Makam pahlawan menjadi ketentuan penting untuk pengakuan tokoh dan sejarah. Pada 1949, Departemen Penerangan Republik Indonesia menerbitkan buku berjudul Pahlawan Pendukung Tjita-Tjita. Buku tipis tapi bersejarah. Kita simak pemaknaan pahlawan melalui makam: “Kalau wangi-wangian menjelimuti makam-makam pahlawan, meliputi taman-taman bahagia, kalau kembang-kembang mengharumi tempat sekitar djenazah-djenazah itu, kalau karangan bunga menghiasi batu-batu nisan, maka itu adalah hanja sebagian dari penghargaan masjarakat jang berdjoang kepada pahlawan-pahlawan jang gugur.”
Dulu, sebutan taman pahlawan sinonim dengan taman bahagia. Metafora tanpa harus berisi ratapan, air mata melimpah, atau jeritan atas derita. Pahlawan berjuang demi membahagiakan bangsa. Makam pahlawan itu alamat kehormatan dan doa-doa dipanjatkan.
Di buku Alam Fikiran dan Djedjak Perdjuangan Prawoto Mangkusasmito (1971) susunan SU Bajasut, ada pengisahan agak rancu berkaitan makam. Mohammad Roem dalam pidato di kuburan menjelaskan: “Alhamdulillah, kita semuanja sudah mengantarkan Pak Prawoto ke tempatnja jang terachir disamping Pak Fakih Usman. Kalau kita mengantarkan Pak Prawoto tidak ke taman pahlawan, tetapi saudara ingin melihat Pak Prawoto sebagai pahlawan, tidak ada suatu hal jang menghalangi. Sebab, pahlawan itu bukan ditentukan oleh tempat dimana dia dimakamkan, tetapi pahlawan itu ditentukan oleh djasa-djasanja.”
Sebutan taman pahlawan memang terkesan istimewa ketimbang permakaman umum atau keluarga. Pahlawan mungkin ingin dianggap telah memberi keindahan bagi bangsa-negara. Jasa para pahlawan mewangi sampai sekarang. Sebutan taman memastikan tempat itu dipelihara agar bersih, rapi, indah, sejuk, dan sakral.
Di Indonesia, taman makam pahlawan bakal ramai dikunjungi para peziarah saat peringatan Hari Kemerdekaan dan Hari Pahlawan. Keluarga, pejabat, mahasiswa, pramuka, atau militer sering berziarah: mendoakan pahlawan dan mengadakan upacara. Taman makam pahlawan jadi tempat membuka sejarah, mengenang biografi tokoh, dan mengerti situasi mutakhir di Indonesia. Peristiwa tabur bunga membuat taman makam pahlawan mewangi: terhindar dari kotor dan berantakan. Tatanan kuburan tertib dan rapi. Di taman makam pahlawan, sejarah Indonesia dihidupkan dengan memandang kuburan-kuburan dan pelbagai simbol berupa patung, monumen, atau bangunan.
Yudhistira ANM Massardi (1976) dalam puisi berjudul Semangat agak memberi cerita berbeda mengenai taman makam pahlawan: Sedang anak-anak bermain-main/ semangat untuk berjuang dikirim ke garis depan/ oleh para orang tua// anak-anak itu masih terus bermain/ Ketika dari garis depan para pejuang diangkut pulang/ oleh kawan-kawan yang hanya kehilangan telinga// “Aku mendengar! Aku mendengar!”/ teriak anak-anak, sewaktu doa dipanjatkan/ dan semangat dikobarkan lagi// Kemudian anak-anak lari ke Taman Pahlawan/ mereka menaburkan bunga, mengenangkan jasa lalu menangis. Kita diajak mengandaikan diri sebagai bocah dalam mengartikan perjuangan, kematian, pahlawan, bangsa, bermain, dan menangis.
Pemerintah mengadakan taman makam pahlawan di pelbagai kota. Kunjungan kita ke kota-kota bakal mendapati sejarah dan identitas terbentuk melalui makam. Kehebatan kota kadang dipengaruhi jumlah pahlawan dan kesanggupan pemerintah memperindah taman makam pahlawan. Kota tanpa taman makam pahlawan bakal memicu curiga tentang patriotisme dan nasionalisme. Konon, perjuangan kemerdekaan Indonesia diadakan di pelbagai kota dan desa. Pemimpin kota tanpa taman makam pahlawan bakal minder akibat sulit mengajukan tokoh-tokoh untuk dihormati dan diteladani dalam peringatan hari-hari nasional. Semoga semua kota di Indonesia memiliki pahlawan meski tak harus dikuburkan di taman makam pahlawan.
Kita pun berharap agar pemerintah pelbagai kota tak bersaing jumlah kepemilikan pahlawan. Mahbub Djunaidi (1990) pernah memberi sindiran: “Tidak semua pahlawan memang dimakamkan di taman pahlawan. Di antara mereka ada di pekuburan biasa dan tidak sempat didatangi pengunjung. Tapi, di mana pun mereka dikubur, semerbak nama tetap dikenang…” Kebijakan menguburkan para pendiri dan pembela bangsa di taman makam pahlawan memang penting tapi berakibat jarang diziarahi.
Pemerintah mengajarkan kita menemui pahlawan di pekuburan. Di tempat sepi, pahlawan jarang dikunjungi. Mereka tentu merindukan kita untuk berbagi nostalgia dan cerita. A Mustofa Bisri atau Gus Mus (1994) melalui puisi berjudul Di Taman Pahlawan membagi cerita percakapan para arwah pahlawan: Di taman pahlawan beberapa pahlawan sedang berbincang-/ bincang tentang keberanian dan perjuangan./ Mereka bertanya-tanya apakah ada yang mewariskan semangat/ perjuangan dan pembelaan kepada yang/ ditinggalkan/ Ataukah patriotisme dan keberanian di zaman pembangunan ini/ sudah tinggal menjadi dongeng dan slogan?
Puisi itu sindiran pada kita agar mawas diri dan tetap memperhitungkan gelisah para arwah pahlawan. Mereka terus bersuara saat Indonesia terlalu ramai dongeng dan slogan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


