Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ٢٦ اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Menjadi keniscayaan bagi kita untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan kepada kita semua, sehingga pada kesempatan ini kita dapat berkumpul dalam majelis yang insyaAllah penuh keberkahan ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, dan kita semua sebagai umatnya hingga akhir zaman.
Selain rasa syukur pada kesempatan ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, hidup kita akan terarah, tenang, dan penuh keberkahan.
Hadirin yang berbahagia,
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada dua hal yang tampak mirip namun sangat berbeda. Hal tersebut adalah kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi demi kelangsungan hidup dan ibadah kita kepada Allah.
Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang muncul dari dorongan hawa nafsu, yang jika tidak terpenuhi tidak akan membahayakan hidup kita, namun sering kali justru mengganggu ketenangan hati.
Allah SWT telah mengingatkan kita agar tidak mengikuti hawa nafsu secara berlebihan. Karena hawa nafsu yang tidak dikendalikan akan membawa kita pada sikap berlebih-lebihan atau israf.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Lebih khusus berlebih-lebihan dalam makan, minum, dan berpakaian dan gaya hidup yang memaksakan. Ini menjadi peringatan bagi kita bahwa tidak semua yang kita inginkan itu baik untuk kita. Karena bisa jadi itu tidak bermanfaat bagi kita dan menjadikan banyak kemubaziran.
Terlebih cara mewujudkan keinginan dan kebutuhan hidup, seperti materi, harta, atau jabatan itu dilakukan dengan cara-cara dzalim dan tidak halal. Tentu hal itu akan menjauhkan kita dari keberkahan hidup.
Allah berfirman:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ٣١
Artinya: "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS Al-A'raf: 31).
Allah juga melarang perbuatan mubazir:
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ٢٦ اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧
Artinya: "Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Rasulullah SAW sendiri telah memberikan teladan luar biasa dalam hidup sederhana. Beliau hidup dengan prinsip cukup, meskipun sebagai kekasih Allah beliau bisa saja dan memiliki kesempatan untuk hidup mewah. Teladan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta atau terpenuhinya semua keinginan, tetapi pada hati yang merasa cukup.
Rasulullah bersabda:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا. فَقُلْتُ: لَا. يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ
Artinya: “Dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: ‘Tuhanku (Allah) telah menawarkan kepada diriku, bahwa Dia ingin menjadikan padang pasir Makkah sebagai emas. Kemudian aku menjawab: Jangan, wahai Tuhanku. Tetapi, aku hanya ingin kenyang untuk sehari dan lapar sehari di hari yang lain atau semacam keduanya. Apabila aku lapar, aku akan memohon kepadamu dan mengingatmu. Begitu pun ketika aku kenyang, aku akan memujimu dan lalu bersyukur.” (HR. Tirmidzi)
Mengutamakan kebutuhan berarti kita belajar memahami apa yang benar-benar penting dalam hidup. Makan secukupnya agar kuat beribadah, bekerja untuk memenuhi tanggung jawab keluarga, serta menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, itulah kebutuhan.
Namun sering kali kita terjebak dalam keinginan. Ingin memiliki sesuatu karena orang lain memilikinya, ingin terlihat lebih dari yang lain, atau ingin memenuhi gaya hidup yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Jangan sampai kita masuk golongan orang yang dalam pepatah digambarkan sebagai: "Besar Pasak daripada Tiang" alias besar pengeluaran daripada pemasukan. Semua itu pasti menyulitkan kita sendiri.
Tanpa kita sadari, keinginan-keinginan ini bisa membuat hidup menjadi berat, bahkan menjauhkan kita dari rasa syukur. Terlebih di era sekarang, godaan keinginan semakin besar. Media sosial misalnya, sering menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Hal ini bisa membuat kita merasa kurang, padahal sebenarnya Allah sudah mencukupkan kita. Jika hati tidak dijaga, maka kita akan terus merasa kurang dan tidak pernah puas.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Islam mengajarkan kepada kita sikap qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Qana’ah bukan berarti kita tidak boleh berusaha lebih, tetapi setelah berusaha, kita menerima hasilnya dengan penuh syukur dan lapang dada. Dengan qana’ah, hidup kita akan lebih tenang, tidak mudah iri, dan tidak mudah gelisah.
Selain itu, dengan mengutamakan kebutuhan, kita juga akan lebih bijak dalam mengelola kehidupan. Dalam hal ekonomi, kita tidak mudah berhutang hanya demi memenuhi keinginan. Dalam hal waktu, kita tidak mudah terbuai dengan hal-hal yang sia-sia. Semua menjadi lebih terarah dan bernilai ibadah.
Mari kita renungkan, berapa banyak keinginan yang kita kejar selama ini, namun justru membuat hati kita lelah? Dan sebaliknya, berapa banyak kebutuhan sederhana yang ketika terpenuhi justru menghadirkan ketenangan? Di sinilah pentingnya kita belajar menata hati dan menundukkan hawa nafsu dengan mengutamakan kebutuhan daripada keinginan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Marilah kita jadikan prinsip hidup bahwa yang utama adalah kebutuhan, bukan keinginan. Karena hidup yang berkah bukanlah hidup yang dipenuhi segala keinginan, tetapi hidup yang cukup, tenang, dan diridhai oleh Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur, mampu mengendalikan diri, dan selalu mengutamakan hal-hal yang benar-benar bermanfaat dalam hidup.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


