Dark
Light
Dark
Light

Novel Anne of Green Gables, Anak-Anak dan Desa

Novel Anne of Green Gables, Anak-Anak dan Desa

Barangkali, desa, dalam pembentukan biografi anak-anak lebih meyakinkan ketimbang kota. Desa, dengan segala kebudayaan, tatanan hidup, dan limpahan alamnya menghadirkan begitu banyak cerita untuk direguk tubuh anak-anak. Cerita itu, memungkinkan imajinasi mereka berkeliaran menembus batasan wilayah dan menggerakkan raganya sepanjang waktu.

Di Kanada, Lucy M. Montgomery, pada tahun 1908, menulis sebuah novel berjudul Anne of Green Gables. Kisah dipercayai sebagai bacaan anak klasik terbaik. Penjualannya mengalahkan Harry Potter, To Kill a Mockingbird, dan Gone With the Wind. Kita patut percaya, buku tetap laris hingga kini. Tersebut judul series selanjutnya: Anne of Avonlea (1909), Anne of the Island (1915), Anne of Windy Poplars (1936), Anne’s House of Dreams (1917), dan Anne of Ingleside (1939).

Anne of Green Gables (1908), mengandung segudang pesan menyangkut feminisme, agama, kemanusiaan, pendidikan, relasi masyarakat, persahabatan, dan politik. Semua berpadu dalam cerita yang menghibur. Mata tidak bosan untuk terus membaca. Di hadapan pesan-pesan itu, desa, tempat Anne tumbuh pantas untuk ikut dijajarkan. Desa menjadi perhatian penting untuk turut disorot.

Dikisahkan, Anne, gadis yatim piatu yang akan pindah ke keluarga barunya terkesima menatap rangkaian pemandangan sepanjang perjalanan dari panti asuhan menuju rumah barunya. Di Newbridge, sebuah desa kecil padat dengan anjing-anjing menggonggongi mereka, anak-anak lelaki kecil berteriak, dan wajah-wajah ingin tahu mengintip di balik jendela. Kejadian itu menggugah kebahagiaan di hati Anne. Desa, penuh dengan kehidupan.

Kedatangan pertamanya di rumah Green Gables, desa Avonlea, membuat Anne menemukan kebahagiaannya: “Mata Anne yang mencintai keindahan menelusuri hal-hal itu satu persatu, merekam semuanya dengan teliti. Dia telah melihat banyak sekali tempat yang tidak indah selama hidupnya, sungguh anak yang malang; tetapi, semua pemandangan ini seindah yang pernah ia impikan."

Di desa itu, Anne mengenal beragam jalan, pohon, bunga, padang rumput, taman, rumah, danau dan sederet manusia dengan beragam karakter. Beragam hal ia namai seturut imajinasinya: “Seharusnya orang tidak menyebut tempat indah itu jalan utama saja. Tidak ada artinya nama seperti itu. Mereka seharusnya menyebutnya-sebentar, kupikirkan dulu-Jalan Putih nan Membahagiakan.” Peristiwa itu berlanjut pada penamaan Danau Air Riak Berkilau, Permadani Violet, Kanopi Kekasih dan nama lainnya. Di mata Anne, desa adalah tempat terbaik mengekspresikan imajinasi.

Dalam Bunga-Bunga Hari Esok (1983) gubahan Sasmito, desa juga ikut hadir pada kisah Guritno dan adiknya, Pucung. Bocah piatu itu kembali dirundung duka saat ayahnya ikut berpulang. Biografinya genap menjadi  yatim sekaligus piatu.

Secara bahasa, kata yatim piatu merujuk pada ketiadaan orang tua untuk merawat dan bertanggung jawab pada anak. Tetapi, di desa, kata yatim piatu berubah arti menjadi milik bersama. Warga desa bahu membahu menjadi wali bagi Gurit dan Pucung. Desa, menjadi miniatur keluarga. 

Desa mengambil alih peran orang tua melalui para tetangga: “Pucung, engkau harus tetap sekolah. Biarlah aku nanti yang akan membiayai sekolahmu.” Lalu, Bu Pungkur kembali berucap di waktu lain: “Kebun di sebelah barat “kedung” itu boleh kamu ambil hasilnya, Gurit. Peliharalah. Tanamlah singkong atau apa saja yang kamu kira dapat menghasilkan sesuatu…”. Warga desa bertanggung jawab atas nasib anak-anak.

Desa, banyak memberikan kenangan manis dalam benak anak-anak. Kecuali, pada masa kolonialisme. Kartini merekam keadaan desa sebagai sumber sengsara sekaligus derita. Semasa kecil, pada usia dua belas tahun, Kartini harus tunduk pada adat pingitan yang diamini masyarakat. Kenangan itu ia rekam dalam suratnya tertanggal 25 Mei 1899: “Empat tahun, yang tak terkira lamanya, saya berkhalwat di antara empat tembok tebal, tidak pernah sedikit juapun melihat dunia luar. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu- hanya yang saya ketahui masa itu amat sengsaranya.”

Lalu, secara geografis, dalam surat tertanggal 12 Januari 1900, desa memilukan untuk ditatap: “Tahun yang lalu dusun nelayan terendam air selama seminggu… Itu belum lagi Demak, daerah pemerintahan Pamanku, di mana tanahnya tidak bisa dimakmurkan, apapun yang orang usahakan. Dari celaka yang satu orang tiba pada celaka yang lain. Di musim panas kali-kali pada kering dan di musim hujan meluap membanjiri tanah garapan.”

Kartini tidak hanya merasakan, tetapi ikut merekam kondisi anak-anak desa di zamannya. Dikisahkan dalam buku berjudul R.A Kartini (1985) gubahan Tashadi, suatu hari Kartini bercakap-cakap dengan seorang anak penjual rumput berusia 6 tahun. Anak itu sedang berjalan melalui depan rumahnya sambil menjajakan rumput yang dipikulnya. Karena tubuhnya yang kecil, penjual rumput itu sama sekali tidak tampak, seolah-olah ada dua berkas rumput di jalan.

Ayah Kartini segera memanggil anak itu dan mereka mendengar cerita, seperti ratusan, kalau tidak ribuan lainnya. Anak itu tidak berayah. Ibunya pergi bekerja. Di rumah masih ada dua orang adik. Ia yang sulung. Kartini memberinya makan, tetapi tidak dimakan. Nasinya dibawa pulang untuk dimakan bersama adik-adiknya. Pikiran dan hati Kartini merasa berkecamuk melihat kondisi itu. Desa, dalam hidup Kartini di Nusantara akhir abad ke-19 adalah nestapa dan kelaparan.

Kini, di era modern, desa mengalami pergeseran peran dalam pembentukan biografi anak-anak. Gawai, penyempitan lahan karena perumahan, eksploitasi alam, dan westernisasi perlahan meniadakan cerita-cerita dalam desa. Anak kehilangan ruang pendidikan yang turut mengembangkan pembentukan biografinya. Barangkali, kita perlu kembali merajut dan menguatkan kembali sendi-sendi kebudayaan dalam desa, karena bukan hanya persoalan geografis, desa adalah jantung pendidikan dan kebudayaan untuk anak-anak. 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo