dan 11 lainnya terus dicari. Belum lagi yang luka-luka, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Sebanyak 1.019 jiwa dalam 343 KK harus mengungsi di 5 pos pengungsian dan rumah warga.
Geografi yang indah, namun mengandung risiko
Banjarnegara memang dikenal sebagai ‘minimarket’ bencana di Jawa Tengah. Geografi wilayahnya memang bergunung-gunung dengan pesona alam nan indah, namun menyimpan risiko. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Banjarnegara termasuk dalam kabupaten dengan risiko longsor tertinggi, dengan lebih dari 70% wilayah berupa perbukitan dan pegunungan yang rawan bergerak.
Bukan sekali dua bencana tanah longsor melanda. Dalam catatan sejarah, musibah longsor dahsyarat pernah menimpa Dukuh Legetang di Dataran Tinggi Dieng pada 1955. Peristiwa tragis ini menimbun seluruh dukuh akibat longsoran Gunung Pengamun-amun.
Tahun 2006, Bencana Gunungraja kembali merenggut ratusan jiwa dan melululuhlantakkan Desa Sijeruk Banjarmangu dalam hitungan menit. Delapan tahun kemudian, Desember 2014, Dusun Jemblung Karangkobar menjadi tragedi terbesar. Sebanyak 108 penduduk dinyatakan meninggal, 20 lebih rumah hilang tanpa bekas, dan kawasan yang dahulu berupa perkampungan berubah menjadi kubangan lumpur setinggi rumah dua lantai.
Banyak media menyebut Peristiwa Jemblung 2014 itu sebagai ‘takdir kebumian’, konsekuensi bagi siapa pun yang tinggal di atas tanah yang yang tersusun oleh lapisan batuan muda yang belum stabil. Kombinasi curah hujan tinggi, kemiringan ekstrem, dan rusaknya tanah akibat pemanfaatan lahan secara intensif menjadi pemicunya.
Kini siklus itu seperti berulang. Warga Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum siang itu mendengar suara gemuruh yang mengawali terjangan material dari perbukitan, diiringi jerit tangis kepedihan warga.
Suara dari pengungsian
Bukan hanya 28 orang yang harus kehilangan jiwa, bencana tanah longsor menyisakan derita yang harus ditanggung warga. Pemerintah juga harus menyiapkan relokasi huntap dan huntara yang anggarannya tidaklah sedikit.
Pada titik pengungsian di GOR Desa Beji Kecamatan Pandanarum, Parjono (57) membenahi dokumen penting yang berhasil ia selamatkan. Rumah yang dibangunnya dari hasil jerih payah puluhan tahun kini rata dengan tanah.
"Untunglah surat-surat penting ini bisa kami selamatkan. Saat peristiwa terjadi yang terdengar suara gemuruh. Warga melihat kondisi daerah atas. Ternyata longsoran itu membesar. Kami semua lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sebagian terperangkap di kandang ternak di hutan,” tuturnya terbata-bata.
Warga lainnya, Miswan (43), masih mengingat saat ia besama warga lainnya terjebak di rerimbunan hutan saat berusaha menyelamatkan diri.
“Kami terjebak di hutan, tapi tak lama kemudian petugas menjemput dan membawa kami ke puskesmas dan posko pengungsian. Alhamdulillah petugas cepat bertindak,” ungkapnya.
Kini ribuan pengungsi ditampung di titik-titik pengisian. Mereka menerima layanan kesehatan dan bantuan makanan sembari menunggu masa pemulihan. Hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) tengah disiapkan pemerintah.
Gelombang empati
Seperti bencana-bencana sebelumnya, tragedi di Pandanarum mengundang simpati luas dari berbagai lapisan masyarakat Relawan, organisasi kemanusiaan, hingga pelajar dan komunitas pemuda tergerak mengirimkan logistik. Santri Gayeng Nusantara (SGN), salah satu komunitas santri datang membawa bantuan berupa sembako, pakaian hangat, dan kebutuhan darurat lainnya.
Elemen lain dari komunitas guru dan psikolog juga membantu pemulihan psikologi. Begitupula dengan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se-Banjarnegara. Mereka menyambangi posko pengungsian di GOR Desa Beji.
Ketua FKPP se-Banjarnegara KH Nafis Athoillah Al Hafidz, turut mengisi siraman rohani untuk memberikan siraman rohani guna menguatkan hati para pengungsi. Ia mengajak para pengungsi untuk tabah menghadapi cobaan ini. Ia juga mengajak warga untuk turut mendoakan kelancaran operasi dan keselamatan seluruh personel yang bertugas.
"Bencana dan kebahagiaan adalah juga ujian. Kita harus tabah menjalani, seraya berusaha memperbaiki diri, membenahi lingkungan dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Gus Nafis, sapaan akrab pimpinan Pondok pesantren Miftahul Sholihin ini.
Bencana alam longsor atau apapun jenisnya adalah peringatan untuk semua. Bagi Pemerintah, perlunya diperbaiki manajemen kebencanaan seperti rencana mitigasi yang matang, tata ruang yang berpihak pada keselamatan, dan manajemen konservasi air yang memadai. Pembangunan yang menyentuh aspek ekologis menjadi kebutuhan mendesak.
Pada akhirnya, hidup di tanah kelahiran adalah pilihan, tetapi bertahan dengan bijak menjaga alam adalah kewajiban bersama. Tragedi tidak harus berulang, manusia harus belajar kesadaran ekologinya. Agar kelak, saat musim hujan tiba, air tidak lagi membawa duka, melainkan keberkahan.
Editor: Kendi Setiawan


