Pada pagi hari yang mengendap pelan di Pelabuhan Sur, Oman, bau ikan, garam, dan doa bercampur dalam embun asin yang melayang-layang di atas meja-meja besi tempat ikan-ikan dijajakan tanpa malu. Darah dari seekor pari raksasa merembes, membentuk peta tak beraturan di lantai beton. Seekor sirip hiu menghadap ke arah timur, seolah menunjuk ke Jakarta, di seberang samudra, tempat seorang buruh migran tengah duduk di warung kopi, mengantarkan suara pulang melalui telepon umum. Laut, dalam satu embusan napasnya, menghapus batas, menggulung benua, dan menyulam takdir manusia yang tak saling mengenal.
Dalam In Asian Waters: Oceanic Worlds from Yemen to Yokohama (Princeton University Press, 2022), Sejarawan Eric Tagliacozzo mengarungi jejak-jejak asin itu, dari Nagasaki ke Hormuz, dari Surabaya ke Zanzibar, dari dermaga tua Bombay ke pelabuhan muda Pusan. Hal ini bukan sekadar peta, bukan sekadar riwayat perdagangan atau daftar muatan kapal. Ini adalah arsip dari napas dunia yang dihembuskan lewat layar perahu, lewat mata nelayan, lewat bayangan mercusuar dan bahasa yang teriakan-teriakan pasarnya menggema jauh sebelum mikrofon ditemukan.
Buku ini memecah gagasan tentang Asia sebagai daratan yang sunyi, terpisah oleh kebangsaan dan perbatasan. Laut adalah ruang yang lebih tua dari negara. Ia adalah cermin yang retak, memantulkan sejarah dalam pecahan-pecahan yang tidak pernah linear, tak pernah satu arah. Dalam satu halaman kita membaca tentang jimat Buddha yang hanyut ke teluk Bengal; di halaman liyan, perihal mercusuar kolonial yang berdiri seperti mata pengintai di Selat Karimata. Setiap bab adalah jendela yang dibuka menuju angin yang berbeda.
Tapi angin tak pernah netral. Ia membawa juga kekuasaan.
Kita membaca bagaimana Inggris menjadikan Samudra Hindia sebagai danau imperial, bukan hanya lewat kapal perang dan pajak, tapi lewat peta—ya, peta. Peta yang menata ulang laut sebagai milik, sebagai wilayah, sebagai proyek. Dan dari balik peta itu, kita melihat tangan-tangan kolonial yang memungut mutiara dari dasar laut, mengangkut trepang dan rempah dari pelabuhan kecil ke pusat kekaisaran. Perdagangan bukan hanya pertukaran barang, tapi juga bahasa, penyakit, iman, dan hierarki.
Namun bukan hanya kekuasaan yang menumpang di gelombang. Laut juga mengangkut harapan. Orang-orang yang terusir dari darat menemukan rumah sementara di atas perahu. Para pedagang dari Gujarat yang menyeberangi musim untuk menjual kayu manis di pesisir Vietnam. Para nelayan Makassar yang menangkap tripang di laut Tiongkok Selatan. Para ziarah yang menyelundupkan kitab, bukan karena takut pada Tuhan, tapi pada aparat. Agama-agama besar pun, yang kita sangka tegak di kuil dan masjid, ternyata mengalir dari pelabuhan ke pelabuhan—dalam bentuk jimat, lagu, atau mungkin hanya cerita lisan di dek kapal.
Ada keindahan yang hening dalam bab tentang kota pelabuhan. Bukan hanya karena kota-kota itu adalah mosaik dari pertemuan, tetapi karena mereka berdiri di antara air dan darat, menjadi perbatasan yang hidup. Kota seperti Singapura atau Aden bukan dibentuk oleh fondasi, tapi oleh arus. Mereka tidak dibangun, tapi tumbuh—seperti karang, pelan, memikat, mematikan. Mereka tidak mengenal homogenitas, tapi tahu benar seni bertahan hidup dalam kemajemukan.
Akan tetapi laut juga mengingat. Ia menyimpan bangkai kapal dan rahasia perdagangan manusia. Ia mengendapkan racun dan puisi. Dalam satu bab, Tagliacozzo membawa kita menyelam ke dalam catatan lingkungan: ikan-ikan nan punah, spesies yang diburu hingga langka demi pasar elit di utara. Kita membaca tentang perdagangan sirip hiu, mutiara, dan teripang, tapi juga memahami bagaimana eksploitasi mengubah arsitektur ekologi lautan. Laut tidak hanya memberi; ia juga luka yang menganga.
Pada bagian paling tajam dan puitis, buku ini membawa kita ke jantung kolonialisme visual—mercusuar. Bangunan itu tampak netral, bahkan penyelamat. Akan tetapi apa makna cahaya jika ia hanya menerangi rute-rute imperial? Dalam bab “Foucault’s Other Panopticon,” kita diajak meneroka bagaimana cahaya dipakai sebagai pengawas, bukan pembebas. Seperti mata Tuhan yang tidak pernah berkedip, mercusuar mengawasi pelayaran, mengatur waktu, menentukan siapa yang boleh berlayar, siapa yang harus karam.
Laut, pada akhirnya, bukan hanya ruang geografis. Ia adalah ingatan. Ingatan tentang mereka yang datang dan tidak kembali. Perihal tubuh-tubuh yang hilang di palung, tentang nama-nama yang dihapus dari peta, tapi hidup dalam lagu pelaut, dalam aroma rempah, dalam batu nisan tak bertuan di kota pelabuhan. Buku ini, dengan elegan dan teliti, menjadi ziarah ke tempat-tempat itu—bukan untuk memetakan, tapi untuk mendengarkan.
Apa yang membuat buku ini luar biasa bukan hanya kedalaman arsipnya—yang menyentuh manuskrip kuno, catatan kolonial, sampai wawancara lisan di desa-desa pesisir—tetapi cara penulisannya yang tidak pernah memaksakan kerangka. Ia membiarkan laut berbicara dengan caranya sendiri: kadang lembut, kadang menggulung. Kita tidak disuruh percaya; kita diajak merasakan.
Dan dalam merasakan itulah kita memahami bahwa sejarah bukanlah deret angka dan perang, tapi sesuatu yang lebih cair. Lebih asin. Lebih akrab dengan luka.
Tatkala dunia hari ini kembali berwicara tentang dominasi laut—tentang kapal militer, tentang klaim wilayah, tentang pulau buatan—buku ini datang sebagai pengingat bahwa laut tidak pernah bisa dimiliki. Ia bisa dipetakan, dijaga, dijarah, tapi tidak pernah tunduk. Kisahnya adalah sejarah pemberontakan nan halus, jaringan yang tak terlihat, pertukaran yang membangkang logika negara-bangsa.
Mungkin yang paling menggugah dari buku ini adalah bahwa ia tidak menawarkan simpulan. Ia menolak untuk menutup laut dengan simpulan apa pun. Ia hanya mengajak kita berdiri di tepi pelabuhan, memandang horison, dan bertanya: apa yang dibawa ombak hari ini?
Di dunia yang makin tertutup, makin takut pada percampuran, buku ini membuka pintu ke sejarah yang terbuka. Sejarah yang tidak dibatasi oleh tanah, tapi direntang oleh arus. Sejarah yang tidak bisa dikurung dalam silabus, karena ia hidup di atas ombak.
Ombak, seperti yang kita tahu, tak pernah diam.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Taufiq


