Dark
Light
Dark
Light

Menafsir Babi dan Tikus dari Teks Sastra, Lagu, Film

Menafsir Babi dan Tikus dari Teks Sastra, Lagu, Film

Ramadan bulan penuh berkah. Konon, bulan ini lebih spesial jika dibandingkan dengan waktu lain. Umat Islam selalu bersuka cita menyambutnya.

Namun, puasa tahun ini terasa agak berbeda bagi umat Islam di Indonesia. Tingkah para elite politik membuat umat tak tenang untuk khusyuk beribadah maupun menikmati hidup. Serentetan kebijakan yang dibuat menimbulkan kekhawatiran yang tak kunjung surut.

Terbaru, kita dihantui akan bangkitnya era orde baru yang dipercayai telah selesai. Pengesahan UU TNI lalu teror kepala babi dan tikus yang ditujukan untuk Tempo menjadi sumber kecemasan masyarakat akan nasib Indonesia. Apakah kita akan kehilangan kebebasan dan hak-hak yang dijamin undang-undang? Apakah Indonesia akan kembali pada era yang penuh teror dan pembatasan? Kita berharap reformasi yang didapat dari tetesan keringat dan darah tidak dikhianati hanya demi kepentingan segelintir kelompok.

Babi
Menyoal kepala babi dan bangkai tikus yang dikirim ke media Tempo, bisa mengingatkan kita pada teks-teks sastra, lagu, maupun film. Babi dan tikus disuguhkan dengan banyak makna, tak cukup sebatas hewan. Pembaca bisa bermain tafsir. Kedua hewan itu bisa memuat maksud politik, kritik sosial, dan kemanusiaan.

Bicara soal babi terasa kurang afdal jika tak menyebut George Orwell. Sosok legendaris yang menampilkan babi dalam arus politik. Pada tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya di Inggris, Orwell menuliskan sebuah cerita mengenai pemberontakan berjudul Animal Farm. Di Indonesia, novel itu dialihbahasakan oleh Mahbub Djunaidi menjadi Binatangisme (1983).

Sekelompok binatang dengan beragam jenis diceritakan bersatu untuk menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan. Revolusi itu dipelopori oleh para babi. Pergolakan terjadi lantaran tindakan manusia atas para binatang dianggap sangat semena-mena dan tidak berdasarkan atas nilai kemanusiaan.

Singkat cerita, setelah terjadi siasat dan perlawanan bersama, para binatang memenangkan perjuangan. Mereka bersorak atas keberhasilan menggulingkan rezim diktator. Namun, ternyata impian ideal yang diharapkan hanya bertepuk sebelah tangan. Babi malah berangsur-angsur menjadi otoriter dan memerintah sesama binatang lebih keras. Sistem yang dijalankan lebih tidak demokratis dibanding era manusia.

Pada akhir cerita, para binatang mengetahui babi-babi dan manusia asik makan malam bersama. Babi berjalan dengan menggunakan dua kaki dan minum bir layaknya manusia. Para binatang juga mendengar mereka saling bertengkar ketika bermain kartu. Keduanya semakin mirip hingga tidak dapat lagi dibedakan siapa di antara mereka yang manusia dan siapa di antara mereka yang babi.

Kepala babi yang diterima Tempo boleh kita artikan sebagai penanda untuk waspada dan mengantisipasi kembali terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Kita juga boleh menafsir dengan merujuk pada novel Orwell bahwa tidak akan ada pionir yang melakukan revolusi pada kekuasaan otoriter karena para pelopor sudah lebih dahulu dihabisi baik lewat fisik maupun rayuan materi berupa uang maupun jabatan.

Tikus

Kita bisa melacak tikus pada dendang Tikus-tikus Kantor (Iwan Fals, 1990). Lagu bernada kritik pada birokrat yang korup sekaligus culas. Lirik memuat konteks waktu era orde baru yang penuh dengan penyelewengan wewenang:

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi

Tikus-tikus tak kenal kenyang
Rakus, rakus, bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang

Melihat kronologis kondisi tikus yang dikirim ke Tempo kita jadi meragu makna tikus merujuk pada birokrat. Jika tafsir tikus diartikan layaknya lagu Iwan Fals, alamat paling tepat adalah gedung DPR bukan kantor jurnalis. Pengirim barangkali punya imajinasi lain tentang tikus, bukan sebagai golongan yang korup melainkan sebaliknya.

Kita menduga pengirim punya kiblat lain dalam memandang tikus. Gagasan soal hewan itu bisa berkebalikan dengan yang selama ini ditebarkan. Tikus bisa dimaknai sebagai sosok-sosok yang berupaya melawan arus dan menemukan kebenaran meski dihadapkan dalam situasi yang sulit. Referensi itu bisa kita temukan dalam film maupun sastra anak.

Film animasi Ratatouille (Brad Bird, 2007) mengangkat sosok tikus sebagai tokoh utama. Kita bisa menyebutnya protagonis. Sinema ini menceritakan seorang tikus bernama Remy yang ingin menjadi koki restoran terkenal di Paris. Meski terdengar mustahil karena ia berasal dari keluarga binatang pengerat, Remy bisa mewujudkan mimpi tersebut dengan sentuhan magis dan semangat yang tak pernah padam. Tikus diidentikkan dengan kecerdasan, kerja keras, dan pantang menyerah.

Sastra anak juga memuat tikus. Kate Decamillo lewat buku The Tale of Despereaux (2005) menggambarkan tikus sebagai sosok jenius. Dikisahkan, Despereaux, tikus kastil, berbeda dengan tikus lainnya. Masyarakat tikus melihat keanehan dari hidup Despereaux. Ia tidak memakan buku melainkan membacanya, punya selera musik, memiliki pengetahuan dalam berbahasa, tidak mencuri, tidak menghindari manusia, dan tidak rakus.

Keanehan itu dipercayai telah menyalahi aturan sehingga Despereaux ingin dihukum mati. Namun, ternyata bukan kematian yang menemui takdirnya melainkan petualangan dan kehidupan baru yang lebih baik. Keistimewaan dalam diri Despereaux menyelamatkannya dari kematian di ruang tahanan bawah tanah.

"Karena kau, tikus, bisa bercerita pada Gregory. Cerita ibarat cahaya. Cahaya sangat berharga di dunia yang begini gelap. Mulailah dari awal. Berceritalah pada Gregory. Hadirkan cahaya."  Ucapan itu muncul dari sosok mengerikan di bawah tanah yang kagum pada kecerdasan Despereaux.

Pada akhirnya, bangkai kepala babi dan enam bangkai tikus dengan kepala terpenggal bisa kita maknai sebagai upaya pembungkaman terhadap sosok-sosok yang berpotensi menggulingkan kekuasaan dan memilih arus berbeda dari pendapat umum. Pengirim sepertinya memang punya referensi citra hewan yang cukup berbeda. Apa pun makna yang terkandung di baliknya, kita berharap kebebasan pers dan masyarakat sipil tetap terjamin sebagai hak yang patut untuk terus dilindungi dan diperjuangkan.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo