Pada malam 12 Oktober 2002, Bali meledak dan Indonesia terguncang. Dunia segera menamai peristiwa itu sebagai terorisme Islam. Jaringan global. Al Qaeda. Kata-kata itu bekerja dengan cergas. Ia menjelaskan sekaligus menjauhkan. Kekerasan terasa laksana sesuatu yang datang dari luar. Dari dunia liyan. Dari Timur Tengah nun jauh.
Buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia (Komunitas Bambu, 2011) karya Solahudin merusak kenyamanan itu. Ia menolak jarak aman. Ia memaksa pembaca melihat ke dalam. Ke masa lalu. Ke sejarah Indonesia sendiri. Terorisme, dalam buku ini, bukan tamu gelap yang datang tanpa undangan. Ia tumbuh dari tanah yang sama dengan republik ini berdiri.
Bom Bali bukan awal. Ia adalah hasil. Ia adalah simpul dari ideologi, jaringan, dan kegagalan politik yang telah menumpuk selama puluhan tahun. Dengan ketekunan hampir obsesif, Solahudin menelusuri bagaimana kekerasan religius menjadi mungkin, masuk akal, dan bahkan dianggap sah oleh sebagian kecil warga negara Indonesia.
Solahudin adalah seorang sejarawan dan jurnalis, serta pakar terkemuka dalam gerakan jihad di Indonesia. Ia memulai penelitiannya tentang jihadisme setelah serangan bom Bali pada Oktober 2002, sebagian karena keinginan untuk mengungkap asal-usul gerakan di balik serangan tersebut. Buku karyanya perihal gerakan jihad di Indonesia ini, merupakan bestseller di Indonesia dan telah memicu diskusi luas di negara tersebut di kalangan media, akademisi, dan komunitas agama.
Solahudin bekerja sebagai peneliti utama bersama tim Lowy Institute dalam laporan Lowy Institute 2011, “Talib or Taliban? Indonesian Students in Pakistan and Yemen.” Titimangsa 2013, ia juga bergabung dengan Indonesia Strategic Policy Institute (ISPI) untuk mendirikan basis data kekerasan ekstremis di Indonesia. Ia juga meneliti gerakan politik dan agama di Papua, serta sejarah Islam di sana.
Solahudin telah bekerja lebih dari satu dekade sebagai jurnalis dan aktivis kebebasan pers, termasuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dari 2001 hingga 2003. Upayanya dalam kasus kekerasan terhadap jurnalis termasuk berhasil bertindak sebagai mediator dalam pembebasan dua jurnalis Belgia yang disandera di Papua pada 2001. Dia juga menjadi anggota tim mediasi yang bernegosiasi untuk pembebasan salah satu jurnalis Indonesia yang ditahan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) titimangsa 2004. Solahudin wafat pada Jumat, 26 Desember 2025.
Menulis Terorisme Tanpa Rasa Aman
Solahudin tidak menulis buku yang menenangkan. Ia tidak memberi musuh yang mudah. Ia juga tidak menawarkan akhir yang bersih. Buku ini tidak menghibur negara. Justru sebaliknya. Ia membuka arsip yang seharusnya tetap terkunci. Ia bekerja dengan dokumen pengadilan, arsip internal kelompok jihad, dan wawancara dengan bekas pelaku.
Ia mendekati terorisme bukan sebagai patologi kejiwaan, melainkan sebagai praktik sosial dan politik. Kekerasan diperlakukan sebagai tindakan rasional dalam kerangka tertentu. Pendekatan ini berbahaya bagi kenyamanan publik. Ia meruntuhkan mitos bahwa terorisme lahir dari kegilaan. Dalam buku ini, terorisme lahir dari keyakinan. Dari sejarah. Dari logika yang dibentuk oleh pengalaman panjang tentang kekuasaan dan pengkhianatan.
Luka Awal Republik
Akar terorisme Indonesia, menurut Solahudin, tidak dapat dilepaskan dari Darul Islam. Gerakan ini lahir dari konflik awal republik. Dari perasaan tersisih. Dari keyakinan bahwa negara baru telah mengingkari janji moralnya. Kartosuwirjo membangun lebih dari sekadar pemberontakan bersenjata. Ia membangun teologi politik. Negara Islam Indonesia bukan sekadar proyek kekuasaan. Ia adalah jawaban atas rasa kecundang. Atas kekecewaan terhadap negara sekuler yang dianggap gagal menunaikan amanat ilahi. Dalam doktrin Darul Islam, pemerintah yang tidak menerapkan hukum Islam dipandang tidak sah. Melawannya menjadi kewajiban. Kekerasan tidak lagi bersifat defensif. Ia menjadi alat pembentukan negara. Di titik inilah jihad berubah menjadi bahasa politik yang mematikan.
Tatkala Darul Islam dikalahkan secara militer pada awal 1960-an, negara mengira masalah selesai. Solahudin menunjukkan betapa keliru pembacaan itu. Kekalahan tidak membunuh ideologi. Ia justru memaksanya beradaptasi. Gerakan terbuka berubah menjadi jaringan bawah tanah. Struktur hierarkis digantikan sel kecil. Ideologi dipertahankan melalui doktrin hijrah dan kesabaran. Negara menang di medan perang, tetapi kalah dalam membaca waktu.
Darul Islam tidak mati. Ia menunggu. Ia menyusup. Ia mengendap dalam ingatan dan jaringan. Dalam buku ini, sejarah tidak bergerak lurus. Ia berputar. Kadang menghilang. Lalu muncul kembali dengan wajah baru.
Logika Abu-Abu
Bagian paling politis dari buku ini adalah pembacaan terhadap Orde Baru. Solahudin menulisnya tanpa romantisasi. Rezim ini tidak hanya memerangi ekstremisme. Ia juga memanfaatkannya. Komando Jihad pada 1970-an menjadi contoh paling telanjang. Negara melalui aparat intelijen bermain di wilayah abu-abu. Beberapa faksi Darul Islam direkrut. Sebagian dibiarkan bergerak. Sebagian lain dikorbankan. Kekerasan menjadi alat pengelolaan ancaman. Dalam logika ini, ekstremisme religius lebih mudah dikendalikan dibanding oposisi sipil yang demokratis. Selama kekerasan bisa diarahkan, ia dapat ditoleransi. Negara tidak selalu menjadi benteng. Kadang ia menjadi laboratorium.
Tatkala represi meningkat, Darul Islam menemukan bahasa baru. Hijrah. Bukan sekadar migrasi fisik. Ia adalah strategi politik dan spiritual. Menyingkir untuk bertahan. Menghilang untuk hidup. Doktrin ini memungkinkan jaringan jihad tetap eksis di bawah tekanan negara. Ia juga membuka ruang bagi regenerasi. Generasi baru direkrut. Ideologi diperbarui. Bahasa diperhalus. Solahudin menunjukkan bahwa hijrah bukan tanda kelemahan. Ia adalah bentuk adaptasi. Dalam sejarah ekstremisme, bertahan sering kali lebih penting tinimbang menang.
Mitos Kemenangan Global
Perang Afghanistan mengubah segalanya. Bagi jaringan jihad Indonesia, Afghanistan bukan sekadar medan latihan. Ia adalah universitas ideologis. Di sana, kader Darul Islam bertemu Salafi Jihadisme. Pelatihan militer berpadu dengan doktrin anyar. Abdullah Azzam. Narasi jihad global. Mitos kemenangan melawan adidaya. Semua itu membentuk imajinasi baru tentang kemungkinan. Solahudin dengan cermat menunjukkan bahwa globalisasi jihad tidak menghapus konteks lokal. Ia justru memperkuatnya. Ide luar diserap ke dalam luka lama. Sejarah Indonesia bertemu geopolitik global dalam bentuk yang paling destruktif.
Jemaah Islamiyah sering dipresentasikan sebagai organisasi teror yang solid. Buku ini membongkar ilusi itu. JI penuh perdebatan. Tentang sasaran. Tentang legitimasi kekerasan. Tentang hubungan dengan jihad global. Tidak semua anggota mendukung serangan terhadap warga sipil. Tidak semua menerima fatwa Osama bin Laden. Bom Bali lahir dari faksi tertentu. Dari keputusan yang diperdebatkan. Dari konflik internal yang tidak terselesaikan. Dengan memaparkan dinamika ini, Solahudin menolak penyederhanaan. Terorisme tidak lahir dari keseragaman. Ia lahir dari retakan ideologis yang dibiarkan membusuk.
Negara, Ingatan, Politik Lupa
Buku ini pada akhirnya lebih banyak berbicara tentang negara tinimbang tentang teroris. Tentang bagaimana republik ini mengelola masa lalunya. Tentang kecenderungan untuk melupakan daripada memahami. Setiap ledakan diikuti ritual yang sama. Kutukan. Operasi keamanan. Janji tidak akan terulang. Lalu lupa. Sejarah dipotong menjadi peristiwa. Akar dibiarkan tersembunyi. Solahudin menolak politik lupa ini. Ia menulis dengan kesabaran sejarawan dan keteguhan jurnalis. Ia memaksa pembaca menghadapi kenyataan bahwa kekerasan adalah bagian dari perjalanan bangsa ini.
Ada satu hal yang terasa dingin dalam buku ini. Korban kekerasan jarang berbicara. Mereka hadir sebagai angka. Sebagai latar. Hal ihwal ini bukan kegagalan moral. Ini pilihan metodologis. Solahudin memilih menjelaskan pelaku. Dalam konteks Indonesia, pilihan ini politis. Negara sering menggunakan korban untuk menutup diskusi tentang sebab. Dengan menahan diri dari sentimentalitas, buku ini membuka ruang bagi percakapan yang lebih jujur. Tentang mengapa kekerasan terus berulang. Tentang peran negara dalam membentuk medan konflik.
Pesan paling tajam dari buku ini semenjana namun mengganggu. Terorisme tidak lahir dari kehampaan. Ia lahir dari sejarah. Dari keputusan politik. Dari tafsir agama yang berkelindan dengan kekuasaan. Selama negara menolak membaca masa lampaunya sendiri, kekerasan akan terus menemukan bentuk baru. Dengan nama baru. Dengan aktor baru. Dengan korban baru.
Solahudin telah melakukan pekerjaan yang jarang dilakukan. Ia menulis sejarah tanpa alibi. Tanpa jarak aman. Tanpa ilusi kesucian negara.
Arkian, bom Bali telah lama berlalu. Akan tetapi gema sejarahnya masih terdengar. Dalam setiap penangkapan. Dalam setiap propaganda. Dalam setiap kebijakan keamanan yang lupa bertanya mengapa.
NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia bukan buku tentang masa silam semata. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah republik hari ini. Membacanya berarti menerima bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Selama kita terus menghindarinya, sejarah itu akan terus kembali.
Al-Fatihah untuk alm. Solahudin.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus


