Belanda di masa lalu hampir tak ada baiknya. Apa saja yang berkaitan dengannya, Belanda hampir bisa dipastikan dipandang buruk. Stereotipe ini bukan saja melekat pada Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, tetapi juga para akademisi yang menjadi aktor intelektual dalam setiap kebijakan pemerintahannya.
Christian Snouck Hurgronje adalah satu di antara sosok yang menjadi pemberi pertimbangan dari kebijakan-kebijakan yang diterapkan di Hindia Belanda. Segala tindak-tanduknya, dulu dan kini tiadalah bagus-bagusnya.
Namun siapa sangka, figur ini ternyata menerima sanjungan dari para ulama Nusantara. Snouck dipandang memiliki kecakapan pengetahuan agama Islam yang mumpuni. Ia juga pernah menjumpai sejumlah ulama penting di Tanah Suci Makkah, dari Syekh Nawawi al-Bantani hingga Sayyid Ahmad Zaeni Dahlan.
Tentu saja ia sudah mendaku diri sebagai Muslim dengan menyandang nama berbahasa Arab, Abdul Ghaffar. Sebagian orang beranggapan bahwa keislaman Snouck itu sebagai sebuah kamuflase, strategi dirinya agar mudah diterima masyarakat Nusantara. Naga-naganya strategi atau Keislamannya itu benar-benar diakui. Tidak saja masyarakat awam, semestinya memang ia menarget para kiai. Tak pelak, sebagian ulama Nusantara justru menyebutnya sebagai saudara seislam, bahkan lebih dari itu.
Hal ini terungkap dalam buku C. Snouck Hurgronje dan Wajah Islamnya garapan Ahmad Ginanjar Sya'ban. Buku ini merupakan himpunan 30 surat ulama Nusantara kepada sosok dewan pertimbangan agama bagi pemerintahan Hindia Belanda itu. Surat-surat tersebut ditemuinya saat bertungkus-lumus dalam Perpustakaan Universitas Leiden yang menyimpan segudang manuskrip Nusantara, termasuk surat-surat dan catatan seorang Snouck.
Keislaman Snouck
Apakah keislaman Snouck betul-betul tulus karena hidayah? Pertanyaan besar ini mengawang di benak sejumlah orang.
Pieter Sjoerd van Koningsveld menulis bahwa setidaknya ada tiga macam peralihan agama yang dilakukan akademisi Eropa, yakni (1) berislam permanen; (2) berislam secara paksa; dan (3) berislam secara tidak tulus, seperti demi perkawinan atau untuk mendapatkan akses ke tempat tertentu. Namun, menurutnya, kasus Snouck ini berbeda. Snouck bukan saja mendapatkan berbagai macam keuntungan dari perpindahannya ke Islam, tetapi juga peralihannya bermula hanya sementara, lalu berlanjut menjadi permanen. Kesementaraan itu guna keperluan risetnya di Makkah sehingga mengharuskannya beragama Islam. (Conversion of European Intellectuals to Islam: The Case of Christiaan Snouck Hurgronje alias ʿAbd al-Ghaffār dalam Muslims in Interwar Europe: A Transcultural Historical Perspective, Leiden: Brill, 2016).
Namun bagi sejumlah kiai, keislaman dia hanyalah sebuah cara untuk masuk lebih dalam bak musuh dalam selimut. KH Wahid Hasyim, misalnya, yang mengakui bahwa Snouck tidak menentang Islam, tetapi kebijakannya justru membuat Islam itu harus tunduk. Pandangan Kiai Wahid ini diuraikan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (1987: 307).
"Cita-cita Islam juga dihadapi dengan apa yang dinamakan islamisme seperti yang dilakukan oleh Belanda lewat Snouck Hurgronje menghadapi Islam dan umat Islam itulah taktik yang disebut verwateren alias mencairkan politik. Snouck Hurgronje itu tidak menentang Islam atau memusuhi Islam dengan terang-terangan tapi Islam itu dijinakkan diberi interpretasi menurut paham mereka supaya dengan demikian ibarat sarang lebah yang membahayakan kaum penjajah seperti yang dikatakan oleh Lothrop Stoddard, tidak lagi merupakan ancaman karena sang lebah-lebah telah dibuang sengatnya dan yang tersisa tinggal madunya."
Sementara di sisi lain, ada juga para ulama yang menganggap Snouck sebagai seorang Muslim sejati. Betapa tidak, ia disebut sebagai seorang yang mendeklarasikan sebagai Muslim seperti ditulis Sayyid Abdullah bin Alwi al-Attas (Batavia) dalam suratnya bertitimangsa 7 Desember 1884 M. Sementara Sayyid Utsman menyapanya dalam surat dengan demikian tinggi, yakni al-Jannab al-Mukarram (Paduka Mulia), al-Nahrir al-Mufakhkham (Panutan yang Agung), Dzil Ilmil Munif (pemilik ilmu yang lurus), al-Ghaniyy 'an al-ta'rif (kebesarannya tak perlu didefinisikan), Azizuna wa Mahabbatuna (Tuan kamu dan cinta kami).
Surat Sayyid Utsman bin Yahya itu pernah diteliti oleh Nico J Captein dan termuat dalam bukunya tentang sosok Mufti Betawi ini. Profesor emeritus pada studi Islam Asia Tenggara di Universitas Leiden itu menjadikan surat tersebut sebagai satu di antara korpus dalam penyusunan bukunya yang diterjemahkan dalam judul Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda: Biografi Sayid Usman (1822-1914) yang diterbitkan Suara Muhammadiyah pada tahun 2017.
Di bagian akhir bukunya, Captein menyampaikan hubungan dua orang tersebut yang cukup erat meskipun keduanya memiliki jarak umur demikian jauh layaknya bapak dan anak. Ada satu masa Snouck tak sependapat dengan Utsman, meski keduanya tetap selayaknya sejawat yang sudah begitu akrab. Misalnya tentang doa Habib Utsman untuk pengangkatan Ratu Wilhelmina dan pemberian bintang untuknya yang ditentang Snouck, meski pada akhirnya ia juga menyampaikan selamat.
Selain dalam bahasa Arab, Snouck juga tampaknya fasih berbahasa Jawa, Sunda, dan Melayu. Bahasa lokal dua daerah terakhir memang dikuasai betul olehnya mengingat dia tinggal lama di wilayah tersebut. Di wilayah Sumatera, Snouck tinggal di beberapa tempat. Bahkan di Aceh, ia sempat tinggal lama untuk melakukan penelitian serius di sana. Sementara di wilayah Sunda, ia bahkan menikah dengan warga setempat.
Tak pelak, ia pun menerima surat dengan sepenuh pujian berbahasa lokal tersebut. Raden HM Noch dari Bogor, misalnya, yang menyapanya dengan istilah "gamparan", sebuah bentuk penghormatan. Pun dalam bahasa Jawa, Kiai Saleh Darat menyapanya dengan sebutan panjenengan.
Pujian-pujian tersebut entah disampaikan dengan sepenuh tulus atau sebagai alat pemulus? Wallahu a'lam. Namun, sejumlah surat memang disampaikan bukan sekadar untuk menyapa saja, tetapi ada kepentingan lain yang butuh tangan dingin seorang Snouck. Di situlah yang menjadi tanda tanya besar dan mestinya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Namun, satu yang pasti, kekaguman bernada pujaan Sayyid Utsman terhadap Snouck itulah yang membuat ulama asal Yaman ini diangkat menjadi Mufti Batawi. Snouck menulis keyakinan pentingnya Utsman bukan sekadar mufti, tetapi sekutu bagi Hindia Belanda. Kenapa? Snouck beralasan karena legitimasi Sayyid Utsman penting untuk menangkal gerakan tarekat. Bagi Sayyid Utsman, kelompok tarekat dianggap tidak benar, sedangkan Snouck memiliki tesis bahaya.
"Usman memiliki keberanian berdasarkan keyakinannya dan tidak akan menghentikan perjuangan. Yang demikian itu kita harapkan terutama juga karena para syekh dan para pengikut mereka merupakan musuh-musuh paling berbahaya terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, paling sedikitnya sama berbahayanya seperti kaum Sanusi terhadap kekuasaan Perancis di Aljazair." (Seorang Arab Sekutu Pemerintah Hindia Belanda. 1886. Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje VII. Jakarta: INIS. 1992)
Belum selesai
Tulisan Ginanjar hanyalah pintu masuk menuju riset yang lebih mendalam. Sebab, buku ini tidak jauh sebatas informasi sekilas tentang pengirim surat dan sosok yang dikiriminya, Snouck. Bahkan mengenai figur Haji Muhammad Nur bin Muhyiddin, penulis tampak masih menyimpan sedikit keraguan akan penjelasannya. Sebab, sebelum memungkasi penjelasannya mengenai sosok pengirim surat itu dengan frasa wallahu a'lam, ia mengajukan pertanyaan berkaitan dengan kesamaan sosok pengirim Haji Muhammad Nur itu sama dengan apa yang telah diuraikannya sebagai kakek guru dari Kiai Saleh Darat Semarang.
Hal lain yang belum selesai dari tulisan ini adalah soal substansi surat. Dalam penjelasan sejumlah surat, penulis tampak masih menguraikan isi surat itu di permukaan saja, belum lebih mendalam. Barangkali, hal tersebut karena keterbatasan data yang belum terjangkau atau belum terakses penulis.
Sejatinya karya Ginanjar ini perlu dilanjutkan dengan riset yang lebih mendalam lagi berkaitan situasi dan konteks di masanya. Dukungan data yang kuat dan akurat sangat dibutuhkan dalam upaya mengungkap sosok Snouck atau Abdul Ghaffar itu.
Misalnya saja, penelitian lanjutan bisa mengupas soal latar belakang di balik surat-surat tersebut. Dari situ, kita perlu menemukan penyebutan yang demikian terhormat kepada Snouck merupakan hal tulus dari para ulama atau demi tujuannya mulus. Penemuan surat balasan dari Snouck kepada para ulama tersebut tentu akan memberikan perspektif baru terhadap kajian ini.
Dari sisi linguistik, puji-pujian itu juga perlu dibahas secara lebih spesifik, baik dari sisi cakupan bahasa yang digunakan, pilihan diksi yang diterapkan, hingga kohesi dan koherensinya dengan substansi suratnya. Hal ini penting sebagai upaya untuk menemukan maksud yang paling dalam dari disampaikannya surat tersebut.
Syakir NF
Jurnalis tingkat muda. Peserta program Micro-Credential di Amerika Serikat, Beasiswa non-Degree Dana Abadi Pesantren Kementrian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan LPDP dan Lembaga Pendidikan di Amerika Serikat.
Editor: Muhammad Zunus


