Sukarno dikenang tak sekadar tulisan dan pidato. Ia getol ingin menjadikan Indonesia berhuruf. Pada babad revolusi belum selesai, Sukarno tegas memerintah pihak-pihak pemerintah dan partikelir menggencarkan PBH. Dulu, orang-orang mengenali sebagai perintah besar untuk pemberantasan buta huruf. Sukarno mengartikan pemberantasan kebodohan dan keminderan.
Revolusi mencipa Indonesia berhuruf itu pasti memiliki pemicu merujuk masa lalu. Pada awal abad XX, Sukarno saat masih bocah mulai mengenal huruf-huruf di sekolah. Ia belajar dengan beragam huruf dan bertualan dalam sekian bahasa. Kepintaran dimiliki digunakan dalam gerakan politik kebangsaan. Ia memihak huruf-huruf berdatangan dari Barat, bukan huruf Jawa atau Arab. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Belanda, memiliki kesanggupan berbahasa Inggris dan mengerti bahasa-bahasa di Eropa. Sukarno, manusia berhuruf menggerakkan Indonesia masa kolonial dan masa revolusi masih dihuni jutaan orang buta huruf.
Kita ingin menilik awal abad XX dulu saat bocah-bocah di tanah jajahan berhasrat mengenal huruf-huruf dampak Politik Etis. Buku lawas masih bisa ditemukan dan dipelajari itu berjudul Kitab akan Beladjar Membatja Bahasa Melajoe dengan Hoeroef Wolanda dan Djoega akan Membatja Bahasa Djawa dengan Hoeroef Djawa. Buku terbit 1911 dengan keterangan cetakan ketiga. Nama pembuat tak dicantumkan. Penjelasan tercantum di sampul buku: “NV Solosche Snelpersdrukkerij Sie Dhian Ho.
Di halaman awal, terdapat tanda tangan direktur penerbit buku. Ada pula keterangan dari pengarang: “Selainjja darippada itoe, dimana kitab ini telah kita adakan djoega seperti jang telah terseboet dalem beberapa fatsal ia-itoe berbagai peladjaran jang haroes diketahoei oleh sekalian anak-anak. Maka dengan banjak pengarepan kita, kepada sekalian anak jang soeka memakai kitab ini, moedah-moedahan dapat beladjar dengan tjoekoep dan sampernanja.”
Beragam huruf dikenalkan dengan cara baca. Anak-anak masa lalu pasti takjub melihat bentuk-bentuk huruf. Mereka wajib mengingat dan benar dalam pengucapan. Kemampuan membaca dilanjutkan peniruan menulis berdasarkan huruf-huruf sudah dicontohkan. Penggembira selama belajar berupa bait-bait bacaan: Adjar menoelis membatja soerat/ Djangak engkau merasa berat/ Djika engkau pande menjoerat/ Gampang bekerdja tiada melarat. Kita mengandaikan anak-anak membaca itu bergairah dalam meningkatkan kemampuan membaca-menulis menggunakan “hoeroef Wolanda”.
Pesan baik dalam bait-bait: Soepaia anak pintar mengarti/ Beladjar soerat haroes setiti/ Moesti diingat di dalem hati/ Soepaia dapet rahmatnja goesti// Maka baik engkau sekarang/ Pergi beladjar djangan sembarang/ Agar dibelakang soepaia terang/ Namamoe baik dipoedji orang. Buku memuat pelajaran-pelajaran huruf. Bait-bait mengandung pesan baik pun disuguhkan agar anak-anak bersemangat. Ilustrasi-ilustrasi dimuat di sekian halaman, memberi bujukan imajinasi bagi anak-anak berhadapan “hoeroef Wolanda” dan “hoeroef Djawa”. Di hadapan huruf-huruf berbeda, anak-anak perlahan mengerti derajat pelbagai peradaban. Mereka mungkin bersinggungan dengan iman.
Masa kolonial berlalu, anak-anak di Indonesia diinginkan belajar di sekolah: mengenali huruf-huruf dan beragam ilmu (modern). Negara memiliki tanggung jawab seperti tercantum dalam konstitusi. Sukarno lantang berseru agar Indonesia berhuruf. Kebijakan-kebijakan dibuat disokong dengan penerbitan buku-buku.
Pada masa 1950-an, terbit buku berjudul Beladjar Membatja susunan Mh Rambitan dan KJ Danckaerts, 3 jilid. Buku-buku itu dihiasi gambar oleh F Van Bemmel. Buku berpengaruh pada masa lalu, masih ada sisa-sisa otoritas pengetahuan dari para guru atau sarjana Belanda. Indonesia sedang menapaki jalan baru. Keharusan anak-anak bisa membaca dan menulis belum mewajibkan buku-buku ditulisan orang-orang Indonesia.
Nama tokoh terkenal dalam buku dipelajari anak-anak masa 1950-an: Didi. Kita mengutip dua halaman dalam buku jilid 1: ini bapa si didi/ ia pulang dari pasar/ ia membawa pisang/ pisang itu untuk kera/ kera itu kera si didi// si didi datang dari sekolah/ ia membawa buku/ bukunja buku batjaan/ ia beladjar membatja/ kata guru ia lekas pandai.
Buku itu tak sekadar mengenalkan tokoh anak lelaki bernama Didi. Pembaca pun berkenalan dengan anak perempuan bernama Mina. Dua nama itu diakrabi para pembaca sedang diminta membentuk kepribadian nasional. Buku-buku digunakan dalam kemahiran membaca dan menulis diinginkan sesuai arus revolusi.
Kita membuka Beladjar Membatja jilid 3. Murid-murid berhadapan dengan halaman-halaman untuk pembuktian lancar membaca dalam bahasa Indonesia. Tokoh baru dimunculkan bernama Jusuf. Bacaan ringkas dan sederhana: anak ini bernama jusuf/ bapanja saudagar/ kaja benar bapanja/ nama bapanja hadji latif/ si jusuf kawan si didi/ ia duduk dikelas satu djuga/ kalau waktu beristirahat/ atjap kali mereka duduk bersama-sama/ lalu mereka bertjakap-tjakap. Murid membaca hal-hal dekat dengan peristiwa keseharian di sekolah, rumah, dan kampung.
Buku-buku lama digantikan buku-buku baru. Lakon kekuasaan pun berubah. Rezim Sukarno tamat, muncul rezim Soeharto dengan nama Orde Baru. Nama-nama dalam buku lama berakhir. Didi itu nama kenangan bagi murid-murid belajar membaca di sekolah. Didi tak lagi harus hadir dalam buku-buku. Mina dan Jusuf pun tinggal kenangan. Agenda melupakan mungkin dibuat jika masalah belajar membaca atau menjadikan Indonesia berhuruf kental pamrih ideologi.
Kita masuk ke album kenangan Orde Baru. Buku (paling) teringat dan leendari terbitan Departemen P dan K – Balai Pustaka berjudul Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis. Kita masih dapat menemukan dua jilid (1a dan 1b). Buku mula-mula terbit pada 1976. Buku itu terbit rutin setiap tahun untuk digunakan jutaan murid di seantero Indonesia.
Bacaan mudah dimengerti anak-anak masa Orde Baru saat membuka buku jilid 1a: ini budi/ ini ibu budi/ ini bapak budi/ ini kakak budi/ ini adik budi. Jumlah anak dalam keluarga itu tiga. Pada kebijakan berbeda, Soeharto berseru dua anak cukup. Buku bukan bermaksud berkhianat dari misi keluarga menimbulkan ribut pada masa Orde Baru. Murid-murid diminta mengakrabi “budi”. Mereka mungkin senang dan mudah belajar membaca menggunakan nama “budi” ditambah “wati” dan “iwan”.
Mereka tak menduga Orde Baru bakal senewen gara-gara nama “iwan”. Pada suatu masa, kita menikmati lagu-lagu Iwan Fals: nama samaran. Kita pastikan nama itu tak harus dipungut dari buku pelajaran masa Orde Baru. Soeharto tetap ingin Indonesia berhuruf. Indonesia bakal maju dan sukses bila berhasil dalam memberantas buta huruf. Soeharto pun mengerti protes dan kritik disampaikan Iwan Fals, bukan Iwan sebagai tokoh dalam buku pelajaran.
Buku itu nostalgai. Kita pernah menjadi anak atau murid SD memiliki jejak kebersamaan dalam buku jilid 1b. Kutipan menimbulkan kangen: lonceng sekolah berbunyi/ pukul sembilan pagi/ anak-anak turun main/ bermain-main di halaman/ anak laki-laki bermain berlari-lari/ ada yang main bola/ ada juga yang main kelereng/ anak perempuan main tali/ dua orang memegang tali/ yang lain meloncat-loncat/ budi, arif, dan saleh bermain juga/ mereka main kucing-kucingan/ budi menjadi kucing/ ia mengejar-ngejar kawannya/ siapa kena menjadi kucing. Anak-anak berhak bermain, tak selalu belajar agar pintar dan mengisi pembangunan nasional.
Indonesia ingin berhuruf! Buku-buku warisan dari masa kolonial, revolusi, dan pembangunan nasional itu mengandung jejak-jejak pengetahuan, ideologi, dan biografi. Kita menginsafi belajar huruf dan bahasa menimbulkan konsekuensi-konsekuensi identitas, iman, dan keilmuan. Buku-buku itu masih bisa ditemukan dan dipelajari saat kita ingin membuka album Indonesia masa lalu. Kita mungkin takjub bercampur malu. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


