Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat: Krisis Moral Akibat Zina Mata dan Tindakan Asusila

Khutbah Jumat: Krisis Moral Akibat Zina Mata dan Tindakan Asusila

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِغَضِّ الْأَبْصَارِ، وَنَهَى عَنِ الْفَوَاحِشِ وَالْفَسَادِ، وَدَعَانَا إِلَى الْعِفَّةِ وَالطَّهَارَةِ، وَحَذَّرَنَا مِنَ الزِّنَا وَمُقَدِّمَاتِهِ، وَجَعَلَ مَنْ تَعَفَّفَ كَمَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنتُوبُ إِلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَسَيِّدُ الأَطْهَارِ، أَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَفْضَلَ الزَّادِ تَقْوَى اللَّهِ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ : قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT dengan ucapan “alhamdulillah” atas segala nikmat yang telah diberikan. Salah satu nikmat terbesar adalah kesempatan untuk masih bisa melangkahkan kaki ke masjid, menunaikan sholat Jumat, serta diberi waktu dan ruang untuk bertobat. Sebab, betapa banyak saudara kita yang pekan lalu masih duduk di samping kita, namun hari ini mereka telah kembali menghadap Allah SWT.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta seluruh umatnya yang setia mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah,

Akhir-akhir ini, jagat media sosial dipenuhi dengan berbagai berita viral yang mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap krisis moral yang semakin memprihatinkan. Ironisnya, krisis ini justru terjadi pada orang-orang yang seharusnya menjaga amanah dan menjadi teladan bagi masyarakat.

Kita dikejutkan oleh maraknya kasus pelecehan seksual, tindakan asusila, bahkan hingga pemerkosaan. Lebih menyedihkan lagi, pelaku tindakan keji ini bukan orang biasa, tetapi mereka yang selama ini dihormati dan dipercaya: pejabat, dokter, guru, serta tokoh masyarakat lainnya.

Fenomena ini tidak hanya menimbulkan ketakutan, tetapi juga mengikis kepercayaan masyarakat terhadap profesi-profesi tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 30:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

Artinya: ”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat.”

Ayat ini adalah sumber dari semua perlindungan kehormatan dalam Islam. Menjaga pandangan adalah langkah pertama agar tidak tergelincir pada kejahatan yang lebih besar. Ketika pandangan dibiarkan liar, hati menjadi kotor, lalu perbuatan maksiat pun mengikuti.

Menjaga pandangan, terutama di era digital seperti sekarang, merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Teknologi modern memungkinkan kita melihat lawan jenis atau berbagai konten yang memancing syahwat, meskipun tanpa bertemu secara langsung.

Perintah menjaga pandangan tidak boleh dimaknai secara sempit hanya sebatas menundukkan mata dari melihat fisik seseorang secara langsung. Makna ini dapat diperluas, yakni mencakup segala bentuk pandangan yang dapat menjerumuskan hati dan membangkitkan nafsu syahwat, baik melalui layar ponsel, media sosial, film, maupun gambar yang tersebar di dunia maya.

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah,

Selain menjaga pandangan, Islam juga menganjurkan untuk meredam gejolak syahwat dengan berpuasa. Ibadah puasa ini sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang belum memiliki pasangan, karena belum dapat menyalurkan hasratnya melalui cara yang halal.

Puasa dapat menjadi benteng yang kuat dalam menjaga diri dari perbuatan maksiat. Ketika seseorang lapar dan menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa, maka dorongan syahwat pun akan melemah. 

مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: ”Barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah. Karena pernikahan itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi pengekang nafsu baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah,

Untuk mengatasi krisis moral yang semakin memprihatinkan, khususnya maraknya tindakan asusila dan pelecehan seksual, ada beberapa langkah penting yang bisa kita lakukan bersama:

Pertama, tanamkan rasa takut kepada Allah SWT sejak usia dini kepada anak-anak kita. Ajarkan mereka nilai-nilai adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penting juga memberikan pendidikan seksual yang sesuai usia, agar mereka memahami batas-batas interaksi dengan lawan jenis dan dapat menjaga diri dari hal-hal yang merusak kehormatan.

Kedua, perkuat sistem pengawasan di lingkungan tengah masyarakat. Jangan biarkan ruang-ruang gelap dan tersembunyi menjadi tempat berkembangnya perbuatan keji. Setiap bentuk interaksi di tempat tertutup harus diawasi dan diatur secara ketat.

Ketiga, dorong penegakan hukum yang adil dan tegas. Para pelaku kejahatan seksual harus dihukum dengan seberat-beratnya sesuai aturan yang berlaku, tanpa pandang bulu, agar menimbulkan efek jera dan menjadi pelajaran bagi masyarakat.

Keempat, bangun lingkungan sosial yang aman, sehat, dan saling menjaga. Jadilah pelindung bagi perempuan dan anak-anak, bukan malah menjadi ancaman bagi mereka. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang hidup yang menghargai martabat dan keselamatan bersama.

Semoga Allah membersihkan negeri ini dari maksiat, menyelamatkan generasi kita dari kehancuran moral, dan menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang menjaga amanah

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيآتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرْ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, إِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنْ. وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَاتِ وَخُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَةِ قُدْسِهِ, فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا. إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفآءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلآءَ وَالْوَبآءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلْدَتِنَا هَذِهِ خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِىْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبُ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزُّ وَأَجَلُّ وَأَكْبَرُ


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo