Dark
Light
Dark
Light

Upaya UIN Gus Dur Pekalongan Merawat Kerukunan dalam Keberagaman Warga Desa Kutorojo

Upaya UIN Gus Dur Pekalongan Merawat Kerukunan dalam Keberagaman Warga Desa Kutorojo

Toleransi menjadi nilai luhur yang patut dijunjung tinggi di Indonesia. Tanpa saling menghormati dan menghargai setiap penganut keyakinan, negara yang berdiri di atas ribuan pulau dan dihuni oleh masyarakat dengan ras, suku, bahasa, dan agama yang berbeda-beda ini tidak akan bisa bersatu. 

Barangkali ungkapan di atas terkesan klise, tetapi itulah faktanya. Tekad kuat para pendahulu yang menyemai sikap toleransi dan memperkuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah mampu menghempaskan setiap perbedaan dan menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam persatuan, perbedaan bukan lagi sebuah perbedaan, melainkan keberagaman. Oleh karena itu, persatuan perlu terus dijaga dan dilestarikan untuk utuh dan tegaknya Indonesia.

Salah satu upaya menyambung dan mengeratkan persatuan itu tercermin dalam agenda bincang-bincang lintas agama yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jawa Tengah pada Senin (11/12/2023). Agenda bertajuk 'Penguatan Moderasi Beragama dan Dialog Lintas Agama Lembaga Adat Desa Kutorojo' itu berlangsung di Balai Desa Kutorojo. Dialog diadakan untuk merawat kerukunan dan meningkatkan moderasi beragama warga setempat, terlaksana berkat kerja sama Perguruan Tinggi Islam Negeri yang kesohor dengan sebutan UIN Gus Dur dan Lembaga Adat Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Para peserta kegiatan, yakni sejumlah pengurus lembaga hadir bersama Kepala Desa Kutorojo Dulajat, Sekretaris Desa, Perangkat Desa, 20 tokoh agama Desa Kutorojo. Sementara itu, Tim Pemberdayaan Moderasi Beragama UIN Gus Dur yang hadir dalam agenda tersebut adalah Dr. Nanang Hasan Susanto, Dr. Muhamad Rifa’i Subhi, dan Syamsul Bakhri. Adapun pembicara dalam perhelatan dialog lintas agama disampaikan oleh Wakil MWC NU Kecamatan Kajen Mustajirin Toyib, dari perspektif agama Islam dan Kusnaeni dari perspektif agama Hindu.

Syamsul Bakhri, salah seorang anggota Tim Pemberdayaan Moderasi Beragama UIN Gus Dur menjelaskan, acara tersebut merupakan program pengabdian masyarakat berbasis moderasi beragama. "Pada kegiatan awal, kita telah melakukan mapping religious and culture masyarakat Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan secara door to door," katanya saat dihubungi Arina.id.

Desa Kutorojo adalah desa yang dihuni oleh warga dengan beragam agama dan kepercayaan. Warna-warni perbedaan itu bukanlah sebuah penghalang bagi warga untuk menciptakan lingkungan yang rukun dan damai. Bahkan, dari keberagaman itu, warga Desa Kutorojo membentuk sebuah lembaga kesatuan yang bernama Lembaga Adat Kutorojo.

"Dari hasil mapping yang kita lakukan, kita analisis di Kutorojo ada dua penganut agama yaitu Islam dan Hindu, serta satu kepercayaan, yaitu kepercayaan Kepribaden. Penganut agama Islam terdiri dari tiga ormas yaitu NU, Muhammadiyah, dan LDII,” jelasnya.

Pada mulanya, Tim UIN Gus Dur mendapati bahwa anggota Lembaga Adat Kutorojo belum pernah mengkomunikasikan tiap-tiap pemikiran para tokoh agama dan kepercayaan di Desa Kutorojo. "Karena dari analisis kami, lembaga desa adat yang sudah ada kegiatannya hanya melakukan rutinitas tradisi budaya dan keagamaan, tidak pernah dilakukan dialog. Selain itu ditemukan beberapa harapan terkait saluran komunikasi antar tokoh agama dan kepercayaan. Sehingga, kami mengajak untuk melakukan dialog," tutur Syamsul.

Perhelatan 'Penguatan Moderasi Beragama dan Dialog Lintas Agama Lembaga Adat Desa Kutorojo' juga merupakan program pengabdian masyarakat UIN Gus Dur yang mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 58 Tahun 2023.

Dialog Lintas Agama untuk Penguatan Moderasi Beragama
Penguatan moderasi beragama adalah tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Upaya memperkokoh kerukunan dan persatuan dalam kehidupan beragama penting dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara. 

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Gus Dur Prof. Dr. Imam Kanafi mengatakan, pihaknya akan terus berupaya mendorong pengarusutamaan moderasi beragama. Salah satu caranya adalah dengan membentuk Desa Kutorojo sebagai kampung moderasi beragama.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Kutorojo, Dulajat menyebut desanya sebagai miniatur Indonesia dalam aspek kepercayaan. Sebab, kata Dulajat, walaupun warga Desa Kutorojo mampu hidup dengan aman dan kondusif.meski memiliki keyakinan yang berbeda-beda.

Dr. Nanang Hasan Susanto, Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Gus Dur menuturkan, sebagai negara yang memiliki beragam agama dan kepercayaan, kerukunan di antara masyarakat Indonesia perlu dirawat dengan baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dikarenakan gesekan antarumat acapkali disebabkan oleh konflik agama dan kepercayaan. Ia juga mengatakan, kedatangan Tim UIN Gus Dur ke Desa Kutorojo tidak hanya untuk memperkuat dan menjaga kerukunan, tetapi juga untuk belajar tentang bagaimana warga Desa Kutorojo dapat hidup bersama dengan rukun dan toleran dalam sebuah keberagaman.

Acara bincang-bincang lintas agama tersusun atas kegiatan peningkatan moderasi beragama dari perspektif Islam-Hindu, dialog bersama para peserta lembaga adat, dan penambahan anggota Lembaga Adat Kutorojo. Dalam rangkaian kegiatan itu, ditemukan sejumlah hasil yang dapat menjadi evaluasi warga setempat demi kemaslahatan bersama.

Ribut, salah seorang tokoh agama Hindu berharap agar pengeras suara adzan tidak digunakan saat hari raya Nyepi. Ia juga menyampaikan untuk tidak mengarahkan pengeras suara tidak ke arah pura. Keinginan itu disambut hangat oleh para peserta lainnya, mereka bersepakat untuk saling menghormati dan mewujudkan keinginan umat Hindu di Desa Kutorojo.

Di kesempatan yang sama, tokoh kepercayaan Kepribaden Sunarjo juga menyampaikan agar warga setempat tidak salah paham terkait kepercayaan Kepribaden. Ia meluruskan bahwa kepercayaan Kepribaden bukan sebuah kepercayaan yang menyembah jin dan setan, melainkan Tuhan Yang Maha Esa.

Kerukunan warga Desa Kutorojo dibangun atas jiwa saling menghormati satu dengan lainnya serta sokongan pilar Lembaga Desa Adat yang berfungsi menjaga dan merawat tradisi dengan baik. Hal tersebut menginspirasi pihak UIN Gus Dur untuk semakin merawat dan menjaga tradisi dari berbagai daerah di lingkungan kampus.

"Yang bisa ditiru kampus adalah memiliki tradisi perayaan adat istiadat dan keagamaan yg dirayakan bersama seluruh civitas akademika,” ucap Syamsul.

Dalam kaitannya dengan penguatan moderasi beragama di lingkungan masyarakat, ia menyampaikan bahwa pemerintah perlu ambil andil dalam melakukan Training of Trainers (ToT) kepada para tokoh agama dari desa binaan moderasi beragama yang dilakukan oleh pihak kampus.

"Dengan begitu, para tokoh agama dan pengurus kampung moderasi beragama mampu menjadi penggerak moderasi beragama tidak hanya di desanya tapi untuk masyarakat luas juga, termasuk menjadi pembicara moderasi beragama dari perspektif agama dan kepercayaan masing-masing,” imbuh Syamsul.

Syamsul juga berharap agar pemerintah mengapresiasi para tenaga pendidik dan pihak-pihak yang berhasil mengadakan pengabdian masyarakat berbasis moderasi beragama. Sebab, dialog lintas agama yang digelar UIN Gus Dur bukan merupakan kali pertama. Sebelumnya, UIN Gus Dur juga pernah melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis moderasi beragama pada tahun 2022. 

Dari perhelatan itu, desa yang dibina pihaknya, yakni Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan mampu memperoleh juara 2 dalam rumah moderasi beragama tingkat nasional serta juara 8 dalam kampung moderasi beragama yang diselenggarakan oleh Litbang Kemenag RI. Rencananya, tahun depan UIN Gus Dur akan mengadakan kolaborasi kegiatan tradisi desa dan launching kampung moderasi beragama Desa Kutorojo.

"Saran untuk pemerintah, ada penghargaan bagi dosen yang berhasil melakukan pengabdian masyarakat berbasis moderasi beragama," pungkas Syamsul.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo