Indonesia bertambah usia. Segala impian disusun sejak 1945 belum semua terwujud. Kita kadang malah bersedih gara-gara impian itu terlalu jauh dan mustahil terwujud. Kini, kita ingin mengenang dan mengimpikan Indonesia dan beras. Sejak dulu, beras itu impian terlalu muluk untuk mencukupi dan memakmurkan Indonesia.
Di Kompas, 8 Agustus 2024, opini ditulis Yusuf Wibisono berjudul Rekor Impor Beras dan Darurat Alih Fungsi Sawah. Wibisono seakan mengajak kita membaca nelangsa. Ia menjelaskan: “Impor beras dalam jumlah yang sangat signifikan jelas menandakan bahwa ketahanan pangan kita rapuh. Impor beras yang terus meroket dalam dua tahun terakhir ini menjadi ironis karena baru pada 2022 kita menerima penghargaan internasional dan swasembada beras periode 2019-2021.” Indonesia sah menjadi importir pangan terbesar di dunia.
Agustus, kita berpikir sejarah (kemerdekaan) Indonesia meski urusan beras belum bisa dirampungkan. Peringatan sejarah itu memberi sedih bila mengingat jumlah sawah di seantero Indonesia terus berkurang. Kita menanti saja beras menjadi pokok persoalan dalam pidato Presiden Joko Widodo saat berpidato di DPR atau berpetuah dalam puncak peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2024.
Kita menanti pidato atau petuah sambil mengenang masa lalu. Pada masa 1920-an, Balai Pustaka menerbitkan novel-novel biasa teringat dengan masalah pernikahan. Para pembaca dibujuk memikirkan pernikahan berkaitan adat, modernitas, agama, pendidikan, kapitalisme, dan lain-lain. Di sekolah sekolah, novel-novel itu dihadirkan sebagai sinopsis. Murid-murid kesulitan membaca novel-novel lama gara gara bahasa dan selera estetika tapi berharap bisa mengerjakan soal-soal ujian. Mereka biasa mengingat masalah “kawin paksa” atau perselisihan pernikahan akibat perbedaan paham antara kaum kuno dan kaum modern.
Kita membuka novel berjudul Azab dan Sengsara gubahan Merari Siregar. Novel terbit awal pada 1920. Kita membaca lagi dalam cetakan 1986. Pembaca tak lekas ke masalah pernikahan. Percakapan suami-istri saat malam. Mereka memikirkan masa depan anak lelaki beranjak dewasa. Suami terkejut mendengar keterangan istri tentang kelelahan anak setelah bekerja. Istri memberi penjelasan memicu debat: “Ia menolong mencangkul sawah mak Mariamin. Hari ini ia libur sekolah karena hari besar. Karena itu ia pergi tadi pagi ke Siporok. Petang inilah baru ia pulang. Tentu ia sudah letih.”
Anak itu bernama Aminuddin. Ia mengerti kemodernan di sekolah. Pada saat tak masuk sekolah, ia membawa raga ke sawah. Pikiran berpijak tanah dan berangan pangan. Bekerja membantu keluarga sengsara. Lelah di sawah mengakibatkan ia mudah tidur pulas. Pada saat tidur, ia tak mengetahui percakapan orangtua.
Istri memberi penjelasan lanjutan: “Melihat-lihat sawah mereka itu artinya menolong mereka itu mengerjakan sawah karena kalau sawah mereka itu tiada dicangkul dan ditanami, apalah yang akan dimakan mereka itu bertiga beranak? Sekarang orang sudah hampir menanam padi, akan tetapi sawah mereka belum habis dicangkul.” Kutipan mengingatkan kebutuhan pangan. Orang-orang membutuhkan beras. Sawah menjadi sumber. Bekerja di sawah itu melelahkan dan berat. Nasib keluarga (miskin) ditentukan sawah jika ingin tetap bisa makan nasi setiap hari.
Kehidupan itu beras. Memperoleh beras tak mudah. Kita mengandaikan para pembaca novel berselera Balai Putaka itu mengarah tema pangan (beras). Pilihan tema itu agak menunda tergoda memikirkan asmara atau adat. Di novel Azab dan Sengsara, beras mengajak pembaca berpikir nasib kaum miskin, kolonialisme, pekerjaan-pekerjaan baru, dan lain-lain. Kebutuhan beras dalam ketegangan tata kehidupan modern dan ikatan-ikatan agraris.
Pembaca dihadapkan dua dunia: sekolah dan sawah. Pada awal abad XX, sekolah dianggap bisa mengubah nasib. Masa depan bakal berbeda jika ilmu-ilmu diperoleh di sekolah digunakan dalam pekerjaan-pekerjaan baru. Orang tak perlu lagi berlumpur di sawah demi mendapatkan nafkah. Orang lulus sekolah memiliki kemungkinan bekerja menghasilkan uang. Ia membelanjakan uang dalam memenuhi beragam kebutuhan pokok, termasuk beras. Kesadaran pokok: uang dan beras. Pemerolehan beras dengan cara pembelian.
Di lakon hidup desa atau tradisional, keluarga-keluarga tetap memiliki kebiasaan agar bisa makan harus tekun menggarap sawah. Mereka beranggapan kerja dan keringat menghasilkan padi. Hasil itu dibawa pulang menjadi beras. Di keseharian, beras dimasak menjadi nasi. Kehidupan di rumah dimengerti “cukup” jika tersedia beras. Mereka mengetahui dan mengalami bekerja di sawah itu berat. Beras mula-mula untuk kebutuhan keluarga, belum lekas diartikan sebagai dagangan.
Di luar Balai Pustaka, kita membaca Hikayat Kadiroen (1920) gubahan Semaoen. Pada 2000, novel diterbitkan lagi oleh Bentang. Dulu, novel itu berbeda haluan dengan misi-misi Balai Pustaka atau pemerintah kolonial. Novel berselera gugatan atau perlawanan. Semaoen memunculkan tokoh pergerakan politik kiri. Tokoh bernama Tjitro berpidato di alun-alun. Ia menjelaskan nasib terpuruk kaum jelata atau miskin: “Semenjak itu, maka di Hindia lalu ada spoor atau kereta api tram, pabrik gula, pabrik beras dan sebagainya. Pabrik-pabrik di Hindia ini bisa menyewa tanah atau membeli hasil bumi buat diolah di pabrik. Karena itu, pekerjaan para petani lalu juga terdesak. Hal itu jelas mengurangi produksi padi atau beras. Kalau dibandingkan dengan pertambangan penduduk, produksi itu tidak mampu lagi mengimbangi keperluan hidup rakyat di Hindia.
Masalah besar awal abad XX di tanah jajahan: beras. Kolonialisme dan kapitalisme menentukan lakon beras. Pidato disampaikan saat “zaman susah” dan “hidup melarat”. Seruan-seruan kepada para buruh dan petani menghendaki perubahan nasib. Tjitro fasih memberikan penjelasan dan argumentasi agar tercipta kemakmuran. Ia mengunggulkan ide-ide dilaksanakan kaum kiri. Misi terbesar: “… di seantero Hindia ini tidak akan ada lagi kelaparan dan kesusahan.”
Kita berpikiran tentang beras dalam kutukan kapitalisme. Beras menjadi masalah terpenting untuk pembentukan dan pembesaran gerakan kiri di tanah jajahan. Beras belum diangankan sebagai wujud kemakmuran tapi menghindari kelaparan. Abad XX menjadi abad kesengsaraan pangan meski bermunculan kebaruan-kebaruan sebagai girang modernitas.
Gerakan kiri dan beras mendatangkan petaka-petaka berupa pemenjaraan dan pembuangan. Kita mengenang masa 1920-an dengan gejolak kiri dan penertiban dilakukan penguasa kolonial. Ganjaran bagi orang-orang berseru kiri dan menjelaskan kemiskinan untuk perlawanan: pembuangan ke Boven-Digoel. Kaum terjajah tetap melarat. Keinginan berlimpah beras justru mendapat ledekan kebijakan-kebijakan kolonial dan kaum modal.
Situasi tak terlalu berubah pada masa 1930-an. Orang-orang tetap memerlukan beras untuk hidup. Beras malah berada di zaman buruk gara-gara malaise atau depresi besar. Sengsara makin melanda. Pada 1933, novel-novel terbit di tanah jajahan masih biasa mengisahkan kemelaratan. Kita membuka novel berjudul Kalau Tak Untung (1933) gubahan Selasih. Novel ini memang meminta pembaca bersedih sejak halaman-halaman awal. Keluarga miskin masih bisa makan tapi kekurangan. Di rumah dihuni bapak, ibu, dan dua anak, beras masih ada untuk diolah menjadi nasi. Mereka dalam kemelaratan tampak dalam pangan.
Kita membuka kembali novel lama dalam cetakan 1956. Selasih menulis: “Dalipah pergi ke dapur diambilnja garam sedikit, digilingnja halus-halus dan digaraminja nasi Rasmani. Iba benar rupanja hati Dalpiah melihat adiknja makan dengan garam itu, tetapi apakah jang akan dikatakannja, suatupun tak ada jang dapat diberikannja untuk pemakan nasi oleh adiknja itu.” Bapak dan ibu masih bekerja di sawah. Pemerolehan pangan terbatas. Mereka bekerja dengan lelah tanpa hasil melimpah. Beras memang tetap tersedia tapi kemelaratan tak memungkinkan makan enak.
Keluarga itu masih memiliki pengharapan: sekolah. Dua anak masuk sekolah meski si sulung berhenti. Masa depan masih mungkin disusun saat Rasmani sekolah meski dihadapkan beragam masalah, kecaman, dan suratan nasib. Kalau Tak Untung mengingatkan kita dengan Azab dan Sengsara. Sawah memang sumber pangan tapi ada pilihan bekerja mendapat uang. Beras tak selalu mengingatkan lelah dan keringat. Beras bisa berada di rumah asal memiliki uang.
Tiga gubahan sastra dari masa lalu memunculkan masalah-masalah besar berlatar masa kolonial. Para pembaca berhak memilih masalah pernikahan, politik, pendidikan, adat, keperempuanan, dan lain-lain. Kita justru menemukan masalah pangan. Suguhan cerita memuat masalah beras. Kehidupan sengsara di Sumatera dan Jawa memunculkan pemaknaan beras. Di keseharian, beras itu pangan. Di lakon kolonialisme dan kapitalisme, beras itu komoditas dijelaskan dalam kekuasaan dan raihan uang. Kita mengetahui usaha-usaha kecukupan pangan tapi sadar masa lalu itu seolah mengabsenkan “kemakmuran” dan “kebahagiaan”.
Beras teringat kembali dalam persembahan cerita oleh Merari Siregar, Semaoen, dan Selasih saat kita mengalami abad XXI tetap dengan gejolak (harga) beras dan tuntutan keberagaman pangan di seantero Indonesia. Buku-buku dari masa lalu itu menguak masalah beras meski kita telat membaca dan mencatat. Begitu.
============
Baca kumpulan KOLOM atau tulisan lainnya dari BANDUNG MAWARDI
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


