Dark
Light
Dark
Light

Kartun-kartun Presiden

Kartun-kartun Presiden

Presiden itu kartun. Kita mengetahui setelah membuka halaman-halaman memuat kartun buatan Benny Rachmadi. Kartun setara opini. Pada 2009, terbit buku berjudul Dari Presiden ke Presiden. Kartun-kartun mengisahkan dan mengingatkan peran para presiden, sejak 1998 sampai 2009. Indonesia dalam kartun. Kita mengenal dan mengenang presiden-presiden di Indonesia memiliki beragam capaian dan kegagalan. Kita di hadapan kartun.

Kartun mula-mula dimuat di tabloid Kontan. Sekian tahun berlalu, kartun-kartun dikumpulkan menjadi buku. Pokok dalam kartun: Indonesia. Tokoh dianggap menentukan nasib Indonesia: presiden. Kartun tentu tak selalu menampilkan raga atau wajah presiden. Pembuat kartun memunculkan beragam tokoh agar kita mengetahui pemikiran dan kebijakan presiden.

Yopie Hidayat (Kontan) memberi penjelasan: “Sebagai media ekonomi dan bisnis, Kontan sebetulnya lebih membidik kelompok menengah atas sebagai target pembaca. dan yang unik, goresan Benny justru tidak membawa nuansa glamor orang-orang kelas atas atau anggota elite di masyarakat sesuai sasaran kami. Benny justru mengembuskan nafas proletar di Kontan lewat garis-garisnya yang sungguh penuh karakter.” Kehadiran kartun berbarengan berita, artikel, dan iklan dimuat dalam Kontan. Kartun itu mengajak berpikir sejenak dengan enteng dan bisa memicu tawa. 

Di halaman 264, kita melihat kartun mengingat masa kekuasaan SBY. Semula, kartun tampil dalam Kontan edisi Agustus 2009. Kita melihat sosok bertubuh besar mengenakan peci hitam. Ia duduk dengan kepala menunduk. Di tangan, ada benda digerakkan menandakan ia berdzikir. Di belakang tiang, terlihat dua sosok bercakap: “Ssttt... beliau lagi tafakur mengharap dapat hidayah, supaya kabinet tersusun dengan baik…” Tanggapan diberikan: “Supaya nggak dapat bisikan setan selagi menyusun kabinet…” Tugas berat awal presiden itu membentuk kabinet. Presiden ingin bekerja dengan orang-orang pilihan dan tepat. Para menteri turut menentukan ikhtiar-ikhtiar presiden mewujudkan segala omongan atau janji telanjur diberikan sebelum hari coblosan. 

Kita menikmati kartun, membuka kembali jejak-jejak ingatan para presiden masa lalu. Pada 20 Oktober 2024, kita mendapatkan presiden baru. Orang-orang melihat acara pelantikan di Jakarta. Kuping mungkin mengingat segala omongan disampaikan Prabowo Subianto dalam tatanan kata resmi merujuk pidato atau sekadar tuturan di hadapan para wartawan. Kita berurusan kata-kata sambil menantikan ada orang-orang lekas membuat kartun mengabadikan peristiwa bersejarah dan menafsir ketokohan dalam arus kekuasaan Indonesia.

Presiden itu novel. Di Indonesia, kita belum bisa membuktikan ada presiden menulis novel. Kita sekadar mengetahui presiden membaca novel. Ingatan termudah itu Gus Dur. Sejak kecil, ia terbiasa membaca sastra. Novel menjadi bacaan untuk mengerti segala. Konon, Gus Dur ingin menjadi penulis novel. Keinginan tak terwujud tapi ia berteman dengan para penulis novel. Kita mengingat hubungan Gus Dur dengan Mahbub Djunaidi, Mohammad Sobary, Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, dan lain-lain.

Pada saat Gus Dur menjadi presiden, novel-novel telah terbaca mungkin memberi pengaruh atau bekal untuk mengerti manusia dan politik. Gus Dur tak mengharuskan membentuk kabinet terdapat “menteri sastra”. Ia paham jika Indonesia mulia dengan sastra. Novel-novel menjadi referensi cerita dan pemikiran bila mengenang babak-babak sejarah dan membentuk masa depan Indonesia. 

Kita mampir ke novel berjudul Tuan Presiden (1985) gubahan Miguel Angel Asturias. Novel berlatar negeri jauh. Presiden dengan pelbagai tragedi dan ironi. Presiden sebagai tokoh besar kekuasaan menanggungkan nasib tak selalu mujur dan bahagia. Presiden biasa dalam dilema dan kutukan. Presiden mencipta cerita-cerita mudah dimengerti jutaan orang dengan salah tafsir atau kepatuhan berlebihan.

Kita mengutip percakapan penasihat dan presiden. Percakapan itu sodoran imajinasi kekuasaan dari Asturis. Di depan pintu saat mau masuk ruang makan, penasihat berkata: “Maafkan saya, Tuan Presiden. Maafkan saya terlambat. Saya harus membantu seoarang pencari kayu yang menolong seorang yang luka parah di tumpukan sampah. Jadi, perjalananku tertunda. Tapi yang terluka itu bukanlah seseorang yang Tuan Presiden kenal. Tuan Presiden, ia adalah orang dari kalangan melarat.”

Percakapan cukup serius. Percakapan menguak siasat penguasa, penciptaan kehormatan, pembentukan kepatuhan, dan politik seribu dalih. Presiden meminta jawaban penasihat mengenai nasib orang terluka parah di tumpukan sampah. Presiden itu lantang mengatakan: “Apa-apaan ini? Kau yang menyombongkan diri sebagai sahabat presiden, kepala negara republik ini, tentunya tak akan meninggalkan seorang malang begitu saja di pinggir jalan, dilukai entah oleh siapa, bukan?” 

Situasi politik sering pelik atas nama keadilan, kebenaran, kemakmuran, kebahagiaan, dan kedamaian. Di novel, kita membaca sosok presiden di jalan penuh belokan. Kejutan-kejutan tersajikan pengarang agar pembaca mengerti lahir-batin presiden saat membuat keputusan-keputusan menentukan nasib diri dan negara. Lakon kekuasaan sulit jernih dan terang. Di situ, ada edaran argumentasi, olahan alibi, dan kecamuk sangsi.

Pujian diberikan kepada presiden: “Sayalah orang yang pertama dari orang-orang yang berpikiran bahwa Tuan Presiden tak pantas memerintah negeri ini. Pantasnya, Tuan Presiden memerintah negeri-negeri seperti Perancis atau Swiss yang bebas merdeka atau Beligia yang penuh industri atau Denmark yang luar biasa. Tapi, di atas segala-galanya, paling cocok adalah Perancis. Tuanlah orang yang paling tepat menjadi pemimpin untuk mencapai tujuan bangsa yang telah melahirkan orang-orang seperti Gambetta dan Victor Hugo.” Novel pantas dibaca (lagi) mulai 20 Oktober 2024. Kita bisa membaca setumpuk novel dari pelbagai negara untuk mengiringi masa kekuasaan Prabowo-Gibran: 5 tahun. Novel-novel bakal menjadi referensi atau sekadar penghiburan.

Presiden itu biografi. Presiden tak selesai dengan kartun dan novel. Di Indonesia, presiden itu buku-buku biografi. Ratusan buku telah ditulis bertokoh Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Joko Widodo. Buku-buku biografi Prabowo Subianto pun sudah terbit dan beredar. Buku itu bakal diralat atau disempurnakan berdasarkan peristiwa 20 Oktober 2024 saat Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden RI. Buku baru ditulis memuat bab-bab berbeda dari masa lalu saat buku-buku (telanjur) terbit dalam ikhtiar menjadi presiden. 

Sejak puluhan tahun lalu, presiden memerlukan buku-buku biografi dalam penciptaan sejarah dan peran membentuk masa depan Indonesia. Buku biografi membikin gegeran dan debat itu berjudul Soeharto: Sebuah Biografi Politik (2005) garapan RE Elson. Buku besar dan tebal, buku “menebalkan” beragam pujian dan kritik. Biografi dimulai ingatan kejatuhan rezim Orde Baru, berlanjut mengisahkan masa kecil dan masa keemasan dibuat Soeharto.

Elson menjelaskan: “Tatkala Soeharto jatuh dari kekuasaan dalam situasi penuh kekerasan, Mei 1998, Indonesia menghadapi masa depan yang suram dan kacau. Sebab, begitu lama dia berkuasa dan otoritasnya amat menghunjam pada masa kejayaannya. Sulit membayangkan Indonesia dalam format lain selain Orde Baru. Selain itu, saat Soeharto lengser, Indonesia tampak bertekuk lutut, lumpuh bukan hanya akibat badai krisis keuangan Asia (1997-1998), melainkan jelas-jelas lebih diakibatkan oleh warisan kelembagaan dan politik Soeharto sendiri.” 

Soeharto, nama terus terngiang saat mengingat Indonesia. Lakon itu terlalu berbeda dengan “keajaiban” dicipta saat Soeharto menjadi presiden setelah situasi pelik (1965-1966) dan menggerakkan rezim Orde Baru. Asvi Warman Adam urun pendapat: “Dalam arus balik sejarah, jelas sukar menulis secara jernih mengenai Soeharto.”

Kini, Minggu, 20 Oktober 2024, hari wajib dicatat dan dijelaskan dalam biografi Prabowo Subianto. Kita menanti kehadiran buku biografi: memuat ketokohan dan persoalan-persoalan sejarah Indonesia mengiringi Prabowo Subianto. Minggu bakal terkenang, bukan sekadar hari libur. Minggu itu kekuasaan. Minggu itu paragraf atau bab awal dalam biografi penguasa dipastikan mengandung debat-debat berkepanjangan memicu segunung argumentasi dan apologi. Begitu. 
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo