Dark
Light
Dark
Light

Kisah Husairim, Jemaah Haji yang Berangkat ke Surga via Jalur Khusus

Kisah Husairim, Jemaah Haji yang Berangkat ke Surga via Jalur Khusus

Para petugas PPIH Arab Saudi sempat dibuat frustrasi lantaran penjelasan mereka tidak diterima Husairim Sopli Zainal, jemaah haji asal Ogan Komering Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. Kakek berusia 70 tahun ini menganggap umrah wajibnya tidak sah karena merasa belum mengelilingi ka’bah (tawaf) dan sa’i.

“Padahal tadi dia sudah melaksanakan,” kata seorang petugas yang berjaga di depan posko sektor khusus Masjidil Haram terminal Syib Amir, Makkah. 

Khalilurrahman, Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah yang kebetulan melakukan peninjauan di sektor khusus itu, berusaha menjelaskan ulang kepada Husairim.

“Bapak, bapak tadi sudah niat umrah dan sudah melaksanakan tawaf dan sai menggunakan jasa pendorong kursi. Itu berarti bapak sudah umrah”.

Penjelasan Khalil diabaikan. Husairim tetap ngotot bahwa dirinya belum melaksanakan umrah karena petugas pendorong tidak bilang kepadanya.

“Tapi bapak tadi sudah mengelilingi Ka’bah dan sai kan? Itu bapak sudah umrah. Mereka yang memakai kursi roda memang tidak di bawah tapi di atas. Benar enggak?” tanya Khalil.

“Iya saya tadi melihat tapi saya tidak diberi tahu sama pendorong itu,” jawab Huzairim.

Saat Kadaker menjelaskan kembali, dua orang petugas pembimbing ibadah, KH Abdul Moqsith Ghazali dan KH Syarif Abubakar ikut nimbrung. “Bapak, ini ada dua kiai. Beliau ini jadi pembimbing haji kita,” kata Khalil kepada Huzairim.

“Kalau tadi bapak sudah niat umrah dan sudah dibawa muterin Ka'bah lalu didorong lewat jalan panjang (sai) itu sudah sah, Pak,” ujar Kiai Syarif.

Kalau anak bapak belum tiba, kata Kiai Syarif, itu karena anak bapak tawafnya di bawah yang padat. “Kalau bapak kan di atas jadi sampai duluan,” ujar dia.

Ekspresi Husairim terlihat datar. Penjelasan Kiai Syarif tampaknya belum terlalu memuaskan dirinya.

Kiai Abdul Moqsith Ghazali yang sebelumnya diam, kini mulai ambil ancang-ancang. Ulama ahli fiqih asal Sumenep Madura ini membukukkan badan sembari menjelaskan:

“Bapak sudah umrah. Bapak itu pakai jalur khusus. Nanti ke surganya juga pakai jalur khusus, tanpa dihisab.” Mendengar penjelasan itu, Huzairim tersenyum. Dia takluk dan yakin kalau dirinya sudah melaksanakan umrah wajib.

“Terima kasih penjelasannya. Saya mau tunggu anak saya,” kata dia.

Huzairim berangkat haji bersama anaknya. Selama melaksankan umrah wajib, ia mendapat jasa pendorong kursi yang disewa oleh anaknya.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo