Dark
Light
Dark
Light

Muktamar Pulang ke Rumah

Muktamar Pulang ke Rumah

Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur sebagai tempat pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama kpada 27-31 Agustus 2026 layak disambut dengan syukur sekaligus apresiasi. Akhirnya, di tengah banyaknya pilihan, PBNU memilih pesantren sebagai tempat bermusyawarah. Pilihan ini bukan hanya tepat secara historis, tetapi juga mengandung pesan bahwa memasuki abad kedua, NU kembali meneguhkan dirinya pada rumah yang melahirkannya.

Pesantren bukan sekadar lokasi penyelenggaraan Muktamar. Ia adalah ruang tempat ilmu bertemu dengan adab, tempat kepemimpinan ditempa melalui pengabdian, dan tempat musyawarah dipahami sebagai ikhtiar mencari kemaslahatan, bukan memenangkan kepentingan. Karena itu, Muktamar di pesantren memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perpindahan tempat sidang.

Pilihan terhadap Tambakberas menghadirkan resonansi sejarah yang kuat. Nama pesantren ini lekat dengan perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang muassis Nahdlatul Ulama yang memberi arah bagi lahirnya organisasi ini. Dalam biografi KH. Abdul Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya (2015), Choirul Anam menggambarkan KH. Wahab bukan hanya sebagai pendiri, melainkan penggerak yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi gerakan sosial yang hidup.

Mungkin karena itu, Muktamar Ke-35 terasa seperti perjalanan pulang. Pulang bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk mengingat kembali nilai-nilai yang membuat NU mampu bertahan lebih dari satu abad. Sebab setiap organisasi yang besar memerlukan kemampuan menatap masa depan tanpa kehilangan ingatan terhadap asal-usulnya.

Menanam Akar Sebelum Membangun Organisasi
Ada pelajaran penting yang sering terlewat ketika membaca perjalanan KH Wahab Chasbullah. Banyak orang mengingat beliau sebagai pendiri NU, tetapi tidak banyak yang memperhatikan jalan panjang yang beliau tempuh sebelum organisasi itu lahir. Padahal, justru di situlah letak kebesaran visi beliau.

KH. Wahab tidak memulai dari mendirikan organisasi. Beliau memulai dengan membangun kesadaran masyarakat. Nahdlatul Wathan didirikan untuk membangkitkan semangat kebangsaan. Taswirul Afkar menjadi ruang bertemunya ulama, santri, dan kaum terpelajar untuk berdialog. Nahdlatut Tujjar hadir sebagai ikhtiar memperkuat ekonomi umat. Dalam pandangan Saifuddin Zuhri dalam Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah: Bapak dan Pendiri Nahdlatul Ulama (1983), langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa KH. Wahab selalu membangun fondasi sebelum mendirikan bangunan.

Urutan itu bukan sekadar rangkaian peristiwa sejarah. Ia adalah cara berpikir. KH Wahab memahami bahwa organisasi hanyalah wadah. Yang membuatnya hidup adalah gagasan, tradisi ilmu, dan masyarakat yang berdaya. Organisasi yang kehilangan ketiga hal itu hanya akan menjadi struktur tanpa jiwa.

Pelajaran tersebut terasa sangat relevan bagi Muktamar Ke-35. Forum permusyawaratan tertinggi NU tentu akan memilih kepemimpinan baru. Namun, yang jauh lebih penting ialah memastikan bahwa NU tetap menjadi rumah bagi lahirnya gagasan, pusat pengembangan ilmu, sekaligus penggerak pemberdayaan masyarakat sebagaimana dicita-citakan para muassis.

Dalam kajian Martin van Bruinessen melalui Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (1995), kekuatan pesantren tidak pernah hanya terletak pada sistem pendidikannya, tetapi pada kemampuannya membangun tradisi keilmuan yang terus hidup lintas generasi. Tradisi itulah yang melahirkan ulama, menjaga kesinambungan sanad keilmuan, sekaligus membentuk karakter sosial warga NU.

Menatap Abad Kedua
Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda dengan masa para pendiri. Kecerdasan buatan mengubah cara manusia belajar. Ruang digital membentuk otoritas baru. Krisis lingkungan menghadirkan tanggung jawab moral yang semakin luas. Ketimpangan ekonomi melahirkan bentuk-bentuk kemiskinan baru. Semua itu memerlukan jawaban yang lahir dari keluasan pandangan, bukan sekadar rutinitas organisasi.

Warisan KH Wahab sesungguhnya telah memberi arah. Beliau tidak pernah mempertentangkan tradisi dengan perubahan. Yang dijaga adalah nilai-nilai dasarnya, sementara cara dan pendekatannya terus diperbarui. Karena itu, kaidah al-muhafazhah ’ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah menemukan makna praktis dalam perjalanan hidup beliau dengan memelihara yang baik dari masa lalu, sekaligus menghadirkan yang lebih baik untuk masa depan.

Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 (2003) menunjukkan bahwa salah satu kekuatan NU adalah kemampuannya beradaptasi tanpa tercerabut dari tradisi pesantren. Fleksibilitas itu bukan tanda kehilangan prinsip, melainkan bukti bahwa tradisi yang hidup selalu mampu berdialog dengan perubahan zaman.

Karena itu, Muktamar di Tambakberas semestinya tidak hanya dikenang sebagai forum pergantian kepemimpinan. Ia harus menjadi momentum memperbarui ikhtiar NU dalam membangun pesantren yang unggul, memperkuat kemandirian ekonomi warga, mengembangkan dakwah yang ramah, dan melahirkan gagasan-gagasan yang menjawab tantangan Indonesia masa depan.

Dalam tradisi pesantren, bertamu ke rumah guru selalu dimulai dengan adab. Orang yang datang menjaga lisannya, merendahkan egonya, dan membuka hatinya untuk mendengar. Barangkali suasana batin itulah yang ingin dihadirkan ketika Muktamar kembali diselenggarakan di Tambakberas. Sebelum berbicara tentang kepemimpinan, setiap muktamirin diajak mengingat adab para pendiri.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu lama mengingat siapa pengurus yang terpilih dalam Muktamar ke-35. Sejarah justru akan mencatat apakah Muktamar ini berhasil memperkuat persaudaraan, memperkokoh pesantren sebagai pusat peradaban, dan melahirkan keputusan-keputusan yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebab setiap perjalanan besar memerlukan keberanian untuk sesekali pulang. Pulang bukan untuk tinggal di masa lalu, melainkan mengambil kembali mata air yang membuat perjalanan tetap jernih. Dan di Tambakberas, mata air itu masih mengalir berupa ilmu yang rendah hati, adab yang meneduhkan, musyawarah yang mempersaudarakan, serta pengabdian yang tidak pernah selesai. Dari sanalah NU pernah memulai perjalanannya, dan dari sanalah pula semoga NU menemukan tenaga baru untuk melangkah memasuki abad keduanya. Wallahul musta’an.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo