Proses Pemilu terus berjalan. Setelah pemungutan suara, saat ini sedang dilakukan proses rekapitulasi mulai dari tingkat TPS sampai dengan nasional. Khutbah Jumat ini mengajak kepada masyarakat untuk melakukan refleksi dan nantinya menaati keputusan yang telah diambil oleh penyelenggara untuk kemaslahatan bersama.
***
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِيَّةِ القَوِيَّةْ, وَأَكْرَمَنَا بِكَرَامَةِ الدِّيْنِ الْإِسْلَامِيَّةِ الْكَرِيْمَةْ, وَأَوْحَدَنَا فِي أُخْوَةِ الوَطَنِيَّةِ الِإنْدُوْنِسِيَّةْ, اَلَّتِيْ قَدْ جَعَلَهَا اللهُ بَلْدَةً طَيِّبَةً بِكَثْرَةِ الأُمَّةِ الإِسْلَامِيَّةْ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الوَرَىْ شَجِيَّةْ, وَعَلَى آلِهِ المُطَّهِّرِيْنَ مِنْ دَنَسِ الِإيْمَانِيَّةْ, وَأَصْحَابِهِ المُهْتَدِيْنَ بِهِدَايَةِ الرَّحْمَانِيَّةْ .أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . أَمَّا بَعْدُ, يَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ,أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ اَلْمُذْنِبَةْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ, وَأَوْحَدَكُمْ فِيْ بَلْدَةٍ قَوِيَّةٍ مُجْتَمَعَةٍ مِنْ مُتَنَوِّعَاتِ الْأَقْوَامْ. قَالَ تَعَالَى وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِه اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِه لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah
Pemilihan presiden dan wakil presiden telah dilaksanakan pada 14 Februari 2024 lalu. Berbagai dinamika terjadi mewarnai perhelatan pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Di antaranya perbedaan pendapat tentang hasil yang diperoleh dari Quick Count dan juga proses rekapitulasi suara oleh penyelenggara KPU. Saling adu argumen yang mengarah kepada saling serang terlebih di media sosial mewarnai perhelatan ini. Bukan hanya saat ini, namun juga mulai dari proses awal penyelenggaraan Pemilu.
Seperti yang kita ketahui sebelumnya, penjadwalan kampanye terbuka menepati pada bulan Rajab yang seharusnya menjadi sebuah refleksi untuk saling berdamai dan tidak menyerang satu sama lain mengingat bulan Rajab dalam Islam dan tradisi Arab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan (Asyhurul Hurum) dengan melakukan genjatan senjata dan berbagai ritual peribadatan lainnya.
Jika saling serang dan tidak puas terkait Pemilu terus berlangsung, maka tentu hal ini akan berdampak negatif. Mau sampai kapan silang pendapat yang jika dibiarkan akan mengarah kepada disintegrasi bangsa? Sementara Indonesia adalah negara yang beragam yang disatukan atas nama Negara Republik Indonesia.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Praktik pemilihan pemimpin yang dilakukan di Indonesia memang tidak sebagaimana yang berlaku dalam sejarah Islam. Pemilihan Presiden sendiri tidak tercatat secara de jure dalam literatur keislaman klasik yang dijadikan rujukan hukum fiqih.
Akan tetapi pada dasarnya mengangkat pemimpin adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim untuk mengatur urusan umat Islam baik dalam tatanan kenegaraan dan keagamaan, oleh karena itu banyak para pakar hukum Islam yang mengharamkan golput atau tidak berpartisipasi terhadap pemilihan umum tanpa udzur.
Menaati dan menerima hasil kontestasi pemilu juga adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim Indonesia meskipun mereka tidak dipilih sebagaimana cara pemilihan pemimpin yang sesuai dengan syariat Islam. Bahkan Nabi memberikan perumpamaan jika saja pemimpin itu merupakan seorang budak maka tetap harus ditaati sebagaimana dalam hadits berikut :
عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ والطَّاعةِ وَإِنْ تُأَمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ
Artinya: “Wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyah” (HR. Ahmad.).
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Perumpamaan itu menegaskan bahwa kewajiban mentaati pemimpin yang terpilih adalah sebuah keniscayaan meskipun kita mengetahui bahwa dalam fiqih Islam, salah satu syarat menjadi pemimpin adalah harus merdeka. Hal ini didasarkan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas negara dan masyarakat Muslim sendiri, jika saja masih ada pertikaian sebab tidak bisa menerima hasil pilihan rakyat, maka hal itu sangat mengganggu terhadap kepentingan negara dan umat beragama.
Sebagaimana menurut al-Syinqithi dalam Adwa’ul Bayan bahwa jika saja seorang budak mengkudeta pemerintahan dan memenangkan peperangan, maka setiap Muslim wajib mentaatinya sebagai pemimpin agar tidak terjadi pertumpahan darah yang berkepanjangan dan menghentikan gejolak pemerintahan selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.
Ibnu Hajar al-Asqalani juga menegaskan dalam Fathul Bari Syarh Sahih Bukhari bahwa para pakar fiqih sepakat tentang kewajiban mentaati pimpinan yang menang dan tidak melakukan kudeta dan pemberontakan agar tidak terjadi pertumpahan darah dan menstabilkan negara dan masyarakat.
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Pimpinan yang memenangkan kontestasi pemilu tentunya wajib ditaati oleh setiap Muslim yang menjadi masyarakat sah Negara Republik Indonesia sebagai wujud mentaati Ulil Amri yang diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Nisa ayat 56 sebagai berikut :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat)."
Ketaatan kepada pimpinan tertinggi atau dalam negara kita diistilahkan dengan Presiden adalah wajib dengan catatan tidak berbau maksiat dan bertentangan dengan syariat sebagaimana Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari sebagai berikut:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
Artinya: "Seorang Muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat." (HR. Bukhari no. 7144).
Ma’asyiral Muslimin sidang Jumat rahimakumullah
Oleh karena itu, alangkah baiknya bagi masyarakat khususnya masyarakat Muslim untuk tidak terlalu masuk dalam silang sengketa para elit politik yang masih bertarung dalam kontestasi politik agar tidak terjadi polarisasi sebagaimana yang pernah terjadi.
Cukup mereka yang masih tidak bisa menerima hasil pemilu yang mengajukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi karena menganggap pertarungan masih belum selesai dan masyarakat hendaknya hanya menunggu hasil resmi dan sah dari KPU tanpa menghujat masyarakat lain yang berbeda pilihan dan tidak memantik perdebatan di antara mereka.
Siapapun yang terpilih, dia adalah pemimpin yang sah untuk Negara ini baik bagi masyarakat yang mendukungnya atau bahkan bagi masyarakat yang tidak mendukungnya. Karena kontestasi Pemilu hanya untuk 5 tahun sekali sedangkan persaudaraan dan persatuan bangsa dan Negara serta kemaslahatan adalah harus dipertahankan sampai akhir hayat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْن
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْاَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ دَعَانَا بِحُبِّ الْبِلَادِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَ لِلْعَالَمِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللٰهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتْ, اَللّٰهُمَّ إِكْشِفْ عَنَّا البَلَاء وَالْوَبَاء وَالغَلَاء وَالفَحْشَاء وَالزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَالتَّفَرُّقَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزُّ وَأَجَلُّ وَ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Editor: Muhammad Faizin


