Erina Gudono effect membuat “bau” menjadi obrolan berjamaah. Media sosial banjir perdebatan menyoal aroma. Kita tidak turut menceburkan diri ke dalam sengkarut obrolan tersebut. Kita hanya akan iseng mengingat dan memikirkan kembali persoalan “bau” yang terbingkai masa lampau, kini, dan esok.
Sejak dahulu kala, aroma selalu menemani hidup manusia. Bau mula-mula hanya berasal dari alam lalu bergerak lewat agama, sistem pemerintahan, industri, dan teknologi artifisial. Agama tumbuh diiringi aroma. Islam lekat dengan misk dalam setiap ibadah. Narwastu dipercayai lekat dengan aroma Yesus. Asap dupa menghidupi ibadah umat Konghucu dan Hindu. Aroma gaharu menemani ibadah umat Budha. Agama ternyata berbau. Bau itu yang turut mengantarkan manusia untuk mencapai yang transenden.
Bau juga menentukan kemajuan suatu peradaban. Dalam film Perfume: The Story of a Murder (2006) garapan Tom Tykwer, kita dihadapkan dua kota yang bertolak belakang. Sejarah Paris berbau ikan, bangkai, kotoran dan aroma busuk lainnya. Itu sejalan dengan keadaan masyarakat yang belum memiliki peradaban dan acuan moral. Grasse, sebuah kota yang digambarkan maju, berperadaban tinggi dipenuhi dengan wewangian. Kedua kota dibedakan lewat aroma.
Wajah pemerintahan juga ditandai dengan bau. Dalam sejarah Indonesia, Orde Baru mengoleksi banyak aroma. Ronggeng Dukuh Paruk (1982) gubahan Ahmad Tohari menggambarkan peralihan bau di desa Dukuh Paruk. Mula-mula, desa itu beraroma padi, pepohonan, dan tanah, lalu berubah menjadi asap pembakaran dan mayat-mayat busuk. Tahun 1965, menjadi kumpulan aroma paling mengerikan, orang-orang dirampas haknya tanpa peradilan atau pembelaan.
Menuju era reformasi, Indonesia kembali dipenuhi bau. Darah, asap, mesiu, dan jasad memenuhi jalanan dan sudut-sudut daerah. Laut Bercerita (2017), novel garapan Leila Chudori membuat pembaca seolah mencium luka dan tetesan darah para mahasiswa yang menjadi korban kekejaman penguasa: “Bau asin laut kembali menusuk cuping hidungku…angin laut terasa menyelip di antara pori-pori kain karung yang menyelimuti mukaku yang penuh darah dan luka… ” Penggalan kalimat menggambarkan kehidupan terakhir mahasiswa bernama Laut Biru. Ia menghadapi ajalnya di depan laut. Bau membuat ia sadar, nyawanya hanya tinggal menunggu hitungan menit.
Pasca reformasi, tepatnya hari kemerdekaan ke-79, Indonesia kembali menguapkan aroma menyengat. Okky Madasari, dalam Jawa Pos (17/8/2024) bertajuk Kentut Kemerdekaan menyebutnya sebagai bau kolonial. Bau yang berasal dari kebijakan yang menindas, sistem yang tidak adil, kecurangan dan manipulasi, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bau dipercayai terasa paling menyengat ketika hiruk pikuk pilpres hingga pilkada 2024.
Bau juga menentukan standar kehidupan ekonomi. Orang kaya tidak diperkenankan bau keringat, mereka melumuri tubuhnya dengan parfum jutaan rupiah. Orang miskin harus berpuas dengan bau keringat.
Saat ini, bau memenuhi aktivitas manusia. Era industri mengkondisikan manusia hanya bisa menerima aroma wangi dan instan. Kita dibuat tidak lagi bisa menerima aroma lain. Orang-orang berlindung pada aroma artifisial.
Sejak bangun hingga akan tidur, manusia beraktivitas ditemani aroma. Sabun yang digunakan mempertimbangkan keharuman. Baju yang dicuci diberi pewangi, lalu ketika menyetrika juga menuntut bau wangi. Sebelum berpergian, parfum wajib tergunakan. Dalam mobil, tergantung pengharum, perjalanan ditemani wewangian. Tiba di kantor, ruangan juga memiliki wangi. Manusia sepanjang hidup bersama aroma. Bau membuat kita harus banyak berpikir dan mengeluarkan banyak uang.
Apa yang akan terjadi jika bumi tanpa bau? Meskipun pertanyaan ini terdengar janggal, cobalah untuk memikirkannya. Apakah semasa bayi kita tetap bisa mengenali tubuh ibu tanpa bau keringatnya? Apakah kita terus bisa mengingat kenangan bersama orang lain tanpa aroma tubuhnya?
Barangkali, dunia akan terasa hambar. Aroma adalah umpan paling ampuh untuk memancing ingatan. Menurut Avery Gilbert, pakar aroma, dalam buku Ilmu Penciuman (2017) mengungkapkan bahwa aroma akan lebih membantu kita dalam mengingat ketimbang penglihatan dan suara.
Dalam novel bertajuk Rumah Perawan (2016) garapan Yasunari Kawabata, dikisahkan kekuatan bau dalam memicu ingatan. Diceritakan seorang Eguchi mencium bau susu dari tubuh di hadapannya. Aroma itu seketika membuatnya teringat anak perempuan dan cucu-cucunya: “…ia dapat membayangkan kini di depannya, ketiga anak perempuannya sudah bersuami dan punya anak. Dan dia belum lagi lupa bagaimana waktu mereka berbau air susu dan bagaimana ia memangku anak-anak perempuannya waktu mereka masih bayi dan menyusu.” Bau memunculkan ingatan yang jelas dan cepat, bahkan yang terjauh.
Namun, penciuman kita saat ini bermasalah. Praktik-praktik wewangian industri menyumbat kepekaan kita pada aroma natural. Kita mulai sulit mencium bau yang alami. Masalah itu berimbas menjadi rasa tak peduli pada kemampuan mencium aroma.
Erina Gudono effect menarik beribu mulut berbicara persoalan bau, seolah-olah penciuman kita masih utuh. Padahal, kepekaan kita pada bau mendekati batas sekarat.
Kesanggupan kita mencium yang alami, hingga mencium kebenaran dan keadilan, mendekati detik-detik akhir. Terlalu banyak industrialisasi memenuhi ruang-ruang hidup, terlalu banyak manipulasi memenuhi ruang pemerintahan. Kondisi itu melahirkan ketidakpekaan penciuman kita untuk menghirup bau yang tersirat maupun tersurat.
Editor: Kendi Setiawan


