Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat: Hari Santri dan Jihad Berantas Kebodohan

Khutbah Jumat: Hari Santri dan Jihad Berantas Kebodohan

Khutbah I

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:  مَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوْا كَافَّةً  فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِيْ الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, 

Marilah kita awali khutbah ini dengan memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas segala rahmat dan limpahan karunia-Nya yang tiada henti. Nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan yang kita miliki hari ini merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai harganya.

Dalam mengawali khutbah pada hari Jumat yang penuh berkah ini, khatib berpesan agar kita senantiasa menguatkan iman dan takwa kita dengan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT. Rasulullah bersabda: 

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ 

Artinya: “Bertakwalah kalian kepada Allah SWT di manapun berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut bisa menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (H.R. At-Tirmidzi)

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, 

Setiap tahunnya, pada tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri sebagai bentuk penghormatan atas peran penting para santri dalam perjuangan kemerdekaan, salah satunya melalui Resolusi Jihad. Hari Santri tahun 2024 kali ini mengusung tema: “Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan” yang bertujuan mengajak kita untuk melanjutkan perjuangan para kiai dalam membela agama dan bangsa.

Dalam pidatonya saat memimpin apel peringatan Hari Santri di Tugu Proklamasi, Jakarta. Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa perjuangan para kiai dalam membela agama dan bangsa merupakan warisan luhur yang harus diteruskan oleh para santri serta generasi muda.

Jika pada zaman dahulu perjuangan dilakukan melalui jalur fisik, seperti pada peristiwa Resolusi Jihad, maka di era kini, para santri dituntut untuk berjuang dengan cara yang lebih relevan yaitu dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua ini dilakukan untuk melawan segala bentuk kebodohan dan kemunduran yang dapat mengancam agama dan bangsa.

Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِيْ الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ 

Artinya: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Perjuangan untuk meraih kemerdekaan tidak hanya terbatas pada peperangan fisik semata. Perjuangan intelektual melalui pengembangan ilmu pengetahuan juga sangatlah penting. Sebab, hakikat kemerdekaan tidak hanya membebaskan masyarakat dari penjajahan fisik semata, melainkan juga membebaskan mereka dari belenggu kebodohan yang dapat menghambat kemajuan bangsa.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, 

Secara bahasa, jihad berasal dari kata jahd yang berarti berusaha dengan sungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuan. Dalam konteks yang lebih luas, makna jihad tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik melawan musuh belaka, namun juga mencakup upaya melawan godaan setan dan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.

Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam hadits:

 رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ 

Artinya: “Kita pulang dari pertempuran yang kecil menuju pertempuran yang besar.” (H.R. Ad-Dailami) 

Meski begitu, jihad bukan hanya melulu berarti peperangan. Jihad mencakup segala bentuk usaha keras untuk kebaikan, seperti mendakwahkan Islam, berdiskusi mencari kebenaran, berkarya untuk umat, dan melawan ketidakadilan. Mufasir terkemuka, Imam Al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma’ani menuturkan:

وَيُسْتَدَلُّ بِالْآيَةِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَأْثُوْرِ عَلَى عَظْمِ جِهَادِ الْعُلَمَاءِ لِأَعْدَاءِ الدِّينِ بِمَا يُوْرِدُوْنَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْأَدِلَّةِ

Artinya: “Dan ayat ini dapat dijadikan dalil terhadap cara yang telah disebutkan, perihal agungnya jihad para ulama dalam memerangi musuh-musuh agama, yaitu dengan cara menyampaikan argumen-argumen yang mereka kemukakan.” 

Jihad dalam Islam semata-mata merupakan wasilah (perantara) untuk mencapai tujuan utama, yakni memberikan hidayah (petunjuk) bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, metode penyampaian ilmu seperti berdakwah dan mengembangkan ilmu pengetahuan jauh lebih efektif dan dianjurkan dibandingkan dengan peperangan.

Syekh Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menyebutkan dalam kitabnya Hasyiyah ‘Ianatut Thalibin:

وَوُجُوْبُ الْجِهَادِ وُجُوْبُ الْوَسَائِلِ لَا الْمَقَاصِدِ إِذِ الْمَقْصُوْدُ بِالْقِتَالِ إِنَّمَا هُوَ الْهِدَايَةِ وَمَا سِوَاهَا مِنَ الشَّهَادَةِ وَأَمَّا قَتْلُ الْكُفَّارِ فَلَيْسَ بِمَقْصُوْدٍ حَتَّى لَوْ أَمْكَنَ الْهِدَايَةِ بِإِقَامَةِ الدَّلِيْلِ بِغَيْرِ جِهَادٍ كَانَ أَوْلَى مِنَ الْجِهَادِ 

Artinya: “Kewajiban jihad adalah wasilah bukan tujuan, karena tujuan perang aslinya adalah untuk memberikan petunjuk kebenaran. Dengan begitu, maka membunuh orang-orang kafir bukanlah tujuan yang sebenarnya, sehingga seandainya hidayah bisa disampaikan dan dihasilkan dengan cara menunjukan dalil-dalil tanpa adanya peperangan, maka hal ini lebih utama daripada berperang.”

Oleh karena itu, menifestasi jihad santri di masa kini ialah dengan menyebarluaskan ilmu agama yang diperolehnya untuk mencerdaskan masyarakat dan membentengi mereka dari pengaruh ideologi yang menyimpang. Sebagaimana tentara dibekali keterampilan militer, santri juga harus dibekali ilmu agama yang mendalam di bawah bimbingan para kiai.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, 

Menutup khutbah ini, Khatib ingin menyampaikan pesan bahwa peringatan Hari Santri bukan hanya sebatas seremonial belaka, melainkan juga harus dimaknai sebagai momentum untuk meneruskan perjuangan para pendahulu kita. Kita harus turut serta dalam upaya memajukan agama dan bangsa Indonesia melalui berbagai cara, di antaranya ialah dengan terus belajar untuk memerangi dan memberantas kebodohan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan atas perjuangan kita. Amin Ya Rabbal Alamin.

وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِيْ الْمُهْتَدُوْنَ: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: مَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً  فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّيْنِ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمُ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo