Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Mengawali khutbah Jumat ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan umumnya kepada seluruh jamaah untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa merupakan kompas yang akan mengarahkan kita untuk melewati jalan yang benar dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Takwa dari segi bahasa memiliki arti “memelihara” atau “menghindari”. Para ulama banyak yang mendefisinikan takwa sebagai:
امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلَانِيَّةً ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Yakni melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya baik dalam keadaan sepi maupun ramai, lahir dan juga batin.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Di era digital saat ini, kita menyaksikan fenomena baru dalam beragama, yakni munculnya kesalehan digital, yang sering kali tidak berbanding lurus dengan kesalehan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial menjadi ruang publik yang penuh dengan ungkapan-ungkapan Islami, nasihat, kutipan Al-Qur’an dan Hadits, serta ajakan kepada kebaikan.
Namun, ironisnya, tidak sedikit dari para pengunggah konten tersebut justru tidak mencerminkan pesan kebaikan itu dalam perilaku keseharian mereka. Apa yang tampak secara online, belum tentu mencerminkan diri yang sesungguhnya.
Fenomena ini banyak dipengaruhi oleh kemudahan akses informasi keagamaan secara instan melalui internet. Tak bisa dipungkiri, internet memang menjadi ladang ilmu yang luas, tetapi juga dapat menyesatkan bila tidak disaring dengan ilmu dan bimbingan yang benar.
Banyak orang yang belajar agama hanya dari potongan video pendek, kutipan status, atau ceramah viral, tanpa bimbingan guru dan tanpa pemahaman yang mendalam. Akibatnya, keberagamaan yang dibangun bersifat permukaan, tak menyentuh hati, dan tak membentuk akhlak.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian orang justru menjadikan kesalehan digital sebagai sarana pencitraan. Mereka tampil seolah-olah saleh di depan publik maya, namun dalam kehidupan nyata tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang sejati. Perilaku semacam ini tak ubahnya ciri-ciri kemunafikan yang pernah diperingatkan Rasulullah SAW, sebagaimana dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:
آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat). "
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketiga tanda ini kini sering ditemukan dalam kehidupan sebagian orang yang gencar menunjukkan religiusitas secara digital, namun lalai dalam menepati janji, mudah menyebarkan informasi yang tidak benar, dan tidak bisa dipercaya ketika memegang amanat.
Lebih parah lagi, fenomena semangat beragama yang tidak dilandasi ilmu ini membuat sebagian orang merasa dirinya paling benar dan menilai orang lain salah. Amalan-amalan ulama dan kaum salih terdahulu yang penuh hikmah dan toleransi dianggap bid’ah atau sesat, hanya karena tidak cocok dengan apa yang mereka pelajari secara sepihak di internet. Keangkuhan spiritual ini menjelma dalam bentuk penghakiman dan celaan kepada orang yang berbeda pandangan.
Padahal, Islam mengajarkan agar ilmu mendahului amal. Ilmu yang benar akan menumbuhkan sikap rendah hati (tawadhu’), kasih sayang, dan rasa tanggung jawab, bukan sikap merasa paling benar dan mudah mencaci. Kesalehan sejati adalah yang berakar dari hati, tampak dalam perilaku, dan bukan sekadar ditampilkan dalam status digital.
Sudah saatnya kita kembali menata niat dan memperkuat fondasi keagamaan. Belajar agama tidak cukup dengan klik dan scroll. Dibutuhkan kehadiran guru, ketekunan dalam belajar, dan akhlak yang mulia. Mari jadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan panggung kepura-puraan dengan mengatakan apa yang tidak dilakukan.
Hal ini sangat dibenci oleh Allah sebagaimana termaktub dalam QS Ash-Shaff: 3
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: “Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya saleh di dunia maya, tetapi juga saleh dalam kehidupan nyata—menjadi pribadi yang jujur, amanah, istiqamah, benar-benar selaras antara perkataan dan perbuatan, dan senantiasa menebar kebaikan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung.
Editor: Muhammad Faizin


