Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Wasiat penting yang harus senantiasa disampaikan oleh khatib dalam khutbahnya adalah seruan untuk menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita kuatkan iman dan takwa kita kepada Allah terlebih di era digital saat ini di mana manusia modern mulai banyak yang berpikir rasional saja dan mulai kendur untuk mengimani sesuatu yang ghaib.
Terlebih saat ini, teknologi dengan gampang bisa membentuk opini masyarakat dengan berbagai konten informasinya. Jika tidak selektif dalam memilah dan memilih informasi, bisa jadi masyarakat memiliki opini dan pendapat yang salah dan menghantarkannya semakin jauh dengan nilai-nilai agama.
Dengan kondisi ini, maka penting untuk memperkuat dakwah digital. Jika dulu dakwah lebih banyak bergema dari mimbar-mimbar masjid, majelis taklim, atau forum keagamaan secara langsung, kini pesan dakwah harus berkembang melalui layar seperti televisi, gawai/ HP, laptop, hingga platform media sosial.
Inilah yang disebut sebagai transformasi dakwah dari mimbar ke layar, sebuah pergeseran metode penyampaian risalah Islam yang menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup masyarakat modern. Tentunya upaya ini dilakukan dengan senantiasa mempertahankan metode yang telah diwariskan para ulama sesuai dengan prinsip:
المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالجَدِيْدِ الأَصْلَحِ
Artinya: “Memelihara (menjaga) hal lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik”. Atau dengan istilah lain yakni: merawat tradisi merespon globalisasi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di masa Rasulullah, dakwah dilakukan secara langsung dengan pendekatan personal dan keteladanan. Para sahabat meneruskan metode ini dengan mendatangi berbagai daerah, mengajarkan Al-Qur’an, dan menanamkan nilai-nilai Islam melalui perjumpaan tatap muka. Namun, seiring kemajuan teknologi komunikasi, dakwah tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.
Kini seorang dai dapat berdakwah kepada jutaan orang tanpa harus meninggalkan rumahnya, cukup dengan satu rekaman video, satu unggahan status, atau satu siaran langsung di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dakwah adalah aktivitas yang fleksibel dan adaptif. Islam sebagai agama yang universal tidak kaku terhadap kemajuan zaman, selama substansi dan nilai dakwah tetap berpegang pada kebenaran.
Justru, perkembangan teknologi menjadi peluang besar bagi umat Islam untuk memperluas jangkauan dakwah. Seorang dai digital kini bisa menjadi influencer kebaikan yang menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah hiruk pikuk dunia maya. Kebaikan tersebut pastilah akan mendatangkan pahala bagi pendakwah itu sendiri dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda:
مَن دَعا إلى هُدًى، كانَ له مِنَ الأجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَن تَبِعَهُ، لا يَنْقُصُ ذلكَ مِن أُجُورِهِمْ شيئًا، ومَن دَعا إلى ضَلالَةٍ، كانَ عليه مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثامِ مَن تَبِعَهُ، لا يَنْقُصُ ذلكَ مِن آثامِهِمْ شيئًا.
Artinya: “Siapa pun yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, siapa pun yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Imam Muslim)
Namun, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Transformasi dakwah dari mimbar ke layar juga membawa tantangan. Salah satunya adalah pergeseran otoritas keagamaan. Di dunia digital, siapa pun dapat berbicara tentang agama tanpa filter keilmuan yang jelas. Akibatnya, muncul dai instan yang lebih mengandalkan popularitas daripada kapasitas.
Di sinilah pentingnya etika dakwah digital yakni kejujuran, keilmuan, dan tanggung jawab moral yang harus menjadi pondasi setiap penyebaran pesan Islam. Setiap penyebaran ajaran agama tanpa ilmu yang benar adalah perbuatan yang sangat berbahaya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra' ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Nabi juga telah mengingatkan:
فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ
Artinya: “Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.” (HR. Thabrani)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Selain itu, dakwah di layar menuntut kemampuan komunikasi yang kreatif dan kontekstual. Penyampaian harus dikemas dengan bahasa yang menarik, visual yang indah, dan narasi yang menyentuh hati, tanpa kehilangan substansi keilmuan.
Misalnya, video pendek tentang akhlak, podcast kajian ringan, atau tulisan reflektif di media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai Islam. Dakwah tidak harus kaku dan panjang lebar. Yang terpenting adalah pesan kebaikan tersampaikan dan menggerakkan hati audiens untuk berubah menjadi lebih baik.
Dalam konteks ini, para pendakwah perlu memahami bahwa layar adalah “mimbar baru” yang memiliki karakteristik berbeda. Jika mimbar masjid memerlukan kehadiran fisik dan suara lantang, maka mimbar digital menuntut narasi yang relevan, visual yang kuat, dan interaksi yang hangat. Nilai dakwah tetap sama, tetapi caranya harus menyesuaikan dengan dunia digital yang cepat, dinamis, dan penuh distraksi.
Transformasi dakwah dari mimbar ke layar bukan sekadar perubahan media, tetapi juga perubahan paradigma. Dakwah tidak lagi terbatas pada siapa yang berdiri di atas mimbar, melainkan setiap muslim yang memiliki akses ke layar dan niat tulus untuk menyebarkan kebaikan.
Dalam dunia yang serba digital ini, setiap klik, komentar, dan unggahan dapat menjadi ladang pahala jika digunakan untuk mengajak kepada kebaikan. Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ
Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. “
Mari kita jadikan layar sebagai sarana dakwah yang penuh hikmah. Bukan hanya alat hiburan, tetapi juga jalan untuk menebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia. Karena pada akhirnya, esensi dakwah bukan terletak pada di mana ia disampaikan, tetapi pada seberapa besar ia mampu mengubah hati dan perilaku orang lain menuju ridha Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua Bidang Humas Data dan Informasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Provinsi Lampung.
Editor: Muhammad Faizin


