Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat: Etika Mengkritik dan Pentingnya Introspeksi Diri

Khutbah Jumat: Etika Mengkritik dan Pentingnya Introspeksi Diri

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَاب. وَقَالَ: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari, termasuk dalam menjaga lisan, tulisan, dan sikap kita saat menilai maupun mengkritik orang lain. 

Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bercermin pada diri sendiri sebelum menilai orang lain, agar ucapan yang keluar dari lisan kita tidak melukai, tidak menzalimi, dan tidak menimbulkan perpecahan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, 

Di tengah kehidupan sosial dan derasnya arus informasi saat ini, banyak dari kita yang sering tergesa-gesa berkomentar dan memberi penilaian terhadap suatu persoalan tanpa memahami duduk masalah yang sebenarnya. Padahal, apa yang kita dengar, lihat, dan baca belum tentu mencerminkan keseluruhan fakta. 

Islam mengajarkan sikap kehati-hatian, tabayun, dan kedewasaan dalam menyikapi setiap persoalan. Dengan melihat kekurangan diri sendiri dan memahami persoalan secara utuh, kritik dan komentar yang kita sampaikan akan menjadi nasihat yang menyejukkan, membawa perbaikan, serta menjaga persaudaraan di antara sesama.

Rasulullah telah mengingatkan:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَـصمُـتْ   

Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam,” (HR Bukhari).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, 

Memberi kritik adalah bagian dari kehidupan sosial. Kritik sering kali dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian, nasihat, atau upaya perbaikan. Namun, kritik yang disampaikan tanpa disertai kesadaran untuk melihat diri sendiri justru dapat melukai, menyinggung, bahkan menimbulkan konflik. Penting bagi kita untuk melakukan introspeksi sebelum mengoreksi atau menilai orang lain.

Melihat diri sendiri saat memberi kritik berarti menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya sempurna. Kesadaran ini akan menumbuhkan sikap rendah hati, sehingga kritik tidak disampaikan dengan nada menghakimi, merasa paling benar, atau merendahkan pihak lain. Kritik yang lahir dari kerendahan hati akan lebih mudah diterima dan membawa dampak positif.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, 

Introspeksi juga akan membantu memastikan bahwa kritik yang disampaikan benar-benar objektif dan adil. Terkadang, seseorang terlalu mudah menunjuk kesalahan orang lain, padahal kesalahan serupa juga ada dalam dirinya. Dengan bercermin pada diri sendiri, kritik yang disampaikan akan lebih jujur dan proporsional, bukan sekadar pelampiasan emosi atau pembenaran diri.

Imam Syafi’I dalam Kitab al-Jawahir al-Lu`luiyyah mengingatkan:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُنَوِّرَ اللَّهُ قَلْبَهُ، فَلْيَتْرُكِ الْكَلَامَ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan agar Allah SWT menyinari hatinya, maka hendaknya ia berhenti membicarakan hal yang bukan urusannya,” 

Selain melihat diri sendiri, hal yang tidak kalah penting sebelum memberi komentar atau kritik pada orang lain adalah memahami duduk permasalahan yang sebenarnya. Banyak persoalan yang tampak sederhana di permukaan, tetapi memiliki latar belakang, konteks, dan dinamika yang kompleks. Berkomentar tanpa memahami persoalan secara utuh akan berisiko melahirkan penilaian yang keliru dan tidak adil.

Terlebih di era banjir informasi media sosial, potongan berita, cuplikan video, atau narasi sepihak, sering kali langsung memicu reaksi. Padahal, apa yang dibaca dan dilihat belum tentu mencerminkan keseluruhan fakta. Sikap tabayun, mencari sumber yang valid, serta memahami konteks masalah menjadi sangat penting sebelum menyampaikan pendapat.

Kritik yang disampaikan berdasarkan asumsi dan informasi yang belum terverifikasi justru dapat memperkeruh suasana. Kita tidak diperbolehkan ikut-ikut berkomentar dan terbawa informasi yang kita tidak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra': 36)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, 

Melihat diri sendiri dan memahami duduk persoalan akan menumbuhkan empati. Kita menjadi lebih berhati-hati dalam memilih kata, waktu, dan cara penyampaian. Kritik tidak lagi sekadar menunjuk kesalahan, tetapi diarahkan untuk memberi solusi dan membuka ruang dialog. Dengan demikian, kritik menjadi sarana perbaikan, bukan alat untuk menjatuhkan.

Dalam perspektif nilai moral dan keagamaan, sikap ini mencerminkan kedewasaan berpikir dan akhlak. Banyak ajaran Islam menekankan pentingnya memperbaiki diri dan memahami persoalan dengan bijak sebelum menasihati orang lain. Kritik yang disertai keteladanan dan pemahaman yang mendalam akan lebih memiliki bobot dan manfaat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, 

Kritik yang baik adalah kritik yang lahir dari niat tulus, disampaikan dengan adab, serta didasarkan pada pemahaman yang utuh terhadap masalah. Dengan melihat diri sendiri dan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, kritik tidak hanya menjadi ungkapan pendapat, tetapi juga kontribusi nyata untuk kebaikan bersama.

 بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ . اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَ مِن سَيِّئِ الأَسْقَامِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo