Khutbah I
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ عَطَاؤُهُ قِسَمٌ, وَصُنْعُهُ حِكَمٌ, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ مَنْ نَصَحَ وَأَعْدَلِ مَنْ حَكَمْ, سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الأَوَّلِيْنَ وَالأَخِرِيْنَ العَرَبِيِّ وَالعَجَمِ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يُكْتَبُ مَحَاسِنُهُمْ فِيْ السُّطُوْرِ وَالأَقْلَامِ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمُتَّصِفُ بِالبَقَاءِ وَالقِدَامِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِجَمِيْعِ العَالَمِ. اَللَّهُمَّ صَل ِّوَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ نَهَجُوْا بِمَنْهَجِهِ القِوَامِ.أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ الْمُذْنِبَةِ بِتَقْوَى اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا لَنَآ اَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰىنَا سُبُلَنَاۗ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَآ اٰذَيْتُمُوْنَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Sudah menjadi suatu kewajiban bagi khathib mengingatkan kepada para jamaah khususnya diri khatib sendiri untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan juga selalu meningkatkan rasa pasrah kita kepada Allah SWT atas segala rencana yang kita rencanakan dengan matang sebagai bentuk penghambaan kita kepada-Nya. Kita juga harus selalu mengingat dan menyadari bahwa Allah-lah yang menentukan bagaimana hasil dari segala apa yang telah kita rencanakan.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari mengatakan dalam Hikam-nya sebagai berikut:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنْ التَّدْبِيْرِ, فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَاتَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
Artinya: "Tenangkanlah dirimu dari mengatur, karena sesuatu yang telah diurus oleh selainmu (yakni oleh Allah) maka kamu tidak akan bisa mengurus untuk dirimu sendiri."
Tadbir secara etimologi adalah mempertimbangkan segala sesuatu dan juga konsekuensinya. Sedangkan secara terminologi adalah sebagaimana menurut Syekh Zarruq bahwa tadbir adalah sebuah pertimbangan terhadap segala urusan tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari terkait hal-hal yang tidak diinginkan atau hal yang diinginkan dengan kendali pribadi tidak dengan pasrah kepada Allah SWT.
Tadbir atau perencanaan dibagi menjadi tiga menurut Syekh Ibnu Ajibah al-Hasani, yaitu madzmumah, mathlubah dan mubahah. Pertama disebut dengan madzmumah karena dinilai terlalu minus etika kepada Allah dan terlalu memberatkan diri sendiri, yaitu perencanaan dengan penuh keteguhan dan tekad kuat baik urusan duniawi atau ukhrawi tanpa disertai dengan rasa pasrah diri kepada Allah atas segala hasil yang akan didapatkan. Ini adalah yang dimaksud oleh Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari dalam kalam hikmahnya tersebut.
Kedua, disebut dengan mathlubah karena disebut juga dengan niat yang baik yakni perencanaan terhadap segala hal yang wajib dilakukan dari sekian ibadah wajib, dan segala hal yang sunnah dari sekian ketaatan disertai dengan pasrah terhadap kehendak Allah dan sadar akan potensi diri sendiri.
Ketiga, disebut dengan mubahah karena boleh untuk dilakukan yaitu perencanaan terkait urusan duniawi disertai dengan pasrah diri kepada Allah atas segala hasil yang akan didapatkan dan dengan sadar diri atas kemampuan dan potensi diri sendiri untuk mendapatkannya.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Terkadang kita melupakan peran kehendak Allah atas segala rencana yang kita tetapkan demi memenuhi ambisi diri untuk mendapatkan sesuatu yang kita tuju dan kita inginkan. Meskipun itu adalah urusan yang berkaitan dengan agama dan sosial kemasyarakatan. Padahal semestinya sebagai seorang hamba yang tahu diri bahwa dia hanya bagaikan wayang di hadapan dalangnya, dia tentunya harus pasrah diri akan segala hasil dari rencananya sesuai dengan kehendak Allah.
Sematang apapun rencana yang kita susun, belum tentu hasilnya akan sesuai dengan espektasi yang telah kita tetapkan meskipun telah melewati pengujian dengan matrik analisis yang mendalam.
Syekh Maimoen Zubair sering mengatakan terkait hal itu sebagai berikut:
أَنَا أُرِيْدُ وَأَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ
Artinya: "Aku berkeinginan, kamu berkeinginan, tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki."
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hajj ayat 14:
اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ
Artinya: "Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki."
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Bukan berarti hal ini merupakan larangan bagi seorang manusia untuk merencanakan setiap tujuan dalam hidupnya baik urusan duniawi atau ukhrawi. Akan tetapi hal ini menekankan kepada kita semua sebagai manusia yang berakal dan juga bertuhan bahwa sama sekali tidak patut jika kita melupakan peran Allah dalam menentukan segala hasil dari pencapaian kita.
Peran logika dalam kehidupan kita salah satunya adalah untuk berfikir, berencana, akan tetapi terasa akan membuang tenaga jika kita terlalu ambisi dengan akal kita saja tanpa menyertakan rasa pasrah kepada Allah. Jika saja kita menyertakan keduanya maka perencanaan itu akan sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut:
التَّدْبِيْرُ نِصْفُ المعيشةِ
Artinya: "Perencanaan adalah sebagian dari kehidupan."
Terkadang kita terlalu memfungsikan logika tanpa spiritualitas sehingga ketika hasil yang kita dapatkan tidak sesuai dengan perencanaan, kita akan menyalahkan rencana yang telah kita susun dari awal. Padahal kita sendiri belum tentu mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan, dan tentunya terdapat sebuah hikmah besar di balik semua yang telah ditakdirkan oleh Allah kepada kita meskipun terkadang takdir itu tidak kita sukai.
Allah SWT berfiman dalam al-Baqarah ayat 216
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: "Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Jika kia dari awal sudah sadar akan peran takdir dan kehendak Allah, kita tidak akan susah payah untuk menuruti sisi ambisius dalam diri kita yang kadang menyebabkan akan menghalalkan segala cara. Bahkan kita tidak akan kecewa terhadap hasil yang telah ditentukan oleh Allah atas segala perencanaan yang telah kita lakukan.
Kita menyadari akan seberapa porsi yang kita dapatkan dan kita menerima hal itu atas dasar anugerah yang telah ditentukan oleh Allah tanpa sama sekali mempertanyakan mengapa Allah mentakdir kita mendapatkan hal itu, karena dari awal kita sudah menyertakan rasa pasrah kepada-Nya atas segala hasil yang akan kita dapatkan.
Semoga kita bisa menjadi seorang manusia yang bisa selalu mengaktifkan logika dan spiritualitas kita dalam setiap perencanaan akan tujuan hidup kita, agar kita menjadi manusia yang berusaha, berikhtiar, dan juga bertawakkal dan berserah diri kepada Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ﷲ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
واعلموا أِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَهُمْ يَعْدِلُوْنَ, أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيْ, وَعَنْ السِّتَّةِ الْمُتَّمِّمِيْنَ لِعَشْرَةِ الكِرَامِ وَعَنْ سَائِرِ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنْ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Editor: Muhammad Faizin


