Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi menanda kemerdekaan. Sebelum Sukarno membacakan teks yang singkat dan lugas itu, terdapat sejumlah peristiwa jenaka berlatar pakaian.
SEJARAH terlewat akibat lelah. Sosok lelah itu memilih istirahat. Raga tak bergerak menuju rumah Sukarno beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Ia sudah turut dalam pertemuan dan rapat penting sebelum pembacaan teks Proklamasi. Sosok bernama Ahmad Soebardjo itu mengenang silam: “Saya masih tidur sewaktu kurang lebih pukul 10.00 pagi ada tanggal 17 Agustus 1945, datang dua utusan dari Sukarno dan Hatta untuk membangunkan saya. Mereka mengatakan pada saya bahwa harus segera berpakaian untuk menyaksikan upacara pengibaran bendera nasional sang merah-putih dan pembacaan Proklamasi kemerdekaan.”
Pengakuan dalam buku berjudul Lahirnya Republik Indonesia (1972). Sekian jam sebelum tidur, ia bersama Sukarno, Hatta, dan kaum muda di rumah Maeda: memikirkan dan merumuskan teks proklamasi. Pagi itu ia berada di ranjang, tak segera mandi dan mengenakan pakaian pantas untuk hadir dalam peristiwa bersejarah. Keputusan: “Saya begitu merasa lelah dari kejadian yang menegangkan syaraf yang baru saya alami sepanjang hari dan malam sebelumnya sehingga saya memutuskan untuk meneruskan istirahat saja.” Kita tetap menghormati Ahmad Soebardjo sebagai pelaku sejarah meski ia tak berada di serambi rumah Sukarno.
Kita memasalahkan pakaian. Di foto-foto lama, kita melihat pakaian dikenakan Sukarno dan Mohammad Hatta. Kita telah mengetahui Ahmad Soebardjo tak berada di sana dengan pakaian berhak terekam kamera. Fatmawati turut hadir dan mengesankan pakaian khas Nusantara. Ingatan pakaian pun milik Fatmawati dalam buku berjudul Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1983). Babak sebelum pembacaan teks Proklamasi. Ia mengenang hari saat kaum muda “menculik” Sukarno dan keluarga, bergerak menuju Rengasdengklok: “Lalu, kami bersiap-siap membungkus keperluan bayi dan aku tak sempat membawa pakaianku.” Bayi itu bernama Guntur.
Konon, orang-orang sulit mendapat sandang saat masa pendudukan Jepang. Pakaian di badan itu memberi kehormatan dan perlindungan, tak harus berpikiran gengsi atau merek. Jenis kain untuk sandang sering jelek tapi orang-orang sudah beruntung mengenakan pakaian. Di lembaran sejarah berkaitan Proklamasi, kita jarang mendapat keterangan atau pengakuan panjang mengenai pakaian. Para pelaku dan saksi sejarah mungkin kurang menganggap penting. Kita sengaja ingin mementingkan bila mengingat foto lama menampilkan sosok-sosok dengan beragam pakaian. Kita mengandaikan sekian pakaian disimpan di museum-museum sebagai benda bersejarah.
Kita berlanjut membuka album kenangan Mohammad Hatta saat masa penculikan berkaitan pakaian. Hatta (1979) mengisahkan:
“Waktu kami memangku Guntur berganti-ganti, aku mengalami suatu hal yang lucu. Selagi ia duduk di pangkuanku, Guntur kencing dan celanaku dibasahi dekat lutut. Sungguh pun ia cepat-cepat kuturunkan ke lantai, kecelakaan sudah terjadi. Aku tidak dapat bersalin celana karena sepotong pakaian pun tidak ada yang kubawa dari Jakarta.”
Hatta mungkin kebingungan dengan celana dibasahi air kencing gara-gara berpikiran untuk ibadah. Ia mengerti air kencing itu membuat ibadah tidak sah. Pengakuan disampaikan Hatta:
“Maka, celana yang basa sebagian itu terpaksa kupakai terus sampai kering dengan sendirinya. Hanya saja, dengan celana itu aku tidak dapat mengerjakan sembahyang.”
Situasi memang darurat dan penuh tekanan. Hatta sempat kecewa.
Kejadian lucu masih berlanjut menjelang hari bersejarah. Hatta mengisahkan Sukarno. Para tokoh sudah tiba kembali di Jakarta. Tindakan-tindakan cepat harus diselenggarakan demi merdeka. Babak lucu: “Lalu, kami putuskan kami masing-masing akan pulang ke rumah untuk beristirahat.” Ajakan itu membuat Sukarno bimbang. Ia mau pulang tapi takut. Soekarni mengatakan kepada Hatta:
“Kalau begitu, aku minta Bung pinjami satu setelan pakaian karena dengan baju Peta yang aku kenakan sekarang, aku dapat ditangkap oleh Kempeitai.”
Hatta berbuat baik dengan meminjamkan pakaian. Kita tak mengetahui pakaian itu dikembalikan atau dikoleksi Soekarni. Adegan itu sempat memberi hiburan, mengurangi ketegangan: “Kami semua tertawa terbahak-bahak. Sukarno juga ikut tertawa. Kukatakan:
"Saudara berani mengadakan revolusi menggempur Jepang, tetapi sekarang saudara takut akan ditangkap Kempeitai karena memaki pakaian Peta.”
Kita mengerti bila pakaian-pakaian menentukan kubu-kubu dalam kecamuk politik di Indonesia berlatar 1945.
Sejarah di Indonesia bersandang. 1945 itu pakaian. Kita belum memiliki pengisahan dalam buku tebal, album foto lengkap, dan kesaksian lisan. Pada tahun bersejarah, para tokoh mengenakan dan memikirkan pakaian. Mereka memahami itu identitas, iman, ideologi, estetika, etika, dan lain-lain.
Sejarah itu masih pakaian setelah 1945. Kita berimajinasi melalui novel berjudul Keluarga Gerilja (1950) gubahan Pramoedya Ananta Toer. Novel mengingatkan babak-babak getir saat Indonesia ingin tetap tegak dan mulia. Revolusi tak selalu tawa dan air mata bahagia. Di Indonesia, revolusi kadang sengsara dan picisan.
Pada suatu hari, sengketa pakaian berkaitan kerja, keluarga, asmara, dan revolusi. Pram mengisahkan debat Amilah dan Salamah. Amilah berkata setelah pengakuan Salamah (19 tahun) tentang pakaian hilang: “Kakakmu Aman membelikan badju itu dengan keringat jang ditaburkannja diseluruh Djakarta. Tapi engkau jang sudah suka sama lelaki ini belum lagi punja otak. Belum lagi bisa menjimpan pakaian sendiri… Aku kira, aku pikir engkau ini buaja lelaki djuga. Kau! Kau! Kau! Kemana perginja pakaianmu itu kalau tak kaudjual? Mesti kaudjual. Mesti uangnja kauberikan pada buaja-buaja kering itu.” Di rumah, malam membara akibat pertengkaran gara-gara pakaian.
Kemiskinan mengesahkan pertengkaran. Pakaian dimiliki terlalu berharga. Pakaian hilang itu petaka. Dulu, orang memerlukan uang tak sedikit untuk berpakaian pantas. Revolusi belum memungkinkan persaingan merek atau pemanjaan gengsi. Kaum miskin sekadar ingin berpakaian meski mengetahui ada pameran dilakukan oleh elite politik, saudagar, dan artis dengan pakaian necis.
Usaha anak meredakan marah ibu disampaikan tanpa kelegaan. Salamah ingin bekerja di kantor cetak miliki orang Tionghoa: “Barangkali aku bisa dapat kerdja disana. Dapat makan siang sekali. Dapat pembagian pakaian dan beras. Dan tiap minggu menerima gadji. Biar mula-mula sedikit. Bolehkah aku pergi?”
Kita mengingat Proklamasi dan arus revolusi tak menjamin jutaan orang di seantero Indonesia kecukupan kebutuhan sandang. Pakaian itu masalah pelik. Di raga, pakaian-pakaian mengandung masalah masalah besar. Pram merekam zaman, menghadirkan orang-orang merasakan revolusi tanpa janji perwujudan sandang demi kebahagiaan. Pakaian justru impian dan petaka.
Pada masa berbeda, kita mendapat pengajaran pakaian oleh penguasa merujuk sejarah 1945. Penguasa itu membiasakan para pejabat dan tamu dalam peringatan Hari Kemerdekaan mengenakan beragam pakaian (dianggap) adat. Semula, kebijakan atau pengajaran itu mendapat pujian dalam pembuktian kebhinnekaan di Indonesia. Kita malah terlena, tak sempat berpikiran serius tentang pelbagai kebijakan dilematis berdampak dalam industri kain dan nalar-imajinasi berpakaian di Indonesia abad XXI. Pakaian dimaksudkan untuk peringatan hari bersejarah justru sepi kesaksian, pengisahan, dan pemaknaan. Begitu.
============
Baca kumpulan MOZAIK atau tulisan lainnya dari BANDUNG MAWARDI
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


