Pagi subuh itu, awal Februari 2024, seperti biasa Mbah Atmoredjo (76 tahun) hadir paling dini di Masjid Al Alim Dusun Munggang Gunung, Desa Cikembulan, Pekuncen, Banyumas. Usai mengumandangkan azan, lelaki sepuh itu menata diri di depan perangkat audio sederhana. Hawa subuh begitu dingin, tangannya gemetar memegang mikrofon tua. Dan perlahan, mengalunlah puji-pujian Jawa dari bibirnya, menggema dari pelantang masjid tua. Suaranya tenang, syahdu dan menghanyutkan.
Ayun-ayun badan
Badan siji dadi susahing ati
Wong ning dunya sugih dosa
Mulih akhirat dipun siksa
Duh Allah kula nyuwun ngapura
Saking kathahe dosa kawula
Sinten ingkang badhe ngapura
Allah Agung Pangeran kawula
Aja eling wong nang akhirat
Elingana mumpung nang alam dunya
Gawe dalaning suwarga
Babadana, Rancasana!
Aja dibabad kudhi cengkir
Babadana muji kelawan dikir
"Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah"
Beberapa saat kemudian, para jamaah berdatangan. Sebagian bergabung dengan Mbah Atmoredjo, menguatkan lantunan puji-pujian itu. Paduan suara para sepuh desa seperti menciptakan harmoni yang menggugah sesiapa jiwa, untuk bangkit menunaikan kewajibannya.
Bagi sebagian masyarakat Muslim di tanah Jawa, tradisi melantunkan puji-pujian masih terjaga dengan baik. Terutama di masjid dan mushala kampung yang berbasis kultural-tradisional. Sesaat setelah azan shalat fardhu dikumandangkan, puji-pujian dalam bahasa lokal dilantunkan oleh muadzin bersama-sama dengan jamaah. Sementara di perkotaan, puji pujian sudah jarang terdengar.
Makna
Isi puji-pujian berupa lantunan shalawat, dzikir dan syair sebelum pelaksanaan shalat berjamaah. Kata Puji-pujian sendiri memiliki makna bait-bait syair yang bertujuan untuk memuji Allah dan Rasul-Nya serta ajakan untuk berbuat kebaikan sesuai tuntunan agama. Untaian syair itu dilantunkan secara berirama sehingga menyerupai sebuah lagu.
Ada banyak syair atau syi’ir puji-pujian yang disesuaikan dengan waktu shalat. Untuk waktu Subuh tentu berbeda dengan puji-pujian waktu Zuhur ketika orang-orang masih bergiat di sawah atau pekerjaannya. Demikian juga waktu Asyar, Magrib serta Isya, akan berbeda irama lagu maupun isi syairnya.
Beberapa puji-pujian Jawa yang sering bergema dari masjid dan mushala antara lain: Shalawat Wulan Pasa, Syair Uripe Berkah, Syair Ayun-Ayun Badan, Sholawat Khusnul Khatimah, Sholawat Pepeling (Diazani, dikenthongi ora teka….).
Di kalangan Nahdliyin, ada syi’ir yang sangat terkenal, yakni Syi’ir Tanpo Waton, yang disusun oleh KH. Mohammad Nizam As-Shofa, pimpinan Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal Wafa, Sidoarjo pada 2004 silam. Bait-bait syi’ir ini memiliki makna yang dalam dan menyejukkan, yang mengingatkan kita pada berbagai realita kehidupan. Hingga kini Syiir Tanpo Waton sudah sangat melembaga. Di pelosok-pelosok desa, warga lebih mengenalnya sebagai Sholawat Gus Dur.
Berbagai Pesan
Arina.id berkesempatan mewawancarai budayawan Banyumas, H. Ahmad Tohari. Novelis yang kerap menukil syair puji-pujian Jawa dalam karya-karyanya ini mengungkapkan bahwasannya Islam itu berbeda-beda warnanya. Sementara puji-pujian bisa mengajarkan atau membawa pesan berbagai konten atau bidang agama Islam.
"Bagi saya, puji-pujian sangat penting, sebab bisa mengajarkan fiqih, bisa mengajarkan teologi atau ilmu agama melalui tembang yang bisa dihafal dan enak didengarkan. Seperti waktu kecil saya hapal betul puji-pujian Esih Cilik Diwulang Ngaji, atau Eling-eling Sira Menungsa," kenangnya..
Lebih dari itu, lanjutnya, puji-pujian disusun dengan bahasa yang estitik dan sastrais. Bait-bait syairnya mengandung makna mendalam, yang ditujukan kepada umat manusia agar senantiasa berada pada jalan kebenaran, Sehingga pesan bisa mengena ke dalam hati. Juga pelajaran-pelajaran fiqih kepada anak, seperti rukun wudhu bisa dihafal dengan mudah, tanpa merasa disuruh.
"Dari aspek psikologis, lantunan syair yang indah itu dapat mengondisikan suasana hati. Jadi kalau kita bisa mendalami dan mengamalkan isi puji pujian, akan sangat berguna bagi kehidupan dan generasi penerus, agar menjadi insan yang bijak dan sumeleh," harapnya.
Islam Diperkenalkan dengan Budaya
KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafik) pernah menyampaikan pada sebuah pengajian di Banjarnegara, Jawa Tengah, bahwa Islam di Nusantara sedari awal diperkenalkan menggunakan budaya. Islam masuk ke Indonesia ketika kebudayaan sudah ada. Salah satu strategi para wali saat itu, adalah tak menghilangkan budaya yang telah ada, tapi menjadikan budaya itu sebagai sarana mengajak masyarakat untuk memeluk Islam.
"Tradisi atau sifat orang Jawa itu gemar nembang, bernyanyi. Melihat mentok lewat saja terus jadi lagu: mentok, mentok, tak kandhani…. Ini yang menjadi inspirasi Walisongo dan ulama Jawa pada saat itu untuk melakukan pesan-pesan religi lewat tembang Jawa, sehingga diciptakanlah banyak lagu dan puji-pujian sebagai sarana komunikasi dan syiar agama," kata Gus Muwafik.
Menurut Gus Muwafiq, puji-pujian yang dilantunkan pada jeda waktu di antara azan dan iqamah juga menjadi pertanda bahwa sesaat lagi shalat berjamaah akan dilaksanakan, sehingga jamaah yang masih di rumah atau di luar masjid segera merapat.
"Puji-pujian juga bisa jadi pengobat rasa jemu sembari menunggu waktu shalat. Agar para jamaah tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu," imbuhnya.
Pola komunikasi dakwah para wali dan ulama Jawa sangatlah bijak, sejuk dan mengena di hati masyarakat. Bagi para wali songo dan angkatan ulama setelahnya, selama budaya tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, tidaklah menjadi persoalan. Sehingga, di berbagai daerah di Indonesia, kehidupan beragama berlangsung damai, akrab dan berjalan beriringan dengan budaya dan kearifan lokal.
Akulturasi yang damai dan antikekerasan dalam ruang sosial-budaya di Indonesia, dapat dipertemukan secara harmonis dan mengesankan. Salah satunya melalui karya para wali dan pujangga Jawa, yakni syair puji-pujian yang indah dan menggugah rasa.
Editor: Kendi Setiawan


