Sepasukan tentara di atas truk. Kepala mereka terbalut kain pagri, dan mengenakan sapatu khas yang menghasilkan suara gerak. Serdadu-serdadu yang didatangkan dari India ini dikenal sebagai pasukan Gurkha. Mereka berduyun melintasi jalanan Jakarta bersama dua tentara NICA berbaret hijau mengendarai jip berlogo bendera Inggris.
Langkah gerak cepat mereka terhenti di sebuah toko milik orang Tionghoa. Mereka penggeledah seisi toko, dan prajurit NICA itu menodongkan revolver sembari menghardik ancaman. "Belanda, pakai baju Inggris, Nederlands spreken," ujar pemilik toko tua itu.
Penggeledahan di gang-gang Jakarta berlangsung menegangkan. Jika ada yang mencurigakan, tentara Gurkha akan menyeret dan memasukkannya ke dalam truk. Potret kekerasan ini disaksikan oleh Isa (Chico Jerikho), seorang guru sekolah dasar yang terbiasa mengenakan topi fedora. Ketegangan semakin memuncak ketika desir tembakan terdengar, memicu orang-orang untuk berlari menyelamatkan diri. Pada pembabakan adengan film Perang Kota ini, istri Isa, Fatimah (Ariel Tatum), yang menggendong anak kecil turut dalam batin ketakutan.
Situasi kacau balau ini yang pada akhirnya mendorong Isa bergabung dengan gerakan bawah tanah. Di front ini, ia bertemu Hazil (Jerome Kurnia), seorang pemuda pejuang penuh semangat. Ya, ini adalah adengan-adengan kolosal yang tersusun dalam trailer film Perang Kota.
Film Perang Kota (This City Is a Battlefield) disutradarai Mouly Surya. Ide cerita mengadaptasi novel klasik karya Mochtar Lubis berjudul Jalan Tak Ada Ujung. Proyek penggarapan film ini diumumkan pertama kali pada 2018, namun sempat tertunda akibat pandemi. Sebagai hasil kolaborasi internasional, Perang Kota melibatkan sejumlah rumah produksi dari berbagai negara; Indonesia, Singapura, Belanda, Prancis, Norwegia, Filipina, dan Kamboja, serta didukung pendanaan dari Hubert Bals Fund.
Walaupun tanggal rilis resminya belum diumumkan, Cinesurya mengonfirmasi bahwa film ini akan dirilis di bioskop pada 2025. Selain itu, Perang Kota terpilih menjadi film penutup di ajang International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025, yang dijadwalkan berlangsung dari 30 Januari hingga 9 Februari 2025.
Novel Jalan Tak Ada Ujung merupakan karya kedua Mochtar Lubis. Roman berlatar di Jakarta pada pertengahan 1946 hingga 1947, ini kali pertama diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1952. Karya ini meraih penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) di tahun 1953. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.H. Johns dengan judul A Road with No End di tahun 1968.
Kegentingan di Jakarta sebenarnya tak pernah surut sekalipun Soekarno-Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan. Jakarta justru menjadi wilayah yang sangat tak aman untuk ditinggali, terlebih ketika pendudukan NICA yang membonceng Inggris.
Kondisi krusial ini menyebabkan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) meninggalkan Jakarta dan bergerak ke pinggiran kota sejak 19 November 1945. Langkah serupa diambil Presiden Soekarno, yang memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
Pembabakan-pembabakan menegangkan di Jakarta berhasil dihadirkan Mochtar Lubis dalam memoar novel. Ia mengajukan Guru Isa, seorang lulusan HIK (Hollandsch Inlandsche Kweekschool) yang memiliki kecintaan pada biola sebagai tokoh utama.
Sebagai pribadi, Guru Isa dikenal sebagai sosok yang cinta damai, menentang kekerasan, penakut, dan selalu berusaha menghindari konflik. Inilah yang membuat kekacauan dalam pandangan hidupnya. Bahkan ketakutannya itu harus ia bawa hingga tertidur.
Ketakutannya di masa pendudukan Jepang menyebabkan Guru Isa mengalami semacam psychischen yang mengakibatkan ia menjadi impoten. Guru Isa menikah dengan anak pamannya bernama Fatimah. Karena tidak bisa mendapatkan anak dari Guru Isa, ia pun mengangkat anak bernama Salim.
“Dia ingat setelah enam bulan mereka kawin. Pertama-tama kali dia tidak kuasa meladeni istrinya. Telah lama terasa padanya sebagai laki-laki berkurang. Seperti air dalam kaleng yang tiris perlahan-lahan habis, hingga akhirnya kering. Dan esok malamnya. Kembali dia tidak sanggup,” dikutip dari halaman 29.
