Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat: Beragamalah dengan Ilmu, Bukan dengan Nafsu

Khutbah Jumat: Beragamalah dengan Ilmu, Bukan dengan Nafsu

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَحَثَّ عَلَى الرَّحْمَةِ وَالْإِتْقَانِ، وَجَعَلَ الْقِيَادَةَ أَمَانَةً وَمَسْؤُولِيَّةً، وَخَيْرَ النَّاسِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَقَادَ الْأُمَّةَ بِالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْحِكْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالدِّيَانَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَبِأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ، وَالرِّفْقِ بِمَنْ وَلَّانَا اللَّهُ أَمْرَهُمْ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى :وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا  

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan yang sangat penting, terlebih di era modern saat ini adalah memastikan bahwa cara kita dalam beragama benar, bukan hanya sekadar semangat dalam beragama. Sebab, semangat beragama itu penting, tetapi semangat tersebut harus diiringi dengan ilmu, bukan nafsu.

Jangan sampai kita memiliki semangat yang tinggi dalam menjalankan agama, tetapi tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang agama itu sendiri. Akibatnya, kita bisa terjebak pada pemahaman mudah menyalah-nyalahkan amaliah ibadah orang lain dan menganggap ibadah orang lain tidak sesuai sunnah. Allah SWT berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa tidak semua persoalan agama harus kita jawab sendiri. Ada saatnya kita harus bertanya kepada orang yang memang memiliki ilmu yang sesuai dengan kompetensinya.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Dalam belajar agama, kita juga perlu memperhatikan siapa yang menjadi guru kita dan dari mana ilmu itu diperoleh. Apalagi hari ini kita hidup di era digital. Dalam hitungan detik, kita dapat mendengarkan ceramah dari berbagai penjuru dunia. Kita bisa menemukan potongan ayat Al-Qur'an, hadits, fatwa, kajian, dan berbagai pendapat keagamaan hanya dengan membuka media sosial.

Ini adalah nikmat besar. Tetapi sekaligus merupakan ujian dan ancaman bagi pemahaman agama. Sebab, tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang banyak ditonton berarti paling berilmu. Tidak semua orang yang pandai berbicara di depan kamera otomatis memiliki kedalaman ilmu agama.

Algoritma media sosial bekerja berdasarkan apa yang menarik perhatian kita. Sementara kebenaran agama tidak ditentukan oleh jumlah penonton, jumlah pengikut, jumlah komentar, atau seberapa cepat sebuah video menjadi viral.

Maka jangan hanya melihat seberapa terkenal seseorang, tetapi lihat pula siapa gurunya, apa yang dipelajarinya, bagaimana perjalanan pendidikannya, bagaimana sepak terjangnya, dan bagaimana para ulama yang terpercaya memandang kapasitas keilmuannya.

Hadirin rahimakumullah.

Bagi kita yang masih awam dan perlu terus belajar agama, jangan merasa cukup hanya karena kita sudah membaca satu ayat atau menemukan satu hadits. Boleh jadi ayat yang kita baca memiliki konteks tertentu. Boleh jadi hadits yang kita temukan harus dijelaskan lagi oleh para ulama.

Di sinilah pentingnya belajar kepada guru. Guru membantu kita memahami bukan hanya apa dalilnya, tetapi juga bagaimana dalil itu dipahami. Hindari memahami dalil sepotong-sepotong. Kita harus meneladani bagaimana para ulama zaman dulu menuntut ilmu dengan perjuangan berat.

Para ulama sejak dahulu memiliki tradisi ilmiah yang luar biasa. Mereka berbeda pendapat dalam banyak persoalan, tetapi perbedaan itu dibangun di atas ilmu, argumentasi, adab, dan penghormatan terhadap sesama ahli ilmu.

Maka jangan sampai semangat membela agama justru membuat kita kehilangan adab dalam beragama. Jangan sampai kecintaan kita kepada sunnah berubah menjadi kebencian kepada sesama Muslim. Jangan sampai keinginan mengajak kepada kebenaran berubah menjadi kebiasaan merendahkan orang lain. Dan jangan sampai media sosial menjadikan kita cepat berbicara, tetapi lambat belajar.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta ketika ia menyampaikan semua yang ia dengar.” (HR Muslim)

Hadirin yang dirahmati Allah.

Mari kita bangun semangat beragama yang sehat. Semangat yang bertemu dengan ilmu, ilmu yang bertemu dengan guru, dan ilmu serta guru yang melahirkan adab, bukan nafsu. Kalau kita belum tahu, jangan malu mengatakan, “Saya belum tahu.” Kalau kita belum paham, jangan terburu-buru menyalahkan.

Jika menemukan perbedaan, pelajarilah. Jika menemukan pendapat yang berbeda dengan yang selama ini kita pahami, jangan langsung marah. Bisa jadi kita memang belum mengetahui seluruh khazanah keilmuan Islam.

Karena itu, mari kita belajar agama dengan sungguh-sungguh. Belajar kepada guru yang jelas keilmuannya. Membaca kitab. Memahami bahasa dan metodologi. Menelusuri sanad keilmuan. Dan yang tidak kalah penting, menjaga adab kepada para ulama dan sesama Muslim. Beragamalah dengan ilmu, Jangan beragama dengan nafsu.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita semangat dalam beragama yang disertai ilmu, pemahaman yang benar, guru-guru yang membimbing, sanad keilmuan yang jelas, serta hati yang rendah hati dalam menerima kebenaran. Amin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo