Jakarta, Arina.id – Banyak masyarakat Muslim di Indonesia mengadakan ritual menyucikan diri untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Ini dilakukan antara lain di Yogyakarta dan Jawa Tengah melalui tradisi Padusan.
Naskah skripsi Ahmad Abdul Ngazis dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyebutkan hal itu. Skripsi berjudul Tradisi Padusan Jelang Puasa Ramadhan di Desa Duduwetan Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo (Studi Pandangan Tokoh Adat dan Tokoh Agama Islam) itu mengungkapkan bahwa Padusan berasal dari tradisi masyarakat Jawa kuno yang dijadikan sebagai sarana untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan mensucikan diri, membersihkan jiwa dan raga dari dosa, serta menyambut bulan suci Ramadan.
Kesakralan tradisi Padusan ini menjadikan masyarakat Desa Duduwetan, salah satu desa di Purworejo, sebagai salah satu komunitas yang hingga kini masih melaksanakannya.
Masyarakat di Desa Duduwetan biasanya melaksanakan ritual Padusan dengan cara mandi di pesisir pantai. Penelitian Ahmad Abdul Ngazis juga mengungkapkan pandangan tokoh adat mengenai tradisi Padusan adalah bahwa tradisi ini harus dilestarikan karena merupakan warisan budaya leluhur yang memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai sarana penyucian diri.
Kesakralan tradisi Padusan ini menjadikan masyarakat Desa Duduwetan sebagai salah satu masyarakat yang ada di Purworejo yang hingga kini masih melaksanakannya. Tokoh adat cenderung menilai tradisi Padusan sebagai bagian penting dari budaya dan warisan lokal. Mereka melihatnya sebagai cara untuk memelihara hubungan dengan alam, menjaga nilai-nilai budaya tradisional, serta mempererat ikatan sosial dalam masyarakat. Pandangan ini lebih menekankan aspek sosial dan budaya dalam tradisi Padusan.
Sementara tokoh agama Islam menilai tradisi Padusan melalui kacamata agama dan spiritualitas. Mereka melihat tradisi ini sebagai bentuk ketaatan kepada ajaran Islam, sebagai sarana untuk membersihkan diri secara fisik dan rohani menjelang bulan suci Ramadan, serta sebagai bentuk taubat. Mereka berpendapat bahwa kegiatan tersebut lebih baik dilakukan di rumah masing-masing. Pandangan mereka sangat terkait dengan nilai-nilai religius dan penghayatan ajaran Islam.
Situs web indonesia.go.id diakses Sabtu (22/2/2025) menyebutkan Padusan dilakukan masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi. Padusan merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyucikan diri, membersihkan jiwa dan raga, dalam menyambut datangnya bulan suci. Tradisi yang merupakan warisan leluhur yang dilakukan secara turun temurun ini dijalani dengan cara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air. Tujuan dari padusan ini adalah agar saat Ramadan datang, kita dapat menjalani ibadah dalam kondisi suci lahir maupun batin.
Apabila ditelisik lebih jauh, Padusan memiliki makna yang sangat dalam yaitu sebagai media untuk merenung dan instropeksi diri dari berbagai kesalahan yang telah dibuat pada masa lalu.
Di Jawa Tengah maupun Yogyakarta terdapat cukup banyak tempat yang biasa dijadikan lokasi melakukan ritual padusan. Di Yogyakarta saja setidaknya ada sepuluh lokasi yang biasa didatangi orang setiap tahunnya untuk menjalani padusan, dan setiap lokasi memiliki histori masing-masing.
Di antaranya adalah Umbul Pajangan yang berlokasi di Jalan Kaliurang, Sleman, Sendang Klangkapan di Dusun Klangkapan, Desa Margoluwih, Sleman, yang konon sengaja dibuat oleh Sunan Kalijaga saat tidak menemukan air untuk berwudhu, lalu ada juga Sendang Ngepas Lor yang terletak di Desa Donoharjo, Sleman.
Di beberapa wilayah lain di Jawa Tengah, juga terdapat beberapa tempat yang biasa dipadati warga untuk menjalani padusan. Di Klaten misalnya, salah satu pemandian alami bernama Umbul Manten, berlokasi di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Tempat ini, selalu dipadati pengunjung yang ingin melakukan ritual padusan setiap tahunnya menjelang bulan puasa.
Beberapa sumber mata air lain di Klaten yang juga menjadi lokasi padusan adalah Obyek Mata Air Cokro (OMAC), Umbul Ponggok, dan banyak lagi. Padusan di OMAC biasa dilakukan secara simbolik oleh Bupati Klaten yang melakukan siraman terhadap Mas dan Mbak Klaten (Duta Pariwisata Kabupaten Klaten), lalu dilanjutkan oleh warga.
Kegiatan serupa juga dilakukan di Umbul Petilasan Joko Tingkir, Semarang. Ribuan warga yang bukan hanya berasal dari Semarang tetapi daerah sekitarnya seperti Salatiga, mendatangi petilasan ini untuk menjalani padusan. Di petilasan ini lokasi padusan terbagi menjadi dua tempat yaitu Sendang Lanang dan Sendang Puteri.
Kegiatan padusan yang kini dilakukan secara beramai-ramai memang unik dan menarik minat masyarakat dan wisatawan, baik domestik maupun asing. Dengan digelarnya tradisi Padusan ini di tempat ramai, masyarakat luar dapat melihat betapa kaya dan beragamnya budaya Indonesia.
Mengingat tradisi warisan leluhur ini memiliki nilai yang cukup sakral, ada baiknya untuk menjaga nilai-nilai tersebut, tanpa menghilangkan daya tarik dari kegiatan Padusan itu sendiri.
Editor: Kendi Setiawan


