Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita memulai khutbah ini dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga hari akhir.
Pada kesempatan kali ini, khatib juga menyampaikan wasiat kepda para jamaah wabil khusus kepada khatib pribadi untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dalam artian menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. Jangan sampai kita menjadi golongan orang yang tercabut iman dan takwanya karena kita akan termasuk orang-orang yang menyesal.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an dalam surat Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita tentu ingin kehidupan berbangsa dan bertanah air bisa terus rukun dan damai seperti saat ini. Allah telah menganugerahkan nikmat kesempatan kepada kita menikmati manisnya ibadah dan beraktivitas tanpa ada gangguan keamanan dan pertikaian. Kita dapat beribadah dengan mencari rezeki untuk keluarga kita melalui berbagai sektor kehidupan dengan tenang. Kita bisa beribadah seperti shalat dan sejenisnya tanpa ada ancaman tembakan dan dentuman bom akibat peperangan yang meneror kita.
Semua ini harus benar-benar kita syukuri. Jangan sampai kita kufur terhadap nikmat ini sehingga nikmat kedamaian bisa saja diganti oleh Allah SWT dengan petaka perselisihan dan peperangan. Naudzubillah min dzalik. Kita mestinya sering mendengar ayat Al-Qur’an yang harus menjadi pegangan kita untuk senantiasa bersyukur dalam surat Ibrahim ayat 7 :
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Untuk mempertahankan kondisi dan situasi ini, setiap individu dari kita harus senantiasa menanamkan optimisme dalam berbangsa dan bernegara. Dengan optimisme ini, kita akan memiliki semangat untuk maju dan mengikis sikap-sikap pesimisme yang menggerogoti nikmat-nikmat dari Allah. Terlebih di era modern saat ini, di mana setiap orang bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan hati mereka, narasi-narasi membangun optimisme dalam ber-Indonesia harus diperkuat di media sosial.
Mari hindari menyebar narasi-narasi pesimis terhadap terhadap kehidupan berbangsa karena hal itu akan berpengaruh pada mental dan etos kita dalam membangun Indonesia. Memang masih ada hal yang harus diperbaiki dari sistem yang kurang baik akibat oknum tertentu. Namun semua itu tidak boleh kita jadikan penilaian menyeluruh sehingga melihat Indonesia selalu dalam nada pesimisme.
Dalam suatu hadits Rasulullah bersabda:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, No. 6970 dan Muslim, No. 2675]
Jika kita melihat dari sisi optimisme, kita bisa melihat bahwa perkembangan Indonesia dari waktu ke waktu sudah semakin baik. Berbagai perkembangan pembangunan bisa kita rasakan bersama seperti di bidang pertanian, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan sebagainya. Saat ini juga kita tidak lagi melihat kelaparan besar yang melanda di daerah tertentu di Indonesia.
Jika dulu di zaman kolonial, banyak penduduk Indonesia yang meninggal karena kelaparan, di era Indonesia saat ini, banyak orang meninggal malah karena kekenyangan. Hal ini akibat kurang selektifnya dalam mengkonsumsi makanan karena sudah beragamnya jenis makanan dan minuman yang mempengaruhi kesehatan tubuh kita.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sekali lagi, kemajuan yang sudah bisa kita rasakan ini harus kita pertahankan dengan rasa optimisme. Dalam mengisi pembangunan negara ini, kita harus memiliki optimisme bahwa dengan bersatu, bekerja keras, dan berdoa, Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan diridhai Allah. Optimisme merupakan kekuatan spiritual karena di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah berfirman dalam surat Al-Insyirah 5-6:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini memberikan pesan yang jelas bahwa dalam setiap tantangan dan kesulitan, selalu ada kemudahan yang Allah siapkan. Maka, sebagai bangsa, kita harus selalu optimis bahwa setiap krisis adalah kesempatan untuk bangkit lebih baik.
Optimisme juga akan menjadikan kita bersemangat untuk melakukan ikhtiar-ikhtiar positif untuk masa depan yang lebih baik dan mendorong kita untuk tawakkal karena menyadari bahwa Allah lah yang paling berhak memberikan yang terbaik pada kita.
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105)
Mari kita jadikan ayat ini sebagai motivasi untuk selalu bekerja keras sesuai dengan peran kita masing-masing dalam kehidupan ber-Indonesia. Dalam setiap pekerjaan kita, niatkan untuk kemaslahatan bersama agar keberkahan dari Allah senantiasa menyertai kita dalam ber-Indonesia.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ الله، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ اللهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


