Di pinggir jalan-jalan kota besar seperti Jakarta, jika memasuki awal Ramadan, kota semacam pesta spanduk saja, bertengger di sana sini, berjuntai di jembatan penyeberangan, menempel di pohon-pohon saat mengembuskan O2 maupun CO2. Tak jauh beda dengan saat musim pemilihan umum saban 5 tahun itu.
Ukurannya tentu saja beragam sesuai pesanan. Ada yang dipasang berdiri atau panjang ke bawah atau menyamping. Pemesan bisa memilih antara 0,5 x 1 m, 1 x 1 m, 1 x 1,5 m, 2 x 3 m, 2 x 4 m, 3 x 4 m, 4 x 6 m, dan 5 x 3 m.
Ya, omzet tukang spanduk di kota-kota besar, menjelang Ramadan, bisa diperkirakan lumayan meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Mungkin hampir sama dengan pesta lima tahunan.
Spanduk-spanduk itu tidak kosong tentunya. Ada ungkapan-ungkapan yang diulang-ulang sebagaimana tahun sebelumnya. Tukang spanduk pasti menyimpan filenya dari tahun ke tahun. Dia hanya mengedit tahun versi Hijriah dan Masehi serta gambar sesuai kemauan pemesan.
Di spanduk-spanduk itu biasanya tertera ungkapan “Marhaban ya Ramadhan” teriring kalimat “selamat menunaikan ibadah puasa” dengan diakhiri titimangsa Masehi dan Hijriah yang paling aktual.
Spanduk-spanduk juga menerangkan pemiliknya. Mereka adalah ormas keagamaan, organisasi kepemudaan, partai politik, lembaga zakat, hingga perusahaan-perusahaan komersial yang bisa jadi pengemplang pajak.
Ada juga spanduk milik perorangan, misalnya anggota legislatif dari tingkat daerah sampai pusat, politikus, bupati, atau gubernur. Soal mereka diam-diam menipu, ingkar janji, menilap uang rakyat, tak perlu dikait-kaitkan. Yang penting adalah, marhaban ya Ramadan di spanduk agar menjadi bagian pihak yang bergembira memasuki bulan yang penuh berkah.
Sebagai tanda pemilik sah spanduk, dipasanglah logo organisasi atau perusahaan. Jika perorangan, gambar tuan pemilik terpampang dengan kedua telapak tangan beradu persis di depan dada. Gambar yang nyaris sama saat mereka mencalonkan diri.
Tentu saja, di gambar itu, si tuan pemilik berpakaian rapi. Jika laki-laki itu kepalanya ditutupi kopiah, sementara yang perempuan berkerudung berjuntai. Soal pakaian keseharian mereka, tak usah dikaitkan dengan gambar di spanduk itu.
Pada pertengahan Ramadan, lembaga zakat begitu agresif memasang spanduk. Lebih masif dibanding awal Ramadan. Mungkin seandainya mampu, setiap rumah, seluruh batang pohon, segenap jembatan penyeberangan, dan gedung-gedung ingin dispandukinya.
Lembaga zakat itu mengimbau kepada para dermawan untuk bersedekah dan mengeluarkan zakat fitrahnya melalui mereka. Dicantumkanlah nomor kontak amil dan nomor rekening.
Lembaga-lembaga zakat berniat dan bertindak sangat mulia, mereka akan menghubungkan dua pihak, yang berkemampuan dengan yang tidak berkemampuan. Singkatnya, lembaga-lembaga zakat itu akan menyalurkan titipan harta kepada pihak yang berhak. Soal sampai atau tidak, itu urusan lain.
Di akhir Ramadan, spanduk-spanduk itu didaur ulang dengan ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin” diiringi “Selamat hari kemenangan”. Kali ini, spanduk agak lain, ditambah gambar ketupat sebagai penanda khas makanan lebaran.
Sementara pemilik spanduknya tak jauh beda dengan pemilik spanduk marhaban ya Ramadan pada awal puasa. Sebagaimana awal puasa, spanduk menyambut lebaran perlu dipasang di mana-mana agar publik tahu dia berada di pihak yang mana.
Lalu, jika diuangkan, seluruh spanduk di tiap kota kira-kira berapa? Saya tak pernah menghitungnya dan tak akan pernah. Jika Saudara kurang kerjaan, cobalah dihitung sendiri.
Saya hanya ingin bermain-main berdasarkan ilmu kemungkinan tentang spanduk-spanduk itu. Pertama, mungkin bagi kalangan mereka, memasang spanduk memasuki puasa adalah syarat sah yang haram dilewatkan. Bahkan, mungkin termasuk salah satu rukunnya. Seolah kalau ditinggalkan, puasa tak berarti apa-apa, seperti debu yang menempel pada perempuan setengah telanjang di truk.
Bahkan, menjelang Ramadan tahun ini, ada ormas yang memasang spanduk tiga minggu sebelum puasa. Dia mencuri start dari spanduk-spanduk lain. Jika ada dewan juri, ormas yang dipimpin Hercules itu pasti pemenangnya.
Lalu, berdasarkan kemungkinan pula, saat memasuki puasa, spanduk-spanduk itu dicuri pedagang kaki lima atau warung-warung kecili pinggir jalan dan gang-gang sempit. Spanduk-spanduk itu bermanfaat bagi mereka karena cukup untuk melindungi orang tak berpuasa dari tatapan orang lewat.
Abdullah Alawi
Kolomnis, Penulis buku “Pemuda Nahdoh: Sejarah Awal GP Ansor Jawa Barat 1934-1941”
Editor: Muhammad Zunus


