Pada masa 1980-an, Rhoma Irama bersenandung tentang teman. Ia tak selalu mengajak pendengar berimajinasi asmara. Teman pun penting selain kekasih atau sosok pujaan. Lagu berjudul “Teman” ingin berbagi nasihat. Rhoma Irama memang terbiasa bernasihat melalui lagu. Para pendengar boleh berjoget asal tetap mengetahui pesan-pesan bijak atau nasihat.
Orang-orang mungkin tak menganggap “Teman” itu lagu terbaik Rhoma Irama. Kini, kita mendengarkan lagi mumpung politik di Indonesia sering ruwet. Lirik dibuat Rhoma Irama: tetapi dulu teman-temanku/ setiap saat datang padaku/ memang bila orang sedang jaya/ siapa pun menyanjungnya/ tapi bila dia jatuh susah/ lenyap semua temannya/ itulah dunia/ yang dipandang hanyalah benda. Lirik tak puitis. Kita bisa saja bosan bila cuma membaca lirik lagu. Rhoma Irama menjadikan itu merdu dan lembut dengan garapan musik khas dangdut.
Dulu, orang biasa memberi sebutan teman atau kawan. Kita mudah bergantian menggunakan dalam tuturan atau tulisan. Di lagu-lagu gubahan AT Mahmud, “kawan” laris dalam lirik ketimbang “teman”. AT Mahmud tak bermaksud membedakan makna teman atau kawan. Ia memiliki pertimbangan nada jika memilih diksi “kawan”. Diksi itu dianggap cocok dalam jagat imajinasi anak-anak. Rhoma Irama memilih “teman”. Pilihan sebutan untuk mengisahkan kehidupan kaum dewasa. Kita menganggap “teman” dan “kawan” itu sinonim.
Kita meragukan dua kata itu sinonim boleh membuka Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1954) susunan Sutan Mohammad Zain. Di halaman 797, kita membaca: “teman mula-mula artinja hamba, sahaja, atau pengiring orang besar-besar, tetapi sekarang kawan atau sahabat.” Pengertian dalam kamus itu mengandung “kekuasaan”. Kamus sedikit mengingatkan kata dan makna meski sekarang kita memastikan teman dan kawan itu sinonim.
Para masa kolonial, “teman” itu cerita dan jenaka. Kita tergoda membaca buku lama berjudul Teman Doedoek (1936). Buku berisi cerita-cerita buatan M Kasim. Tokoh dianggap sebagai perintis cerita pendek di Indonesia. Buku kecil dan tipis berjudul Teman Doedoek tak mudah dicari saat sastra Indonesia abad XXI keranjingan dalam penerbitan buku-buku kumpulan cerita mutakhir.
Pihak penerbit (Balai Pustaka) memberi keterangan: “Kasim kenal betoel-betoel akan tempat sekelilingnja, akan keadaan dan pikiran orang-orang jang bergaoel dengan dia. Tahoe ia dimana tenaga dan dimana kelemahan masing-masing…. Karangan tjerita jang girang-girang dan penoeh kedjenakaan jang haloes demikian, sajang, kalau ia lenjap oleh rapoehnja hidoep segala isi madjalah dan soerat kabar berkala. Sebab itoe kami balik-balik lembar-lembar Pandji Poestaka antara tahoen 1931 dengan tahoen 1935 oentoek mengoempoelkannja mendjadikan boekoe, jang moedah didapat dan dibawa-bawa.”
M Kasim tak menulis cerita berjudul “Teman Doedoek”. Penggunaan diksi “teman” sengaja dijadikan untuk judul buku. Pembuat judul oleh pengarang. Penjelasan disampaikan Balai Pustaka: “Teman Doedoek, demikian boekoe ini dinamakan oleh toean M Kasim, jang setoedjoe dengan maksoed kami menerbitkan tjerita-tjerita pendeknja ini. Menilik kepada isinja tjerita-tjerita waktoe doedoek bersenda-goerau setengah jang terdjadi benar dan setengah dibawa-bawa keenakan bertjakap-tjakap, sesoenggoehnjalah nama itoe telah tepat benar, dan moedah-moedahan boekoe ini benar mendjadi teman doedoek bagi pembatja.” Teman duduk itu buku, bukan manusia.
Pada masa berbeda, para pembaca akrab dengan “bacaan sekali duduk”. Pembaca cerita pendek cuma memerlukan waktu sebentar untuk khatam. Kita menemukan perbedaan kesan antara “teman duduk” dan “bacaan sekali duduk”. Diksi “teman” digunakan dalam penerbitan buku (kumpulan) cerita itu mengesankan “teman” tak selalu manusia. Pada babak berbeda, orang-orang membaca buku kumpulan cerita berjudul Kawan Bergeloet (1941) gubahan Soeman Hs. Ia mengajukan diksi “kawan” mengarah sosok manusia. Di sejarah sastra, “teman” dan “kawan” ikut membujuk pembaca mengetahui pengertian dan dampak dalam suasana berbeda.
Kita tinggalkan masa kolonial. Pada abad XXI, “teman” dan “kawan” tetap seru dipelajari. Kita membuka Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia (2016) susunan Eko Endarmoko. Di halaman 323, kita membaca sinonim kawan: “dongan, handai, ikhwan, kanti, kenalan, kompanyon, komplot, konco, koneksi, kroni, mitra, nyapang, rekan, saki, sejawat, sekutu, serikat, syarik, teman, tolan, bendu, sahabat, saudara, sobat, sohib.” Kita diajak mengetahui beragam kata meski tak disertai keterangan asal dan perubahan arti.
Ingatan-ingatan dari masa lalu melalui lagu, sastra, dan kamus membekali kita setelah menonton rekaman sosok terkenal di Indonesia mengucap “teman-teman”. Ia menjelaskan bonus demografi di Indonesia. Tuturan mengesankan akrab dengan jutaan orang di seantero Indonesia. Kita sadar ucapan-ucapan itu berada dalam jagat politik. Kita iseng saja memikirkan “teman” dengan arah berbeda ketimbang berdebat panjang mengenai tokoh atau masalah. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


