Dark
Light
Dark
Light

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu: Menabung Rasa Sakit dalam Cerpen

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu: Menabung Rasa Sakit dalam Cerpen

Lembar pertama dalam buku Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu terasa sudah menipu para pembaca. Tanpa tedeng aling-aling, Sasti Gotama menulis: Hidup terkadang hanya mempersedikit kesakitan. Loh, apa maksudnya penulis mencantumkan kalimat yang langsung merontokkan jiwa optimis para pembaca? Apa kutipan ini tidak salah tulis?

Lihatlah sampul buku terbitan Mizan ini, warnanya cerah kemerah-merahan. Gambar-gambar tumpah ruah penuh warna. Ada gajah, singa, merak, kupu-kupu dan daun-daun yang menarik mata untuk mengirim sinyal ke otak bahwa buku ini mengandung imajinasi, humor, dan cerita-cerita menyenangkan. Siapa pun akan mengira bacaan ini seperti kotak berisi letupan kebahagiaan.

Ketika menatap hingga akhir halaman, pembaca memang mesti legowo. Dugaan tentang letupan kebahagiaan itu salah total. Buku ini berisi kumpulan rasa yang mengiris lalu menambal rasa sakit pada diri manusia. Pilihan kata, gaya penceritaan, dan isu yang diangkat terasa bergandengan dengan realitas sosial. Maka menjadi sangat pas, di lembar pertama, pembaca disuguhi kalimat: Hidup terkadang hanya mempersedikit kesakitan.

 

Pembaca memang tak membawa pulang keceriaan tetapi perenungan dan pertanyaan yang bisa mengusik pikiran. ‘Apa hakikat sebenarnya menjadi manusia?’ menjadi tema besar dalam buku ini.  Sasti menggelar dua puluh kisah dalam kumcernya dengan kerangka permasalahan kesehatan mental, kekerasan berbasis gender, dan represi terhadap hak-hak subaltern.

Selama ini, saya pikir cerpen paling memilukan hati adalah Subuh (2020, Margin Kiri) karya Selahattin Demirtas. Di buku ini ada cerita pendek yang menampilkan paradoks pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Tak hanya soal peran domestik, tetapi juga relasi antara keluarga, menyerempet doktrin agama, dan pandangan soal seksualitas. 

Tampaknya, daftar cerpen paling memilukan bagi saya menjadi bertambah, tak hanya Subuh. Buku dengan sampul kupu-kupu berwarna pink yang memenangkan Kusala Sastra khatulistiwa 2025 juga telah menjadi cerpen pilihan bagi saya. 

Kotoran di Tubuh Nin
Di Desa Cimenyan, siswi kelas dua SMP mengembuskan nafas terakhir di kamarnya. Kematian itu diketahui sang ayah setelah melihat kepala anaknya tergantung di tali. Konon, korban merasa frustasi atas kasus pelecehan yang dialaminya. Tragedi demikian mungkin tidak hanya terjadi di Desa Cimenyan tetapi berserakan di berbagai kota hingga negara lain. 

Menjadi korban atau penyintas kekerasan memang tak mudah. Begitu banyak hak yang direnggut dan begitu terasa sesak dihimpit kebudayaan masyarakat. Meski berstatus sebagai korban, tak jarang mesti menanggung cemooh, gunjingan, dan pelabelan dari orang sekitar. 

Makanya jangan pake pakaian yang menggoda!
Kalau kamu nggak mau, gak mungkin pelecehan itu bisa kejadian!
Dasar kamunya aja yang murahan!
Kamu itu kotor dan gak suci lagi!
Gak mungkin ada asap kalau nggak ada api!

Kalimat itu sering bertebaran menghempaskan tubuh korban ke sudut tempat yang makin menjauhkannya dari proses pulih. Masih ada anggapan bahwa luka trauma tak jauh lebih penting dari luka fisik. Kehadirannya kerap disangkal karena tak terlihat. Padahal, luka trauma jauh lebih berat untuk ditanggung. Barangkali, trauma dan penanganan yang kurang tepat menjadi faktor yang mendorong siswa dari Desa Cimenyan untuk mengakhiri hidup.

Kotoran di Tubuh Nin, salah satu judul cerpen di buku Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu menggambarkan trauma yang dirasakan penyintas. Membaca isinya tulang saya terasa ngilu, kulit saya ikut merasa lecet dan berdarah seolah menjadi Nin. Cerpen ini mengisahkan keadaan psikologis seseorang yang hidupnya memanggul trauma. Ya, trauma atau luka batin memang tak bisa dilihat layaknya fisik, maka untuk mengetahuinya dibutuhkan empati. Cerpen ini seperti asahan yang menajamkan empati pembaca. 

Membaca cerpen karya Sasti bisa ditemani film 27 Steps of May. Sinema ini berkisah tentang May, perempuan muda yang mengalami pemerkosaan pada usia 14 tahun oleh sekelompok orang tak dikenal. Ia mengalami trauma berkepanjangan akibat tragedi tersebut. 

 

Delapan tahun setelah tragedi itu terjadi, May tidak pernah bicara dan melakukan aktivitas layaknya perempuan seusianya. Ia seperti merasakan kematian yang datangnya lebih cepat. Tanpa semangat, tanpa tujuan hidup, tanpa keinginan, tanpa ambisi, tanpa harapan, dan tanpa kebahagiaan. Harinya diisi oleh ketakutan dan pertarungan melawan ingatan buruk yang sewaktu-waktu bisa muncul.

May tidak pernah meninggalkan rumah. Termasuk ketika terjadi kebakaran yang mengancam nyawanya. Ia tetap bersikukuh untuk tinggal di dalam kamar. Upaya untuk keluar dari ruangan yang selama ini ia tempati memunculkan kembali bayangan mengerikan pemerkosaan yang pernah ia alami. 

Film ini minim dialog dan dipenuhi simbol. Meski alurnya lambat, penonton bisa ikut merasakan pedihnya menjadi korban. Ini upaya yang sangat baik untuk memahami penderitaan orang lain layaknya cerpen yang ditulis oleh Sasti.

Tam Tak Ingin Terbang
Cerpen yang juga menarik berjudul Tam Tak Ingin Terbang. Rasa sakit tidak hanya datang dari penindas tetapi terkadang yang ditindas juga mewariskan ke sekitarnya. Di cerpen Tam Tak Ingin Terbang, penggambaran itu ditampilkan dengan gamblang. Dua tokoh yang turut menjadi korban justru melakukan penindasan pada sesamanya. Demikian juga yang terjadi dalam realitas.  

Pada akhirnya, upaya mengenal dan merasakan rasa sakit menjadi jalan untuk sepenuhnya menjadi manusia. Bagaimana menjadi manusia adalah pertanyaan yang tak akan pernah selesai untuk dijawab, tapi satu jawaban yang pasti benar: memahami rasa sakit. Seperti yang pernah dikatakan Leo Tolstoy: If you feel pain, you’re alive. If you feel other people’s pain, you’re a human being.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo