Dark
Light
Dark
Light

Menikmati Malam Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Menikmati Malam Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Momentum pergantian tahun selalu membawa kesan tersendiri. Aneka peristiwa dalam setahun melintas, berkelebat bak rol film dokumentasi diri. Sementara di depan telah menanti garis waktu yang baru yang masih misteri.

Perayaan tahun baru menjadi ritual tahunan bagi hampir seluruh warga dunia. Pada malam terakhir tanggal 31 Desember hingga 1 Januari dini hari itu, orang-orang larut untuk bersuka, berkumpul dengan sirkel maupun khalayak ramai, menyaksikan pertunjukan musik hingga pesta kembang api yang menghiasi langit malam. Desing kembang api, hitung mundur pergantian tahun, dan sorak sorai massa menjadi penanda jamak, bahwa waktu terus bergerak maju. 

Ragam perayaan Tahun Baru di Tanah Air
Di Indonesia, perayaan tahun baru berlangsung dengan cara yang sangat beragam, mencerminkan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya.

Di Jakarta, misalnya, malam pergantian tahun identik dengan pesta rakyat berskala besar. Panggung hiburan didirikan di berbagai titik kumpul massa. Artis dan penyanyi papan atas melantunkan musiknya, menghibur ribuan orang berkumpul. Dan tepat tengah malam, kembang api menyala serentak. berdentum-dentum menerangi langit ibu kota dengan aneka warna.

Sementara itu di Bali, malam tahun baru dirayakan dengan nuansa pesta pantai dan hiburan berskala internasional. Hotel dan beach club menggelar acara musik, DJ performance, juga pesta semalam suntuk.

Berbeda lagi dengan Yogyakarta, yang menggabungkan tradisi dan modernitas. Selain konser musik dan pesta rakyat di Malioboro, sebagian masyarakat justru mengikuti tirakatan atau doa bersama. Meski demikian, kembang api tetap menjadi simbol kemeriahan yang dinanti banyak orang.

Tahun Baru tanpa kembang api
Suasana berbeda tampak di Banjarnegara, Jawa Tengah. Alih-alih merayakan tahun baru dengan kembang api, ribuan masyarakat justru larut dalam gema solawatan dan semaian doa bersama pada 31 Desember 2025 di alun-alun kota.

Menurut H Wakhid Jumali, Lc (Gus Wakhid), Wakil Bupati Banjarnegara, pilihan ini bukan tanpa alasan. Kata dia, pergantian tahun adalah momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, bukan sekadar euforia sesaat. Sholawatan adalah bentuk rasa syukur atas waktu yang telah dilalui, sekaligus doa agar tahun baru akan dipenuhi keberkahan, keselamatan, dan ketenangan.

"Tahun 2025 kemarin kita baru saja diuji oleh bencana yang terjadi di Dusun Situkung Pandanarum. Demikian juga, Bangsa Indonesia masih berduka atas bencana Aceh dan Sumatra. Untuk itu ada baiknya kita banyak bermuhasabah diri untuk menghadapi tahun baru," kata Gus Wakhid.

Selain itu, lanjut Gus Wakhid, tidak adanya kembang api juga mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan. Malam tahun baru menjadi lebih aman dan.

"Kita semua juga sedang melakukan efisiensi. Anggaran kembang api juga tidak sedikit, bisa untuk melayani kebutuhan masyarakat yang lebih prioritas," imbuhnya.

Tak hanya Banjarnegara, sejumlah daerah terdekatnya seperti Wonosobo, Purbalingga dan Banyumas, perayaan malam tahun baru juga tanpa kembang api. Tentunya ada juga sebagian masyarakat yang kecewa dengan tidak adanya nyala kembang api dan pesta musik yang biasanya selalu meriah.

Untunglah, di Purbalingga dua hari sebelumnya tampil dua band papan atas Indonesia, Vierratale dan D’Masiv dalam rangka memeriahkan peringatan hari jadi kabupaten itu, yang menyedot animo masyarakat khususnya kalangan muda. 

Vito, seorang warga Karangreja Purbalingga mengungkapkan sudut pandangnya yang sederhana.

“Saya ini orang awam, bukan anak sultan juga. Merayakan tahun baru setahun sekali itu wajar. Saya tidak punya hiburan mewah. Jadi tiap tahun pasti ikut turun ke alun-alun, bermacet ria, joged dan nyanyi bersama. Itulah nikmatnya, mumpung masih muda," ujarnya.

Muhasabah lebih utama
Sejumlah ulama memandang bahwa umat Islam seharusnya lebih mengutamakan perayaan Tahun Baru Islam sebagai momentum spiritual. Namun demikian, perayaan tahun baru Masehi tidak serta-merta diharamkan.

DR Muchlish, tokoh lokal sekaligus Ketua ICMI Banjarnegara menjelaskan bahwa hukum merayakan tahun baru pada dasarnya boleh, selama tidak dilakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti mengandung unsur kemaksiatan, hura-hura berlebihan, mabuk-mabukan, atau perbuatan yang melalaikan kewajiban.

"Hiburan tahun baru adalah ruang kebahagiaan bagi warga, sarana melepas penat setelah setahun bekerja keras," kata dia.

Masyarakat akan selalu merindukan, dengan atau tanpa kembang api. "Karena cahaya terang di awal tahun bukanlah kilau kembang api, tapi hati yang terang dan tenang, karena menemukan arah," ujar DR Muchlish.

Selamat Tahun Baru 2026. Semoga ridho dan keberkahan-Nya menaungi kita semua. Aamiin.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo