Dark
Light
Dark
Light

Boedi Oetomo: Dokter dan Bupati

Boedi Oetomo: Dokter dan Bupati

Konon, sejarah bergerak lambat oleh kaum tua. Sejarah itu kencang bila kaum muda membarakan ide dan membuat kejadian-kejadian. Pada awal abad XX, Abdoel Rivai manjur dengan seruan “kaoem moeda”. Ia mengabarkan perubahan-perubahan di Eropa (dunia) melalui tulisan-tulisan berharap terbaca kalangan terpelajar di Hindia Belanda. Sebutan “kaoem moeda” memberi perbedaan “arah” dalam pembuatan masa depan saat pendidikan dan pekerjaan mulai mengubah nasib bumiputra.

Di STOVIA, kaum muda dari pelbagai desa dan kota berkumpul untuk studi. Mereka berhadapan buku-buku pelajaran. Di kelas, pengajar-pengajar Eropa mengajak bertualang ke beragam pengetahuan modern. Kaum muda itu berlajar dan berhasrat menjadi dokter meski kelak tak pernah setara dengan dokter-dokter Belanda (Eropa).

Sejarah perlahan bergerak saat mereka belajar ilmu-ilmu bertajuk kedokteran. Kaum muda pun melek bacaan-bacaan membuka kesadaran “baroe”. Surat kabar dan buku mengantar mereka masuk gejolak pemikiran-pemikiran bisa menimbulkan “badai” atau “angin semilir” di tanah jajahan. Kaum muda sebagai “pembaca” memungkinkan kejutan-kejutan dalam alur sejarah, berbeda dari segala perintah dan dikte pemerintah kolonial atau kaum kolot.

 

Di buku berjudul Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2019), Hans Pols menjelaskan konsekuensi kaum muda dalam pendidikan kedokteran awal abad XX: “Sejumlah dokter – yang adalah tokoh intelektual -  mendesak penduduk Nusantara untuk mengikuti arus modernitas, melepaskan tradisi usang, dan bercita-cita untuk melakukan westernisasi. Yang lain mendesak untuk merangkul pelbagai tradisi etnik, memperkaya ekspresi artistik, dan merevitalisasi budaya dengan sarana-sarana modern….” Segala ide dan kemaua tak mudah diwujudkan. Polemik dan konflik biasa terjadi untuk mengukuhkan misi-misi terpenting.

Kita diingatkan kemunculan “kaoem moeda”, Boedi Oetomo, dan biografi para dokter dalam arus sejarah nasionalisme. Keberanian mengadakan perkumpulan dengan angan memajukan bumiputra mudah mendapat tepuk tangan meski berhadapan tekanan dan godaan pemerintah kolonial. Seruan “madjoe” oleh kaum muda dan para dokter pun harus bersengketa atau bersekutu dengan kaum feodal. Pada awal abad XX, hasrat-hasrat kemajuan tak pernah menjadi “sulapan” atau “mimpi indah semalam”.  

Boedi Oetomo mula-mula seolah perwujudan hasrat kaum muda. Anggapan cepat berubah dalam hari-hari berganti, sejak 20 Mei 1908. MC Riklefs dalam buku berjudul Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004 (2005) menilai: “Boedi Oetomo pada dasarnya tetap merupakan suatu organisasi priyayi Jawa.” Sejarah dicipta (kaum muda – kaum dokter) cepat berubah oleh peran para bupati. Boedi Oetomo tak mutlak ingatan kaum muda menganut pengetahuan-pengetahuan modern. Ricklef mengingatkan: “Sepanjang sejarahnya (organisasi ini secara resmi dibubarkan pada 1935), sebenarnya Boedi Oetomo sering tampak sebagai partai pemerintah yang seakan-akan resmi.” Kita mengetahui itu gara-gara keterlibatan para bupati atau pejabat-pejabat (pribumi) setelah kaum muda sulit dalam menghimpun dana dan mencipta corak kepemimpinan baru.

Kita membuka buku berjudul Perjalanan Anak Bumi: Biografi RMAA Koesoemo Oetojo (2008) diprakarsai Ramadhan KH. Di situ, terbaca biografi Koesoemo Oetojo sebagai bupati, Boedi Oetomo, dan Volksraad. Halaman sejarah masih terbaca: “Kedekatan Koesoemo Oetojo dengan organisasi pergerakan rakyat bukanlah suatu yang istimewa. Bukankah ia seorang yang ikut berperan dalam kelahiran Boedi Oetomo, organisasi pribumi tertua di Indonesia? ia juga seorang pendiri dan ketua Perkumpulan Bupati Sedio Moeljo yang didirikan tahun 1911. Semua aktivitas Koesoemo Oetojo dalam organisasi pergerakan itu ternyata tidak mengurangi kinerjanya sebagai bupati. Justru dengan masuk dalam organisasi, ia mnejadi lebih dekat dengan rakyat.” Kita diminta “mengangguk” tentang sejarah bergerak oleh dokter dan bupati, sejak awal abad XX. Boedi Oetomo menjadi ruang bersama meski mengandung beragam pertentangan dan perbedaan arah.

Pada setiap peringatan merujuk 20 Mei 1908, kita jarang mendapat imbuhan atau ralat keterangan sejarah dalam pidato para pejabat atau edaran buku-buku pelajaran. Kita telanjur mengingat itu sejarah “terpenting” memuncak pada 1945 melalui pengetahuan-pengetahuan samar terajarkan selama Orde Baru dan pembuatan tema-tema oleh pemerintah.

Pujian kepada kaum muda (Boedi Oetomo) berlatar sejarah abad XX disampaikan Slamet Muljana (1968) sebagai pengajaran untuk murid-murid di sekolah menengah atas: “… para peladjar sekolah dokter di Jakarta tahun 1908 jang mengusap duka si murba sudah sepantasnja mereka mendapat penghargaan. Memang hasilnja tidak sampai merata kepada rakjat semua karena kekuatannja terbatas pada pikiran dan tenaganja. Bahwa mereka itu sanggup mentjurahkan pikiran dan tenaganja untuk kepentingan bangsanja ketimbang orang-orang jang lebih besar kekuatannja dan lebih luas kekuasaannja, memandang itu sadja sebenarnja sudah tjukup pantas untuk mendapat penghargaan sebagai keturunan rakjat miskin jang pernah diperhatikannja.”

Sejarah memang memerlukan penilaian dan kemungkinan ralat-ralat setelah penggunaan buku-buku pelajaran dalam masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto. Pada abad XXI, ingatan 20 Mei 1908 masih berlaku sambil menanti hasil kerja para sejarawan diminta pemerintah menulis buku (babon) sejarah (resmi) nasional. Konon, penulisan sejarah itu telah memicu polemik-polemi di kalangan intelektual dan masuk pembicaraan (serius) di DPR. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo