Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat: Algoritma, Dunia Maya, dan Moderasi Beragama

Khutbah Jumat: Algoritma, Dunia Maya, dan Moderasi Beragama

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، وَالْمُوَفِّقُ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ:  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Menjadi keharusan bagi kita untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana kita menjaga hati, pikiran, ucapan, dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih saat ini, kita hidup di zaman yang luar biasa. Dulu, jika kita ingin mencari ilmu agama, kita datang ke masjid, madrasah, pesantren, atau bertemu langsung dengan guru kita. Namun saat ini, kita bisa mengakses berbagai ilmu agama dalam bentuk ceramah, ayat Al-Qur'an, hadis, fatwa, dan pendapat keagamaan hanya menggunakan handphone.

Perubahan dunia ini menjadi satu persoalan yang perlu kita renungkan. Jangan-jangan teknologi yang seharusnya membuka jendela pengetahuan justru membuat jendela kita semakin sempit. 

Mengapa? Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Semua karena adanya algoritma internet di dunia maya. Algoritma muncul dari apa yang kita lihat, apa yang kita sukai, apa yang kita bagikan, dan apa yang sering kita tonton. Ketika kita sering menonton satu jenis konten video misalnya, maka kita akan disuguhi konten yang semakin mirip dan akan terus menonton video serupa. Lama-lama hampir semua yang muncul di layar kita adalah pandangan yang sama. Dan akhirnya kita berpikir, “Ternyata ini yang benar dan semua orang berpikir seperti ini.”

Padahal semua ini belum tentu. Bisa jadi kita hanya sedang berada di dalam ruang gema yakni sebuah ruang digital yang terus mengulang pandangan yang sama sampai kita merasa itulah satu-satunya kebenaran. Hal ini pun menjadi sangat serius ketika algoritma masuk ke wilayah pemahaman agama.

Kita bisa saja menjadi orang yang setiap hari mendengar ceramah, tetapi wawasan keagamaannya justru semakin sempit. Kita bisa menjadi orang yang banyak membaca dalil, tetapi semakin mudah menyalahkan orang lain. Kita bisa menjadi orang yang merasa paling memahami agama, tetapi semakin sulit menghargai perbedaan. Inilah yang harus kita waspadai akibat jebakan algoritma yang mengungkung kita.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Isra ayat 36 :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya: “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Oleh karena itu kita harus memahami bahwa apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, dan apa yang kita masukkan ke dalam hati semuanya memiliki konsekuensi. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang banyak ditonton itu benar. Tidak semua yang berbicara dengan suara keras memiliki ilmu yang luas. Tidak semua potongan video adalah gambaran utuh sebuah persoalan agama. Dan tidak semua kutipan berbahasa Arab otomatis merupakan dalil yang dapat dijadikan pegangan.

Karena itu, tabayyun menjadi sangat penting. Jangan langsung percaya. Jangan langsung menyebarkan. Jangan langsung menghakimi. Cari sumbernya. Lihat konteksnya. Tanyakan kepada guru yang memiliki ilmu.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam mengajarkan kita untuk menjadi umat yang wasathiyah atau moderat, umat yang berada di tengah, umat yang adil dan seimbang. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Artinya: “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.”

Untuk menjadi moderat di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita harus melakukan berbagai upaya di antaranya adalah dengan memperluas sumber belajar. Jangan hanya mengikuti satu akun. Jangan hanya mendengar satu orang. Jangan hanya membaca sumber yang selalu membenarkan pendapat kita.

Belajarlah dari guru. Baca kitab. Baca buku. Dengarkan kajian yang beragam. Kenali tradisi keilmuan Islam yang luas. Dengan begitu, maka kita akan memahami bahwa khazanah Islam jauh lebih luas daripada apa yang muncul di beranda media sosial kita.

Selanjutnya, jangan jadikan media sosial sebagai satu-satunya guru agama. Media sosial adalah alat. Media bisa menjadi sarana dakwah. Media bisa menjadi sarana belajar. Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah digantikan oleh layar, yaitu guru, adab, sanad keilmuan, dialog, dan keteladanan. Ada kalanya kita perlu mematikan layar dan datang kepada guru. Duduk di majelis ilmu. Bertanya. Berdiskusi. Dan belajar dengan rendah hati.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada satu hal lagi yang sangat penting. Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada akal dan hati kita. Begitu melihat judul, langsung share. Begitu melihat potongan video, langsung percaya. Begitu menemukan pendapat yang berbeda, langsung mencaci.

Padahal Islam mengajarkan kita untuk berpikir, memeriksa, dan menjaga akhlak. Kita harus menjadi pengguna teknologi, bukan korban teknologi. Kita boleh menggunakan media sosial, tetapi jangan sampai media sosial yang menentukan cara kita memahami agama. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai algoritma menentukan siapa yang harus kita benci. Kita boleh memiliki pendirian, tetapi jangan sampai pendirian membuat kita kehilangan persaudaraan.

Hadirin rahimakumullah,

Melepaskan diri dari jebakan algoritma bukan berarti meninggalkan dunia digital. Kita tetap bisa menggunakan internet dan media sosial. Kita tetap berdakwah melalui teknologi. Tetapi kita harus memiliki kendali jangan sampai terkungkung oleh algoritma.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita ilmu yang luas, hati yang lapang, pikiran yang jernih, serta kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan sekadar apa yang ramai di media sosial. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ummatan wasathan, umat yang moderat, adil, seimbang, dan mampu menghadirkan Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh kehidupan.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَفَهْمًا وَاسِعًا، وَأَخْلَاقًا حَسَنَةً.

Ya Allah, berikanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, pemahaman yang luas, dan akhlak yang baik. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ، مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H. Muhammad Faizin, Ketua Bidang Humas Data dan Informasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Provinsi Lampung.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo