Berdasarkan mayoritas pendapat ulama fiqih, khutbah nikah sunah dibacakan pada saat prosesi akad nikah. Pembacaan khutbah nikah ini dinilai sebagai mukaddimah atau pendahuluan sebelum memasuki acara paling inti yakni akad.
Ulama juga menyebutkan bahwa sistematika pembacaan khutbah nikah ialah dengan membaca hamdalah, istighfar, taawudz, syahadat, pembacaaan ayat Al-Qur'an, dan ditutup dengan penyampaian hajat.
Mengenai redaksi dari khutbah nikah ini, terdapat beragam versi yang beredar di masyarakat. Hal tersebut sah-sah saja asalkan tidak memuat isi khutbah yang melanggar syariat dan tetap mengikuti pakem sistematika khutbah nikah. Hal ini mengingat bahwa pada dasarnya khutbah nikah boleh dimodifikasi sesuai dengan ijtihad para pembacanya.
Meskipun demikian, akan menjadi elok terdengar jika redaksi khutbah nikah yang dibaca sama dengan redaksi yang pernah dibaca Rasulullah saat menikahkan putri kesayangan beliau, yakni Sayyidah Fatimah Az-Zahra dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib. Pernikahan itu sendiri terjadi pada tahun kedua hijriyah.
Inilah redaksi atau teks khutbah nikah Rasulullah saat pernikahan Sayyidah Fatimah Az-Zahra dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُودِ بِنِعْمَتِهِ، الْمَعْبُودِ بِقُدْرَتِهِ، الْمُطَاعِ بِسُلْطَانِهِ، الْمَرْهُوبِ مِنْ عَذَابِهِ وَسَطَوْتِهِ، النَّافِذِ أَمْرُهُ فِي أَرْضِهِ وَسَمَائِهِ، الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ بِقُدْرَتِهِ، وَسَيَّرَهُمْ بِأَحْكَامِهِ وَمَشِيئَتِهِ، وَجَعَلَ الْمُصَاهَرَةَ سَبَبًا لَاحِقًا وَأَمْرًا مُفْتَرَضًا أَوْشَجَّ أَوْ شَبَّكَ بِهِ الْأَنَامَ وَأَكْرَمَ بِهِ الْأَرْحَامَ
فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ {وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا} [الفرقان: 54] الْآيَةَ، وَلِكُلِّ قَدْرٍ أَجَلٌ، وَلِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ، يَمْحُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ، وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Alhamdulillahil mahmuudi bi ni‘matih, al-ma‘buudi bi qudratih, al-muthaa’i bi sulthaanih, al-marhuubi min ‘adzaabihi wa sathawtih, an-naafidzi amruhu fii ardhihi wa samaa’ihi, alladzi khalaqal khalqa bi qudratih, wa sayyarahum bi ahkaamihi wa masyii`atih, wa ja‘alal mushaaharata sababan laahiqan, wa amran muftaradhan, au syajja, au syabbaka bihil anaam, wa akrama bihil arhaam.
Fa qaala ‘azza min qaa`il, {wa huwal ladzii minal maa`i basyaran}, al-aayah, wa li kulli qadarin ajal, wa li kulli ajalin kitaab, yamhullahu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul kitaab.
Artinya: “Segala puji bagi Allah Tuhan yang dipuji karena kenikmatan (yang diberikan-Nya), yang disembah karena kekuasaan-Nya, yang dipatuhi karena kekuasaan-Nya, yang ditakuti karena azab dan siksaan-Nya, yang meluluskan kehendak-Nya di langit dan bumi, yang menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, yang mengatur makhluk-Nya dengan aturan dan kehendak-Nya, yang menjadikan hubungan bermenantu sebagai sebab yang berkesinambungan dan hal lazim bagi hubungan manusia yang berjejaring yang saling mengasihi sesama kerabat.
Allah Zat Maha Mulia berfirman, “Dialah zat yang menciptakan manusia dari air (sperma dan ovum). Setiap takdir ada masanya, dan setiap masa sudah tercatat. Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)”.
(Sumber: Syihabuddin Al-Qulyubi, Umairah, Hasyiyata Qulyubi wa ‘Umairah [Beirut: Dar al-Fikr, 1999), j. III, h. 216.)
Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