Meskipun Guru Isa sebagai sosok cinta damai, menentang kekerasan, penakut, dan selalu berusaha menghindari konflik ia terbawa arus revolusi seperti kebanyakan orang saat itu. Di awal-awal revolusi ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di kampungnya. Karena kedudukannya sebagai seorang guru, ia sampai diangkat menjadi penasihat BKR di kampungnya.
Dua hari pasca-penembakan di Gang Ajudan, pemuda-pemuda Kebon Sirih berkumpul. Guru Isa pun diundang, sebab ia menjadi wakil ketua panitia keamanan rakyat. Di situlah ia bertemu dengan Hazil, pemuda penuh semangat yang berlainan sikap dengan dirinya. Dalam rapat tersebut Guru Isa ditunjuk sebagai kurir. Ia bertugas menyelundupkan senjata ke luar kota, dan mengirim surat-surat di seluruh area kota Jakarta. Penunjukan Guru Isa bukan tanpa sebab: ia adalah guru, tak banyak yang mencurigainya.
Sejak saat itu Hazil yang juga jago bermain biola sering berkunjung ke rumahnya. Setiap kali mendengarkan gesekan biola temannya ini, Guru Isa merasa ketakutannya sedikit mereda. Namun bencana itu tiba, Hazil menaruh ketertarikan pada Fatimah hingga akhirnya mereka terbawa hubungan tak layak.
Hubungan gelap antara Hazil dan Fatimah diketahui Guru Isa setelah ia menemukan pipa rokok milik Hazil di kamar. Kemarahan dan pertanyaan berseliweran di kepalanya, antara iya dan tidak. Akan tetapi Guru Isa tidak menanyakan hal tersebut kepada istrinya maupun sahabatnya itu.
“Dan akhirnya Guru Isa tahu, bahwa dia tidak akan pernah bisa tahu apa sebenarnya arti pipa itu di bawah bantal. Pipa itu satu lagi dalam hidupnya yang menjadi khayal menambah teror malam-malamnya sendiri dengan pikirannya dan mimpi-mimpinya,” hal 125.
Praktis setelah TKR menyingkir tidak ada perlawanan di dalam kota, Markas perjuangan di luar kota memerintahkan kepada gerakan bawah tanah melalui Hazil untuk melakukan serangan. Hazil merencanakan untuk melemparkan granat di bioskop Senen. Diajaklah Guru Isa dan Rakhmat. Guru Isa pun berusaha untuk menolak halus. Namun, setelah Hazil mengatakan bahwa yang melemparkan granat adalah dirinya dan Rakhmat, maka Guru Isa tidak bisa menolak untuk ikut.
“Jika mereka berhasil, maka Guru Isa akan terus pulang, dan menunggu hingga salah seorang diri mereka datang padanya. Jika dalam dua hari Guru Isa tidak mendapat kabar apa-apa dari mereka, maka itu artinya mereka telah tertangkap, dan dia akan melaporkan di markas di Karawang,” hal 131.
Kedua granat tangan berhasil diledakan ketika para tentara Belanda keluar dari bioskop sehabis menonton. Dua orang tergeletak dan lainnya luka-luka. Malam setelah peristiwa itu ketakutan Guru Isa semakin menjadi-jadi, gesekan dahan rasanya seperti sirine polisi militer Belanda. Tidurnya pun tak nyenyak. Ia mendengar suara anak menangis, ternyata Salim anak angkatnya yang ketakutan karena tidur dalam keadaan lampu yang gelap. Guru Isa pun tersadar bahwa setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing, seperti Salim yang di malam hari merasa takut, di siang harinya tetap masih bisa bermain, tertawa. Dan Guru Isa paham bahwa ketakutan itu harus diterima.
Seminggu kemudian ketika ia membaca koran, tertulis di berita, “Seorang dari pelempar granat tangan tertangkap”. Guru Isa pun jatuh pingsan, tiga hari dia sakit. Di hari ketiga polisi militer datang, membawanya ke kantor. Di sebuah kamar di tangsi polisi militer ia diinterogasi, Guru Isa tidak mau mengaku meskipun disiksa. Ia terbangun pada sebuah sel yang di dalamnya ternyata ada Hazil. Jadi Hazil yang memberi tahu karena tidak tahan dengan siksaan. Di dalam sel tersebut Guru Isa disiksa setiap pagi karena tidak mau mengaku dan akhirnya ia pun menerima ketakutan itu.
Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.
Editor: Muhammad Zunus


