LELAKI itu sungguh malang. Tepat di depan Rumah Sakit Islam di Surabaya, dia terkapar dengan berlumur darah. Dia tak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Sontak, seorang pria yang melihatnya segera membawanya ke rumah sakit.
Tidak hanya itu, dia juga dengan sigap mengurusi masalah administrasi sebelum pihak keluarganya datang. Tak ada pikiran lain kecuali menyelamatkan jiwa lelaki yang terkena musibah itu. “Saya tak peduli siapa dia, juga apa agamanya,” kata pria itu.
Pria itu adalah Naen Soeryono – 60 tahun, Ketua Persatuan Warga Sapta Darma (Persada). Walau dilahirkan dari keluarga yang menganut ajaran Bapa Panuntun Agung Sri Gutama, sejak kecil dia menjadi penghayat ajaran Sapta Darma.
Menjadi penghayat ajaran Sapta Darma adalah pilihannya sendiri tanpa adanya paksaan dari siapa pun. “Sebab ajaran ini memang luar biasa. Menuntun manusia pada keluhuran. Dengan ajaran ini, manusia pun bisa yakin akan Tuhan yang hakiki itu,” akunya.
Kisah tentang penyelamatan korban kecelakaan itu disampaikannya untuk menegaskan bahwa seorang penghayat Sapta Darma sangat menghargai orang sekali pun memiliki keyakinan yang berbeda.
“Sapta Darma mengajarkan di mana dan kapan pun penghayatnya harus bersinar laksana surya. Maksudnya, di tempat apa pun dan waktu kapan pun warga Sapta Darma harus berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang apa agamanya,” katanya.
Ia juga bercerita tentang kebiasaan kawan karibnya -- yang juga menganut ajaran Sapta Darma. Tiap pekannya, sang kawan ini selalu memberikan makanan kepada orang miskin di sekitar tempat tinggalnya.
Sikapnya yang murah hati itu merupakan wujud dari ajaran Sapta Darma untuk berbuat baik kepada siapa saja tanpa memandang apa agamanya. “Perbuatan kawan saya itu mungkin sama dengan berkah jumat dalam Islam,” ucapnya.
Hal itu sesuai dengan ajaran Sapta Darmo, dia percaya bahwa sebelum mentas ke dunia, manusia diberikan tugas oleh Tuhan untuk mewujudkan kasih sayang kepada sesama dan alam semesta.
Baginya, semua ajaran spiritual atau religius menuntun orang pada kebaikan dan penghargaan terhadap manusia. Hanya orang yang tak mau memahami ajaran itulah yang kemudian bersikap intoleran terhadap ajaran yang berbeda dengannya.
Sikap toleransi yang demikian juga penghayat Sapta Darma lakukan kepada penghayat kepercayaan lain. Selama ini, ia memandang penganut kepercayaan seperti Kapribaden, Kapitayan, dan Dharma Murti bukan sebagai musuh atau saingan, melainkan sebagai saudara. Selayaknya saudara, ia pun bersedia untuk mengulurkan tangan pada mereka dan duduk berbarengan dengan mereka tanpa adanya kebencian.
“Mungkin kalau di Islam ada NU dan Muhammadiyah. Yang membedakan itu di antaranya yang satu memakai qunut, yang satu tidak,” tuturnya. “Begitu juga dengan penghayat kepercayaan. Yang membedakan cuma tata cara ibadah atau dupa yang dipakai. Namun sejatinya tetap menuju pada Gusti Allah.”
Karena itu, Naen mengajak pada organisasi agama dan ajaran leluhur lain untuk sama-sama hidup rukun dan berdampingan. Bukan malah mengurusi kebenaran ajaran lain.
Baginya, tugas terpenting yang perlu dilakukan oleh mereka adalah memperhatikan kesejahteraan umat dan kerukuan hidup dengan umat lainnya.
Sikap itulah yang mendorong penganut Sapta Darma mengutuk setiap tindakan intoleransi. Menurut Naen, Sapta Darma tak pernah mengajarkan pada umatnya untuk menolak atau bahkan mencerca mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda.
“Dalam Sapta Darma itu diajarkan opo seng mok tanem, yo iku seng mok panen (apa yang kamu tanam, yaitu yang kamu panen). Artinya bahwa seseorang yang melakukan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Sebaliknya, mereka yang melakukan keburukan akan dibalas dengan keburukan,” jelasnya.
Naen pun menambahkan bahwa penganut Sapta Darma harus tahu betul dengan konskuensi yang ia perbuat. Dalam hal ini, intoleransi adalah perbuatan yang menyakiti hati orang lain, sehingga tak patut untuk dilakukan oleh penganut Sapta Darma.
Ia mengumpamakan perbuatan itu dengan tindakan pemukulan atau pemfitnahan. Jika tidak mau dipukul tentu tak boleh memukul. Begitu pula dengan seseorang yang tidak ingin difitnah tentu dia tidak akan memfitnah orang lain. Sehingga menghindari tindakan intoleransi menjadi langkah yang terbaik agar tidak mengalami tindak intoleransi.
“Pada taraf yang lebih hakiki kita tidak boleh berbuat jahat pada orang lain karena ada ruh Tuhan dalam diri manusia. Karena bagaimana pun, Tuhan menciptakan kita dengan kesucian,” tuturnya.
=============
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama.
Muhammad Akbar Darojat Restu Putra
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya
Editor: Muhammad Zunus


