Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Idul Fitri: Nilai Moderasi Beragama dalam Ibadah Puasa

Khutbah Idul Fitri: Nilai Moderasi Beragama dalam Ibadah Puasa

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ، اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى في القران الكريم وهو اصدق القائلين: قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ . قَالَ اللّٰهُ اِنِّيْ مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَاِنِّيْٓ اُعَذِّبُهٗ عَذَابًا لَّآ اُعَذِّبُهٗٓ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ 

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Puji dan syukur, mari kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Rahman. Berkat hidayah dan inayah-Nya, kita telah mampu melaksanakan jihad akbar, memerangi setan dan hawa nafsu di medan ibadah Ramadhan. Dengan izin-Nya pula, kita berhasil mengumandangkan “proklamasi kemenangan”, yang dibuktikan dengan lantunan takbir, tahmid dan tasbih di hari yang fitri ini. Shalawat serta salam semoga Allah limpahkan sepenuhnya kepada Junjungan kita, Nabi Muhammad saw yang telah mengorbankan segenap usia, daya dan upaya, demi kebahagiaan umatnya di dunia dan di akhirat.

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Ramadhan yang penuh hikmah dan berkah telah berlalu meninggalkan kita. Namun kita berdoa, agar hikmah dan berkah Ramadhan tidak berlalu begitu saja dari jiwa kita, tanpa meninggalkan pesan dan kesan religius. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk orang yang disabdakan Rasulullah dari Abu Hurairah: 

ربَّ صائمٍ ليسَ لَه من صيامِه إلّا الجوعُ وربَّ قائمٍ ليسَ لَه من قيامِه إلّا السَّهرُ . صحيح ابن ماجه ١٣٨٠ • أخرجه النسائي في «السنن الكبرى» (٣٢٤٩) 

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada (yang diperoleh) dari puasanya selain rasa lapar, dan banyak orang yang Qiyamullail (di bulan Ramadan) namun tidak ada (yang diperloleh) dari Qiyamullailnya selain hanya bangun di tengah malam” (HR. Ibnu Majah nomor 1380, dan juga dikeluarkan oleh An-Nasai nomor 3249). 

Salah satu hikmah puasa Ramadhan yang penting kita implementasikan dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara adalah bahwa puasa dapat memupuk rasa keberaagamaan kita selaku Muslim, yang dalam bahasa Kementerian Agama disebut dengan Moderasi Beragama. Istilah ini dimaknai sebagai sebagai “cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama”.

Karakter dogmatik setiap agama adalah eksklusif, tetapi watak ini perlu dipraktikkan secara inklusif ketika berhadapan dengan agama lain. Inilah jalan tengah dalam praktik beragama. Dengan ini, yang dimoderasi adalah praktik dan cara beragamanya, bukan agamanya, karena agama itu sendiri sudah moderat, sebagaimana ditegaskan oleh Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 143.

Dalam konteks Indonesia, praktik dan cara beragama seperti ini merupakan strategi kebudayaan dalam rangka merawat keindonesiaan, yang sangat heterogen, multikultur, multilingual, multietnik, serta multireliji. Para pendiri bangsa, sejak awal secara sadar, telah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila dalam bingkai NKRI.

Indonesia disepakati bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. Nilai-nilai agama dijaga, dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal, sehingga ritual agama dan budaya dapat berjalin berkelindan secara rukun dan damai. 

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Praktik kehidupan beragama secara moderat ditengarai memiliki banyak indikasi. Kementerian Agama dalam hal ini telah membuat empat karakter cara beragama yang moderat, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Komitmen kebangsaan merupakan indikator yang sangat penting untuk melihat sejauh mana cara pandang, sikap, dan praktik beragama seseorang berdampak pada kesetiaannya terhadap konsensus dasar kebangsaan. Rasulullah merupakan figur yang mencintai tanah kelahirannya, dan tanah tempat pengabdiannya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas: 

أنَّ النبيَّ ﷺ نَظَرَ إلى مَكَّةَ، فقال: إنَّكِ لَأحَبُّ أرضِ اللهِ إلى اللهِ، ولولا أنَّ قومِي أخْرَجونِي منكِ ما خرَجْتُ . أخرجه الترمذي (٣٦٢٩)، وابن حبان (٣٧٠٩)، والطبراني (١٠٦٣٣) 

Artinya: "Bahwa Rasulullah (pada saat berhijrah meninggalkan Makkah), Beliau memandang kota Makkah, dan bersabda: “Sesungguhnya Engkau, Makkah, merupakan tanah (kelahiran) yang paling Allah cintai. Sekiranya kaumku tidak mengelurakanku darimu, niscaya aku tidak keluar (meninggalkanmu)”. (Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzi nomor 3629, Ibnu Hibban nomor 3709 dan Al-Thabrani nomor 10633).

Puasa Ramadhan yang telah kita lalui mengajarkan kita untuk selalu mencintai tanah air dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi, sebagaimana rasa cinta tanah air yang dimiliki Rasulullah terhadap kota kelahiran-Nya, Makkah.

Secara ilmu fikih, setiap kita berbuka, maka yang kita tunggu adalah waktu berbuka sesuai tempat kita berada. Tidak mungkin ketika kita berada di Indonesia, tapi berbukanya mengikuti waktu berbuka di negara lain. Demikian pula dengan waktu imsak dan waktu-waktu ibadah salat. Inilah salah satu bentuk contoh rasa cinta tanah air dan kebangsaan, yang dipupuk melalui ibadah puasa.    

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Toleransi juga merupakan indikasi moderasi beragama yang perlu kita jaga. Toleransi merupakan sikap untuk memberi ruang, dan tidak mengganggu hak orang lain, untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, serta menyampaikan pen-dapatnya, meskipun hal tersebut berbeda dengan apa yang kita yakini. Toleransi selalu disertai dengan sikap hormat dan menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari diri kita, dan berpikir secara positif akan perbedaan yang ada.

Cara beragama secara toleran merupakan di antara ajaran Islam dalam rangka melakukan interaksi sosial dengan umat beragama lainnya. Ayat terakhir QS. Al-Kafirun jelas sekali mengajarkan kita agar beragama secara toleran. 

Toleransi yang berjalan selama ini perlu dirawat secara bersama, sebagai bagian dari tradisi cara beragama bangsa Indonesia, yang tidak ditemukan di negara lain. Puasa Ramadan tentu saja mengajarkan kita untuk sedia menerima hal-hal yang berbeda (the willingness to “put up with” those things one rejects or opposes).

Bagaimana tidak, sejak penentuan awal Ramadan, ormas-ormas Islam di Indonesia sudah memiliki pandangan berbeda. Pun hitungan rakaat sholat Tarawih di Indonesia dilaksanakan secara berbeda-beda. Ada yang dua puluh rakaat, ada juga yang delapan rakaat. Semua ini kita terima sebagai urusan khilafiyyah yang tidak perlu dibesar-besarkan, dan bahkan menjadi titik tumbuh bagi penguatan toleransi di Indonesia.   

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Watak moderasi beragama berikutnya adalah tidak melakukan kekerasan, baik kekerasan verbal ataupun non-verbal. Agama apapun di dunia ini tidak mentolerir kekerasan. Kekerasan adalah tindakan dehumanisasi yang menurunkan derajat dan martabat manusia itu sendiri. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran atau hadits yang memerintahkan kita untuk berkata lembut (qaulan layyina [QS. Thaha: 44]) dan perilaku penuh damai [QS. Al-Furqan: 63).

Bahkan Rasulullah telah memberikan karakter orang Mukmin dengan sabda-Nya: 

ليسَ المؤمنُ بالطَّعّانِ ولا اللَّعّانِ ولا الفاحشِ ولا البَذيءِ أخرجه الترمذي (١٩٧٧) وأحمد (٣٨٣٩) 

Artinya: “Seorang Mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berperilaku keji dan suka berkata kasar” (Hadis dikeluarkan oleh At-Tirmidzi nomor 1977 dan Ahmad nomor 3839).

Esensi puasa Ramadan bukan hanya sekadar menahan diri dari lapar dan dahaga, tapi juga menahan diri dan menghindari dari segala perkataan dan perbuatan buruk. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: 

مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ. صحيح البخاري ١٩٠٣ 

Artinya: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh akan rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari nomor 1903).

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Indikator terakhir moderasi beragama adalah akomodatif terhadap budaya lokal. Perjumpaan antara agama, khususnya Islam, dengan budaya, memang kerap mengundang perdebatan yang cukup panjang. Islam sebagai agama tentu bersumber dari wahyu, yang setelah nabi wafat wahyu ini sudah tidak turun lagi.

Sementara itu, budaya adalah hasil kreasi manusia yang dapat berubah sesuai kebutuhan hidup manusia. Di titik ini, kerap terjadi pertentangan, antara paham keagamaan, terutama keislaman, dengan tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.

Dalam Islam, peleraian ketegangan antara keduanya, dijembatani oleh Ilmu Fikih dan Ushul Fikih. Sejumlah kaidah telah dirumuskan oleh para ulama fikih dan ushul fikih, misalnya kaidah العادةُ مُحكّمةٌ (adat kebiasaan yang baik bisa dijadikan sumber hukum), لايُنكرُ تغيّرُ الأحكامِ بتغيّرِ الأزمانِ (tidak ditolak terjadinya perubahan hukum karena perubahan zaman), الثابتُ بالعُرفِ كالثابتِ بالنصِّ (yang tetap melalui ‘Urf sama seperti yang tetap melalui nas), dan sebagainya. Kaidah-kaidah ini dibuat berdasarkan hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Katsir, hasan mauquf oleh al-Zarqani, dan sanad yang baik oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani. 

ما رآه المسلمون حسنًا فهو عند اللهِ حسنٌ

Artinya: “Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslim maka baik juga di sisi Allah”

Dalam konteks Islam Indonesia, penyesuaian ajaran agama dengan tradisi dan budaya masyarakat Indonesia, yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, menjadi ciri khas keberislaman masyarakat Indonesia. Sejarah mencatat bahwa tradisi lokal telah dijadikan sarana dakwah Islam, sehingga proses dakwah Islam di Nusantara dapat dilakukan sebagai peaceful missionary efforts (usaha dakwah yang damai).

Dalam Babad Demak misalnya dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga telah menggunakan alat seperti beduk dan kentongan dalam setiap membangun masjid atau langgar. Upaya mengokohkan Islam dalam budaya lokal ini dilakukan agar tidak terjadi keterputusan masyarakat dengan masa lalunya. Sikap keagamaan yang moderat akan selalu mengakomodasi tradisi dan budaya yang baik. Pandangan bahwa agama menjadi musuh budaya, atau sebaliknya budaya menjadi musuh agama, tidak sesuai dengan watak moderasi beragama, karena antara agama dan budaya sejatinya dapat saling menguatkan, dan ini sejalan dengan konsepsi Islam di atas. 

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Disebutkan dalam Ensiklopedi Islam Nusantara: Edisi Budaya, terdapat beberapa tradisi dan budaya yang dilakukan masyarakat Musim Indonesia pada saat atau menjelang ibadah puasa Ramadan. Di Banten terdapat tradisi Rampak Bedug, yaitu memukul bedug secara bersamaan pada saat awal Ramadan dan menjelang Idul Fitri.  Ela-ela di Ternate, yaitu ibadah menyambut malam 27 Ramadan. Di beberapa wilayah Nusantara terdapat tradisi Khataman atau Takhtiman, yaitu upacara selesai membaca al-Qur’an. Tradisi Kupatan atau Lebaran Kupat di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu tradisi silaturahmi makan ketupat secara bersama setelah selesai mengerjakan puasa enam hari setelah puasa Ramadan, dengan empat maknanya, yaitu lebaran, luberan, leburan dan laburan. Juga terdapat beberapa tradisi lain di berbagai daerah di Indonesia, seperti malam likuran, lampu cangkok, mandi belimau, nyadran, munggahan, dan sebagainya. Tradisi dan budaya yang baik ini diakomodasi oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari sikap keberagamaan yang moderat. 

Hadirin, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Empat sikap, pandangan dan cara hidup beragama yang moderat di atas senantiasa dikuatkan oleh momen puasa Ramadan. Nilai-nilai kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan dan akomodasi terhadap budaya lokal dapat ditumbuhkuatkan melalui ibadah puasa Ramadan, karena puasa Ramadan itu sendiri adalah جُنَّةٌ. Rasulullah melalui Abu Hurairah bersabda:

الصِّيامُ جُنَّةٌ   أخرجه البخاري (١٩٠٤)، ومسلم (١١٥١) . 

Artinya: "Puasa adalah benteng" (HR. Bukhari nomor 1904 dan Muslim Nomor 1151). 

Yaitu bahwa puasa akan menjadi pelindung, yang akan melindungi pelakunya di dunia dan juga di akhirat. 

وِقايةٌ وحِصنٌ حَصينٌ مِن المَعاصي والآثامِ في الدُّنيا، ومِن النَّارِ في الآخِرةِ . 

Di dunia, puasa akan menjadi benteng dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara, dan di akhirat, puasa akan menjadi pelindung bagi pelakunya untuk bebas dari api neraka. Semoga momen Ramadan tahun ini menjadi sarana bagi kita untuk tetap menjadi Muslim yang memiliki sikap dan pandangan keagamaan yang moderat. 

بارك الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ اَلْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وزجَر وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّا دْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ بِحَقِّ الفَاتِحَةِ وَسِرِّ الفَاتِحَةِ، يَا فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَمِّ، يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ، وَيَا دَافِعَ البَلَاءِ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ، وَيَا دَافِعَ البَلَاءِ يَا اللهُ يَا رَحِيْمُ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَا وَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ.

Prof. Toto Suharto, Rektor dan Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta, dan Wakil Rais PCNU Sukoharjo. 


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo