Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebagai muqaddimah dari khutbah ini, mari kita senantiasa menguatkan dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan terus menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Takwa ibarat rambu-rambu jalan yang senantiasa mengarahkan kita. Dengan takwa kita akan selalu berada di jalan yang benar dan bisa selamat sampai dengan tujuan akhir kita.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan kali ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk melakukan refleksi dan mengambil pelajaran hidup dari benda yang sering kita gunakan namun jarang kita perhatikan. Benda yang senantiasa setia menemani kita dalam perjalanan ke berbagai tempat. Benda itu adalah sandal jepit.
Kita ketahui, sandal jepit banyak dipakai oleh siapapun tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Ia banyak digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari menemani ke Masjid sampai dengan ke WC. Namun yang ingin kita perlu perhatikan pada kali ini adalah sandal jepit yang digunakan oleh kiai di pesantren yang menemani beliau-beliau dalam perjuangan membentuk karakter dan keilmuan santri di pesantren.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Bagi santri, benda sederhana itu bukan sekadar alas kaki, melainkan simbol kehidupan yang penuh makna. Dari sandal itulah, banyak santri belajar tentang keikhlasan, kesederhanaan, dan kerendahan hati, dan penghormatan kepada ilmu. Nilai-nilai yang kadang hilang dalam hiruk-pikuk dunia modern saat ini.
Dalam tradisi pesantren, kita sering lihat para santri memperbaiki posisi sandal di depan pintu agar yang memakai nantinya bisa dengan mudah memasukkan kakinya ke sandal, khususnya sandal kiai dan ustad-ustadznya.
Sandal kiai mengajarkan pesan yang tidak perlu selalu disampaikan lewat lisan. Ia menjadi representasi nyata dari ajaran akhlak yang dijalankan secara konsisten. Di tengah gempuran budaya pamer dan hedonisme, keteladanan sederhana seperti ini justru menjadi oase yang menyejukkan dan meneguhkan makna hidup yang sesungguhnya. Bukan untuk mengkultuskan sandal atau kiainya, namun sebagai penghormatan kepada ilmu-ilmun yang dimilikinya.
Dalam tradisi pesantren, kiai bukan hanya sosok guru yang mentransfer ilmu, tetapi juga panutan dalam laku hidup. Sandalnya yang sederhana dan kadang dibiarkan tergeletak adalah cerminan kerendahan hati. Sebuah sikap yang kini mulai langka.
Kerendahan hati kiai mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari apa yang dikenakan, melainkan dari apa yang ditanamkan di hati. Kiai tidak butuh pengakuan duniawi, sebab kemuliaannya hadir dari keikhlasan dalam mendidik dan membimbing umat. Dalam konteks sosial yang semakin materialistik, simbol seperti sandal kiai menjadi penegasan bahwa kebesaran seseorang justru tampak dari kesediaannya menapaki jalan kesahajaan dan derajat seseorang pun dinilai Allah dari keilmuannya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Mujadilah ayat 11:
رْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Sandal selalu berada di bawah, diinjak setiap hari, dan tetap sabar menunaikan fungsinya tanpa mengeluh. Inilah filosofi hidup yang sering dijadikan perenungan oleh para santri, bagaimana menjadi manusia yang siap menanggung beban dan bertanggung jawab, tetap bermanfaat, dan tidak mencari posisi di atas orang lain.
Sandal kiai adalah metafora tentang laku tawadhu’, merendahkan diri tanpa kehilangan kehormatan. Ia menjadi pengingat bahwa setiap manusia sejatinya adalah pelayan kebaikan, bukan penguasa atas yang lain. Dalam setiap langkah kiai dengan sandalnya, tersirat pesan tentang keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak. Itulah hakikat pendidikan pesantren, membentuk manusia yang kuat dalam iman, lembut dalam hati, dan kokoh dalam prinsip.
Rasulullah bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Thabrani)
Dalam budaya akademik modern, penghormatan kepada kiai atau guru kadang dianggap ketinggalan zaman. Namun, pesantren membuktikan bahwa ilmu yang berkah tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak, tetapi juga oleh adab dan keikhlasan hati. Sandal kiai menjadi simbol etika belajar, bahwa ilmu sejati menuntut kerendahan diri, bukan kesombongan intelektual.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Mengapa penting belajar dari sandal kiai di era modern ini? Karena masyarakat kini tengah mengalami krisis keteladanan. Media sosial seringkali menampilkan figur yang dielu-elukan karena gaya hidup, bukan karena nilai hidup. Di tengah krisis itu, sosok kiai hadir sebagai antitesis dari budaya pamer.
Sandal kiai mengajarkan bahwa menjadi mulia tidak harus ditandai dengan simbol kemewahan. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, dan kesabaran justru menjadi fondasi peradaban yang kokoh. Jika para santri, pelajar, bahkan pejabat mampu memetik hikmah dari kesahajaan ini, maka bangsa akan tumbuh dengan karakter kuat. Bukan hanya pintar, tetapi juga beradab.
Sandal kiai mungkin tidak pernah masuk berita utama, tetapi dari sanalah lahir ribuan santri yang menebar ilmu dan kebaikan. Ia menjadi saksi perjalanan spiritual yang sunyi namun penuh makna. Dari sandal kiai kita belajar tentang keikhlasan bekerja tanpa pamrih, tentang pentingnya rendah hati di tengah godaan duniawi, dan tentang kemuliaan yang tidak perlu diumumkan.
Dalam kehidupan yang serba cepat dan kompetitif, kita membutuhkan lebih banyak “sandal kiai” dalam diri kita yakni kesederhanaan yang mengajarkan keikhlasan, dan kerendahan hati yang melahirkan kebijaksanaan. Sebab di ujungnya, yang abadi bukanlah jabatan atau gelar, melainkan jejak langkah yang ditinggalkan untuk kebaikan sesama.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Editor: Muhammad Faizin


