Dark
Light
Dark
Light

Humor Madura: Antara Lucu dan Lugu?

Humor Madura: Antara Lucu dan Lugu?

Pagi itu, hari pertama, acara pelatihan kompetensi dosen PTKI, yang direncanakan berlangsung selama 7 hari. Lokasi acara di Jogja. Pesertanya dari lintas kampus, termasuk luar Jawa. 

Masuk di sesi pertama. Perkenalan. Narasumber—atau lebih tepatnya disebut fasilitator—tanya satu persatu tentang nama dan asal peserta. Dan sebagaimana lazimnya momen perkenalan, cenderung monoton, datar-datar saja. 

Namun agak berbeda saat tiba giliran peserta yang duduk di kursi tengah. Nama lengkapnya Muhammad Ayatullah Mujahidin, asal Sumenep Madura, biasa dipanggil “Cecep”. Hah? Serius, ini memang serius. Nama Muhammad Ayatullah Mujahidin, biasa dipanggil Cecep. 

Lanjut ke peserta berikutnya. Di pojok belakang. Pria dengan wajah sumringah dan berbadan agak tegap memperkenalkan diri. “Nama saya Syaifullah Alim, asal Sollo (sengaja ditulis double “L” untuk menyesuaikan dengan logat bicaranya yang memang khas”. 

Fasilitator menanyakan kembali, “dari mana?” 

“Sollo pak,” jawab Ipul, panggilan akrabnya. 

Jawaban Ipul tersebut rupanya memuai protes dari teman lain yang sudah kenal. “Bohong pak,” kata teman-temannya. 

“Ayo mas, serius asalnya dari mana?” tanya fasilitator lagi.

“Beginni pak. Rumah saya di Pasuruan. Kampus saya di Probolinggo. Saya orang Madura swasta (maksudnya orang keturunan Madura yang berada di Pulau Jawa). Dan saya juga dari Sollo”.

“Kok bisa begitu mas, dari Solo?” fasilitator semakin penasaran.

“Iya pak. Saat perjalanan menuju Jogja lokasi acara pelatihan, saya kan memang lewat Sollo. Dan benar kan, kalau saya bilang dari Sollo,” imbuh Ipul. 

Forum pecah tertawa hahaha. 

Ternyata benar, orang Madura adalah koentjie. Sebab acara pelatihan 7 hari, sudah bisa dibayangkan sejak dari rumah masing-masing peserta: pasti membosankan! Beruntung ada orang Madura. Acara 7 hari pelatihan lumayan “terhibur”.

Saat coffee break, sebagian peserta yang mungkin kali pertama satu forum dengan orang-orang Madura, masih terngiang dan lanjut tertawa. “Itu teman kita yang dari Madura, antara lucu dan lugu ya,” kata salah seorang peserta dari Makasar.

Lucu dan Lugu?

Kalau diperhatikan dengan seksama, perangai orang-orang Madura, yang oleh kebanyakan orang dianggap lucu (mengandung humor, bahkan dikenal dengan istilah “humor Madura”), dan juga lugu, sesungguhnya tidaklah selalu tepat. Dianggap lucu dan lugu adalah kesan dan penilaian seseorang. Sementara bagi orang Madura, bertutur kata seperti dalam forum yang diceritakan di atas, merupakan hal biasa, lumrah, natural.

Mari saya ajak beralih ke luar forum pelatihan. Suasananya waktu itu sedang ishoma (istirahat, salat, dan makan). Terlihat banyak peserta yang antri mau masuk lift. Di baris paling depan sudah ada orang Madura. Lalu terdapat peserta lain dari belakang berlari sambil memanggil dan mengejar temannya yang lebih dulu masuk lift. Rupanya telat. Muatan lift sudah penuh.

Dengan pede, orang Madura yang bernama Samsudin bilang dan memencet tombol lift: “Sabar bu. Mohon antri. Biarkan lift berangkat dulu. Kita naik lift berikutnya”. Adakah yang janggal dari ucapan ini?

Mestinya tidak ada. Tetapi coba perhatikan pilihan diksinya. “Biarkan lift berangkat dulu. Kita naik lift berikutnya” merupakan ungkapan sebagaimana pengalaman orang-orang Madura naik kendaran. Lift dipersepsikan sebagaimana motor atau mobil, maka tidak heran kalau diksi yang digunakan adalah “berangkat” dan“naik”. Apakah ini cermin keluguan orang Madura? Ya mestinya biasa saja. Normal.

Kemudian saat mau makan di restoran hotel. Setiap peserta selalu ditanya oleh biasanya perempuan yang berjaga di depan pintu masuk. “Maaf, dari (rombongan) mana bapak?"

Kali ini orang Madura swasta bernama Misnawi yang menjawab. “Dari kampus STAI Situbondo Jawa Timur”.

“Oh, dari romobongan UIN Sunan Kalijaga, bapak?” kata penjaga resto. 

“Bukan, tapi dari kampus namanya Sekolah Tinggi Agama Islam di Kota Situbondo Jawa Timur,” imbuh Misnawi memberikan penjelasan lebih lengkap.

“Iya bapak. Penyelenggara kegiatan ini adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan bapak menjadi peserta dari acara ini”.

“Oiya, benar begitu. Makasih,” jawab Misnawi tersipu malu.

Sekali lagi, adakah yang salah dari obrolan orang Madura di atas? 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ali Usman
Peneliti Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo