Setelah Nahdlatul Ulama berdiri di Surabaya pada akhir Januari 1926, tugas memperkenalkan ke cabang-cabang bentukan baru tidaklah mudah. Motif mempertahankan ajaran dan praktik Islam Ahlussunah wal Jamaah yang diusung NU pada kenyataannya mendapat dukungan masyarakat secara luas. Namun, perkumpulan ini terus didera cibiran, dan hampir setiap cabang NU menghadapi tantangan serupa dari kelompok dan organisasi yang lebih dulu berdiri.
NU Cabang Cirebon— yang kemudian jadi tuan rumah Muktamar ke-6 tahun 1931– misalnya, melaporkan tantangan yang dihadapi di daerahnya. Sebagian kalangan, terlebih dari organisasi Persis melontarkan tuduhan bahwa anjuran taklid kepada salah satu mazhab empat yang dilakukan oleh NU semata-mata untuk kepentingan isi perut.
Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), dan Persis (1923) yang mengikuti pandangan-pandangan Timur Tengah, gencar menyerang sistem madzhab, tradisi, dan budaya lokal yang selama ini menjadi “identitas keagamaan” ulama tradisional (M Mukhsin Jamil: 2007). Bahkan, secara vulgar Muhammadiyah gencar mengkampanyekan praktik keagamaan yang mencampuradukan dengan tradisi lokal sebagai praktik sesat yang menyesatkan.
Tudingan-tudingan serupa juga meluncur dari kelompok cendekiawan di awal berdirinya NU. Mereka, yang oleh KH Muhammad Hasyim Asy'ari disebut sebagai ahlul ilmi— menuduh pendirian NU bertujuan mencari kedudukan dan kekayaan. Dengan nada sarkasme, ahli ilmu itu malahan meminta agar penamaan Nahdlatul Ulama diganti.
Melalui terbitan majalah Swara Nahdlatoel Oelama edisi ke-5 Jumadil Awwal 1348 H, halaman 83, KH Hasyim Asy'ari, selaku Rais Akbar NU menyampaikan tanggapan.
اعلموا ايها الاخوان قد ارسل بعض اهل العلم الينا يطلب تغير لقب نهضة العلماء زعما منه ان النهضة لا تكون الا تطلب الجاه والمال ،افتها ما منه من قول ابن مالك رحمه الله: كمبتغى جاه ومالا من نهض، فكتبنا هذه الاحرف اليسيرة
“Ketahuilah saudara-saudara, sebagian ahli ilmu telah mengirim surat kepadaku agar mengganti nama Nahdlatul Ulama, sebab organisasi ini dituduh hanya berorientasi mencari kedudukan dan kekayaan. Mereka berpendapat dengan merujuk ucapan Ibnu Malik: seperti orang yang bersemangat mencari harta dan pangkat. Maka dari itu, saya perlu menuliskan respons terkait hal itu.”
Kiai Hasyim lalu melanjutkan tulisan dengan mengupas kata Nahdlah dengan harakat fathah. Nahdloh berarti gerakan atau kebangkitan. Kemudian kata nahdloh jika disandarkan pada kata ulama, maka memberikan arti kebangkitan, atau gerakan para ulama yang orientasinya adalah mengarah pada kebaikan secara tradisi maupun agama.
وكذا اذا قلت نهضة العلماء فلا يكون الا خيرا عرفا او شرعا لاشتمال العلماء على الانبياء والخلفاء الراشدين ومن ثم كان بغض العلماء حراما او كفرا والعياذ بالله
“Begitupula, saat engkau sebutkan Nahdlatul Ulama, maka orientasinya adalah kebaikan secara urf atau syara', sebab kata ulama mencakup para Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Oleh karena itu, membenci ulama itu dilarang (haram) atau kufur. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu.”
Penjelasan Kiai Hasyim terkait penamaan Nahdlatul Ulama ini menjadi sangat penting untuk dipahami, terlebih banyak kalangan yang belum memahami makna sesungguhnya dari Nahdlatul Ulama, sehingga memunculkan banyak tuduhan.
KH Hasyim Asyari kembali menjelaskan:
فاذا قلت كان من فلان نهضة كنهضة العلماء فالمعنى كان منه حركة كحركتهم في طاعة الله والدعاء اليها وان لم يكن عالما مجتهدا وكذلك نحن
“Apabila engkau katakan, bangkitnya seseorang itu seperti bangkitnya para ulama, maka maksudnya adalah aktivitas orang itu seperti aktivitas para ulama dalam ketaatannya kepada Allah dan ajakan taat pada Allah, meskipun dia belum selevel alim mujtahid. Begitupula kita (para ulama dalam Nahdlatul Ulama belum level alim mujtahid).”
Dari tulisan itu, kita juga mendapati sifat rendah hati Kiai Hasyim. Hadratussyaikh menegaskan bahwa seseorang—termasuk dirinya— yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama bukan berarti sebagai ulama:
لا ندعى اننا نحن العلماء وانما نهضنا نهضة العلماء على حسب وسعنا وطاقتنا الى طاعة الله والدعاء اليها
“Kami tidak serta merta mengaku sebagai ulama, akan tetapi gerakan kita itu adalah gerakan yang sesuai dengan para ulama (yang mencakup para Nabi dan khulafaur Rasyidin) yang berusaha sesuai kemampuan untuk taat kepada Allah dan mengajak masyarakat taat kepada Allah.”
Ulasan KH Hasyim Asyari juga memperjelas bahwa jamiyyah Nahdlatul Ulama adalah sebuah gerakan profetik yang mengusung misi kenabian dan para sahabat serta mengajak umat untuk taat kepada Allah.
Di bagian akhir surat, Kiai Hasyim mengutip kalam Ibnu Athaillah di Kitab Hikam:
لا تصحب من لا ينهضك حاله ولا يدلك على الله مقاله
“Jangan bersahabat dengan orang yang tingkah lakunya tidak menggerakkanmu menuju Allah dan ucapannya tidak memberikan petunjuk padamu untuk ingat kepada Allah.”
Editor: Muhammad Zunus


