Tanggal 27 menjadi puncak Ramadhan bagi masyarakat Muslim di Timur Tengah. Di malam tersebut, orang-orang berlomba-lomba melakukan amalan terbaik. Pasalnya, mereka meyakini bahwa tanggal tersebut merupakan malam lailatul qadar, malam yang disebutkan di dalam Al-Qur'an lebih mulia daripada seribu bulan.
Dilansir dari Story Rabat, malam ke-27 Ramadhan secara tradisional dipilih sebagai tanggal yang paling mungkin untuk lailatul qadar, malam terpenting di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, banyak orang Maroko menyajikan makan malam tradisional dan melaksanakan shalat tahajud di malam tersebut.
Masyarakat di Makkah dan Madinah juga merayakan malam tersebut sebagai malam lailatul qadar. Mereka berbondong-bondong meramaikan masjid pada malam tersebut dengan beriktikaf. Kehadiran mereka tentu dengan pengharapan yang sangat tinggi akan imbalan pahala yang besar dan pengampunan atas segala dosa, serta pengabulan seluruh doa, sebagaimana diwartakan Arab News.
Tak pelak, di malam 27 Ramadhan, jamaah masjid di sejumlah negara di Timur Tengah dapat dipastikan membludak. Hal ini tentu dilatari karena umat Islam hendak memperoleh kemuliaan lailatul qadar. Mereka melaksanakan berbagai amalan, seperti shalat malam hingga mendaras Al-Qur'an. Amalan-amalan itu menimbulkan atmosfer spiritual yang berbeda dari biasanya.
Perlakuan yang berbeda pada malam ke-27 juga merupakan upaya untuk menimbulkan kesan spiritual mendalam bagi anak-anak Maroko dalam menjalankan ibadah puasa mereka. Bukan saja ada sajian istimewa sebagai hidangan iftar (buka) mereka, tetapi suasana dan atmosfer yang tercipta dari khidmatnya beribadah tentu memberikan sentuhan tersendiri bagi mereka, sebagaimana dilansir Morocco World News.
Oleh karena itu, malam 27 Ramadhan bagi umat Islam di Maroko dan sejumlah negara lainnya di Timur Tengah bukanlah sekadar hari suci biasa. Ia lebih dari itu mengingat ada tradisi, ada perayaan, hingga hubungan keluarga dan persaudaraan yang kian erat.
Sebagaimana diketahui, lailatul qadar merupakan satu hari istimewa yang terdapat di bulan istimewa pula. Dijelaskan Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an, bahwa penyebutan lailatul qadar dalam Surat Al-Qadr menggunakan kata kerja fiil mudhari yang berarti bahwa malam tersebut terjadi pada masa kini dan akan datang.
Lailatul qadar yang menemui atau ditemui Nabi Muhammad Saw ketika beliau beriktikaf di Gua Hira dan mendapatkan wahyu untuk kali pertamanya. Karenanya, di antara upaya untuk mendapatkan lailatul qadar adalah beriktikaf di masjid sebagai sebuah tempat suci yang di dalamnya terdapat berbagai kebajikan. Pada 10 malam terakhir Ramadhan itulah, Nabi Muhammad Saw memberikan teladan beriktikaf, berdoa, dan bertadarus, sebagaimana dikisahkan Quraish Shihab.
Syakir NF
Jurnalis tingkat muda. Peserta program Micro-Credential di Amerika Serikat, Beasiswa non-Degree Dana Abadi Pesantren Kementrian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan LPDP dan Lembaga Pendidikan di Amerika Serikat.
Editor: Kendi Setiawan


