Tiap perut senantiasa butuh makan. Sejarah makan menentukan banyak tokoh dalam perjalanan hidupnya. Di Klaten, Jawa Tengah, pernah menjadi masa kecil Forentinus Gregorius Winarno. Pria yang kerap disapa F.G. Winarno itu lahir pada 15 Februari 1938. Babak demi babak kehidupan tidaklah semulus sampai kemudian ia dikenal sebagai Bapak Teknologi Pangan Indonesia.
Kondisi keluarganya yang jauh dari kata cukup, menjadi semangat besar dalam caranya meniti kehidupan. Kita berpikir makanan yang kerap membersamai di banyak waktunya. Para orangtua di banyak tempat kadang mudah mengatakan, “makanannya apa anak itu?” untuk menuntaskan rasa penasaran bocah yang terlampau cerdas. Kita membaca biografi F.G. Winanro dalam buku garapan J.B. Soedarmanta, F.G. Winarno: Bapak Teknologi Pangan Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 2011).
Winarno menempuh Sekolah Menengah Pertama di Madiun, sementara Sekolah Menengah Atas di Kota Solo. Soedarmanta memberi keterangan mengenai makan. Ia menulis: “Tetapi makanan yang hingga kini masih menjadi kegemaran Winarno adalah kerupuk gendar yang sedikit gosong dan sambal lethok. Sambal lethok adalah masakan sederhana tetapi enaknya bukan kepalang bagi Winarno, dan sehat bagi rumah tangga dengan ekonomi pas-pasan. Lethok atau yang biasa dikenal di daerah Surakarta dengan sebutan sambal tumpeng adalah hidangan tradisional orang kecil.”
Makanan membentuk biografi Winarno. Ia kemudian turut serta menyumbang gagasan ilmu makan untuk Indonesia. Selepas Sekolah Menengah Atas, ia melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB). Mulanya mengambil jurusan Kedokteran Hewan kemudian berpindah ke Teknologi Pengolahan Pangan. Selesai dari IPB, ia melanjutkan studi ke University of Massachussets di Amerika Serikat. Memperoleh gelar master pada 1968 dan doktor ilmu pangan dua tahun setelahnya.
Winarno menjadi sosok yang pamrih dalam produksi ilmu dalam teks. Diterangkan J.B. Soedarmanta: "Tak kurang 98 buku dalam Bahasa Indonesia ditulisnya, di samping sejumlah buku yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Buku-buku itu berhubungan dengan ilmu pangan, gizi, serta teknologi pascapanen. Buku-buku Winarno digunakan sebagai pegangan mahasiswa ilmu dan teknologi pangan.”
Literasi Pangan
Kita ingin menengok salah satu karya Winarno berjudul, Kimia Pangan dan Gizi (Gramedia, 1984). Buku penting untuk acuan memahami gizi secara keilmuan. Winarno membabarkan istilah-istilah dalam makan. Keterangan demi keterangan di dalam buku sebagai ajakan bersama untuk memahami bahwa peristiwa makan adalah perkara ilmu dan pengetahuan. Dalam konteks mutakhir, tentu itu akan berkesinambungan dengan gagasan pihak pemerintah.
Kita ketahui bersama, direncanakan mulai tahun 2025 dicanangkan program makan gratis untuk anak-anak sebagai bagian dari perbaikan gizi. Hal yang telah dilakukan di antaranya dengan membuat Badan Gizi Nasional yang menopang keberjalanan program tersebut ke depannya. Acuan makan, kiranya menarik bila persoalan makan juga berimplikasi pada tumbuh dan kembang kesadaran pengetahuan akan gizi.
Andi Hakim Nasoetion bersama Amini Nasoetion pernah menghibur kalangan anak dengan buku bacaan berjudul Penilaian Terhadap Matahari, Manusia, dan Makanan (Balai Pustaka, 1983). Mereka membayar janji akan pengetahuan demi pengetahuan adalah bagian penting di dalam kehidupan sehari-hari. Mereka membuat acuan bahwa buku kemudian menggerakkan raga untuk menelaah hal-hal yang berada di lingkungan sekitar.
Keterangan mengenai makanan dijelaskan berupa: “Makanan sehari-hari kita harus mengandung sumber energi, zat pembangun dan pemelihara jaringan tubuh, dan zat pelindung. Sumber energi, kita tahu harus mengandung karbohidrat dan lemak. Zat pembangun dan pemelihara ialah protein, sedangkan zat pelindung ialah vitamin dan mineral.”
Dalam puisi kita hendak mengingat sebuah puisi garapan Seno Subro berjudul "Ke Sekolah" di buku puisi berjudul Nyanyian Sepanjang Musim (Tiga Serangkai, 1984). Larik demi larik terbaca: Sebelum matahari terbit,/ anak-anak telah bangun,/ menjalankan ibadah subuh,/ tak lupa mengabdi pada Tuhan,// Di sumur,/ anak-anak membersihkan badan,/ sarapan pagi tak dilupakan,/ perut yang terisi menguatkan badan//.
Kita mengerti, makan menjadi ritual penting dan berharga di dalam rumah. Para orangtua memiliki misi khusus menyiapkan anak-anak mereka ke sekolah. Mereka membuka percakapan di meja makan sebelum merestui anak-anaknya ke sekolah. Dengan demikian, gizi tak melulu terletak pada peranan pendidikan atau keberadaan program resmi. Keluarga memiliki relasi erat akan pengetahuan dengan berdasar pada kebudayaan yang berkembang di tiap rumah. Makan bukan persoalan kenyang, namun ada kesadaran terhadap pengetahuan.
Kesemuanya tak terlepas sebagai upaya mengingat bersama. Di situasi mutakhir, dengan laju kehidupan yang makin cepat, berpengaruh pada banyak lini di keseharian. Pengetahuan gizi terkadang luput dari perhatian sebagai bagian tumbuh dan kembang anak.
Saat orangtua terlalu membiarkan anak-anaknya mengonsumsi aneka makanan instan, tak peduli bagaimana gizi di dalamnya. Di saat itu pula percakapan di meja makan mengenai pengetahuan makan juga mulai surut.
Keberadaan progam makan gratis bagi kalangan anak perlu dijadikan upaya untuk membangkitkan kembali percakapan mengenai gizi dan makanan. Ia sebentuk tindakan untuk memacu kondisi yang terjadi. Makan membentuk biografi seseorang. Tak melulu pada keberlimpahan, akan tetapi juga pada kesederhanaan. Dengan acuan kemauan untuk terus memahami pengetahuan sebagai jalan tempuh kehidupan.
Joko Priyono
Fisikawan Partikelir. Penulis “Buku Bersandar pada Sains” (2022)
Editor: Muhammad Zunus


