Ustaz Adi Hidayat (UAH) beberapa waktu lalu sempat viral karena potongan video pengajianya ramai diperbincangkan netizen. Dalam video tersebut, UAH menjelaskan mengenai hukum musik dalam Islam.
Video yang aslinya berdurasi dua jam lebih namun dipotong menjadi hanya beberapa menit itu, UAH menyebut bahwa bahwa surat Asy-Syu’ara merupakan surat musik.
Pernyataan ini memantik polemik. UAH dianggap menghalalkan musik, padahal dalam dinamika hukum Islam ada sebagian kalangan yang mengharamkan persoalan itu. Beberapa tokoh Islam merespons keras pendapat UAH. Mereka menilai pendapat UAH keliru.
Perdebatan perihal hukum musik ini kemudian meluas menjadi polemik antara Salafi dan Muhammadiyah. Pasalnya, orang-orang yang mengkritik pendapat UAH tersebut adalah mereka yang selama ini cenderung diasosiasikan sebagai kelompok Salafi. Sedangkan UAH sendiri ialah tokoh penting di Muhammadiyah. Diskusi lalu tidak lagi hanya berkutat pada hukum halal haram dari musik, tapi melebar pada gesekan antara Muhammadiyah dengan Salafi secara umum.
Asal Usul Salafi
Salafi atau Salafiyah menempati posisi penting dalam sejarah peradaban Islam. Selama kurang lebih tiga abad, Salafi mewarnai jalannya sejarah Islam. Menurut ulama Mesir, Prof Dr Ali Jum’ah, kata Salaf atau Salafiyah merujuk pada tiga abad pertama dalam perkembangan Islam yang biasa dikenal era Salafush Salih, yaitu era para Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Era tersebut dianggap sebagai masa terbaik dalam Islam sesuai dengan hadits Nabi:
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari Muslim).
Kelompok yang hari ini dikenal sebagai Salafi adalah mereka yang ingin menjalankan kehidupan sesuai dengan apa yang terdapat dalam tiga generasi awal Islam di atas. Keinginan tersebut muncul karena bagi orang-orang Salafi, umat Islam saat ini dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam seperti yang dipraktikkan oleh kaum muslimin di tiga era awal Islam. Umat Islam kontemporer dinilai telah terkontaminasi oleh praktik-praktik ibadah yang tidak pernah diajarkan dalam Islam.
Noorhaidi Hasan dalam Laskar Jihad Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia (2006), menyebut bahwa para Salafi percaya kalau perselisihan, konflik, ketidakstabilan politik, dan kekacauan ekonomi yang terjadi di banyak negeri muslim saat ini disebabkan karena umat Islam gagal untuk mengikuti praktik keberislaman yang dijalankan oleh Salafush Salih. Oleh sebab itu, misi utama kelompok Salafi ialah ingin memurnikan (purifikasi) praktik beragama yang hari ini dijalankan oleh umat Islam. Mereka mendorong kaum muslimin untuk kembali beragama dengan semata merujuk pada Al-Quran dan Sunnah.
Sejarah Salafi
Kemunculan para Salafi sebagai kelompok atau gerakan baru terjadi kira-kira tiga abad yang lalu. Menurut Muhammad Adnan Abdullah dalam Salafi: Memahami Ajaran Shaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (2016), awal mula lahirnya kelompok yang menamakan dirinya sebagai Salafi atau Salafiyah terjadi pada awal abad ke 12 Hijriah atau abad 18 M.
Kelompok tersebut dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787 M) di jazirah Arab. Misi utama Muhammad bin Abdul Wahhab mengajak umat Islam untuk kembali pada ajaran Islam yang murni. Bagi Muhammad bin Abdul Wahab umat Islam telah menyimpang dari makna tauhid yang sebenarnya karena sudah tercampur oleh sesuatu yang tidak diajarkan Al-Quran dan Sunnah, dalam rupa takhayul, bidah, churafat/khurafat (TBC).
Umat Islam menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, seperti diulas Nur Khalik Ridwan dalam Sejarah Lengkap Wahhabi (2020), sibuk melakukan berbagai ajaran yang tidak ada rujukannya dalam Nash Al-Quran dan Sunnah, seperti ziarah kubur ke makam para wali, merayakan Maulid Nabi, atau pengkultusan seseorang sebagai wali/orang suci. Bagi Muhammad bin Abdul Wahhab, semua aktivitas tersebut tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena tidak diajarkan, sudah seharusnya umat Islam di mana pun tidak melakukannya.
Mereka yang terpengaruh dan mengikuti ide Muhammad bin Abdul Wahhab kemudian dikenal dengan nama Wahabi. Ahmad Syafii Maarif dalam Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (1985), mengatakan bahwa gerakan Wahabi bercorak puritan, radikal, dan kaku. Karakteristik demikian bersumber pada basis doktrinal yang dikembangkan oleh Ibnu Taimiyah (1263-1328 M), salah seorang pemuka Mazhab Fikih Hanbali. Mazhab tersebut merujuk pada Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M) yang jamak dikenal sebagai satu dari empat imam mazhab yang paling banyak diikuti dalam tradisi Sunni.
Di antara keempat imam, Hanbali dikenal paling tekstualis. Namun tekstualitas Imam Hanbal tidak sampai jatuh pada absolutis. Absolutisme dalam mazhab Hanbali baru menguat di tangan Ibnu Taimiyah yang cenderung memutlakan pendapat dan menghidupkan tradisi takfiri. Ia tidak segan mengkafirkan ulama yang berbeda pandangan dengannya. Pandangan-pandangan Ibnu Taimiyah inilah yang mempengaruhi Abdul Wahhab selaku pendiri gerakan Wahabi untuk bersikap keras pada siapa pun yang berbeda pendapat dengannya.
Muhammad bin Abdul Wahab bersama gerakan Wahabinya kemudian menyebar ke banyak daerah di luar Arab. Wahabi berpengaruh besar terhadap kemunculan gerakan-gerakan Islam setelahnya yang juga bervisi pada purifikasi ajaran Islam, seperti gerakan modernisme Islam yang dimotori oleh Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Rasyid Ridha (1865-1935 M), Ikhwanul Muslimin (IM) pimpinan Hassan al-Banna (1906-1949 M) dan Sayyid Quthb (1906-1966 M), serta Hizbut Tahrir yang didirikan oleh Taqyuddin al-Nabhani.
Seluruh gerakan di atas bisa dikatakan terpengaruh atau bersimpati dengan Wahabi. Itulah mengapa karakter semua kelompok ini cenderung ada kemiripan, seluruhnya serupa dalam memegang ortodoksi, mendukung purifikasi, dan menentang bid’ah serta khurafat. Yang membedakan adalah orientasi gerakan masing-masing kelompok. Target Salafi Wahabi adalah mengislamkan orang Islam. Mereka yang diislamkan di sini maksudnya ialah para pelaku bid’ah yang dianggap telah keluar dari ajaran Islam.
Target gerakan modernisme Islam adalah memerangi takhayul, bid’ah, dan khurafat agar umat Islam bisa maju dan sejajar dengan kemajuan barat. Target IM ialah membebaskan masyarakat dari praktik-praktik bid’ah agar terbentuk masyarakat dan negara Islam. Sedangkan target Hizbut Tahrir adalah purifikasi Islam secara total, baik dalam agama maupun politik. Target Hizbut Tahrir sedikit berbeda dengan IM, di mana IM masih mengakui eksistensi nation state, sedangkan Hizbut Tahrir menolak tegas hal tersebut. Tapi keduanya sama-sama berorientasi pada purifikasi ajaran Islam dalam ranah praktik ibadah.
Peta Gerakan
Seiring berjalanannya waktu, terjadi semacam friksi di internal Salafi yang membuat lahirnya banyak varian dari kelompok ini. Menurut M. Kholid Syeirazi dalam Wasathiyah Islam, Anatomi, Narasi, dan Kontestasi Gerakan Islam (2020), ada lima kelompok Salafi yang berpengaruh luas saat ini. Agenda dari seluruh kelompok tersebut umumnya terdiri dari dua hal, yaitu memerangi syirik kubur, dan memerangi syirik kubur sekaligus undang-undang. Syirik kubur di sini maksudnya semua ritual atau praktik yang tidak diajarkan oleh Nabi dan tidak digariskan Allah dalam Al-Quran. Sedangkan syirik undang-undang bermakna semua hukum ciptaan manusia yang tidak didasarkan Al-Quran dan Sunnah.
Kelompok pertama menjelma menjadi gerakan Wahabi di bawah pengaruh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kelompok ini juga disebut sebagai Salafi-Hijazi karena pusat gerakannya berada di Hijaz dan Najd. Salafi-Hijazi menjadi mazhab resmi Kerajaan Arab Saudi. Kubu ini masih terbagi lagi ke dalam beberapa varian yang berpengaruh luas, yaitu kelompok Yaman. Varian ini berpusat di Darul Hadis, Dammaj yang didirikan oleh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i. Dia anti Syiah garis keras dan juga anti IM. Alumni Darul Hadis yang menonjol di Indonesia adalah Ja’far Umar Thalib, pendiri Pesantren Ihya al-Sunnah, Yogyakarta sekaligus pentolan Laskar Jihad yang di awal 2000an pergi berjihad di Ambon.
Selain kelompok Yaman, ada pula kelompok Yordania. Salafi Yordania dipimpin oleh Nashiruddin al-Albani. Ia adalah ulama yang dihormati seluruh Salafi. Albani pernah mengkritik beberapa kebijakan Arab Saudi dan para ulama di sana tidak mempermasalahkan. Fatwa-fatwa Albani juga kerap berbeda dengan dewan ulama Saudi. Di Indonesia pengaruh kelompok Yordan tercermin lewat jaringan murid-murid Ali bin Hasan Al-Halabi yang tak lain merupakan murid Albani. Para pemukanya antara lain, Yahya Badrussalam, Firanda Andirja, Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, dll. Khusus Firanda dan Yazid, keduanya cukup populer di mata publik karena konten pengajiannya tersebar luas di internet. Dalam polemik surat musik yang melibatkan UAH beberapa waktu lalu, Firanda adalah salah satu tokoh Salafi yang mengkritik keras.
Kelompok kedua bernisbat kepada IM karena itu dinamakan Salafi-Ikhwani. Pusat pergerakannya ada di Mesir. Salafi-Ikhwani ini yang mengawali perpecahan di tubuh Salafi yang induknya ada di Arab Saudi. Pangkal sebab perpecahannya adalah karena di internal Salafi-Ikhwani terdapat perbedaan orientasi perjuangan dengan Salafi-Hijazi. Di Salafi-Ikhwani, awalnya semua orang setuju dengan agenda perjuangan model Salafi-Hijazi. Namun seiring berjalannya waktu, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa mereka tidak boleh hanya fokus pada memerangi praktik bidah dan sejenisnya. Tapi juga harus berjuang memurnikan semua hukum dari inovasi manusia. Mereka menyerang demokrasi, negara bangsa, memurtadkan pemimpin muslim, dll. Tokoh penting gerakan ini ialah Muhammad Surur bin Nayef Zayn al-Abidin. Ia merupakan tokoh IM dari Suriah. Surur memadukan Manhaj Salaf-Hijazi dengan visi politik IM yang kemudian menjelma menjadi Salafi-Haraki. Di Indonesia representasi sempurna kelompok ini adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Kelompok ketiga dikenal dengan Salafi-Jihadi. Kelompok ini adalah varian ekstrem dari Salafi-Ikhwani. Mereka memerangi syirik kubur dan syirik undang-undang tapi lewat jalur kekerasan. Itulah sebabnya Salafi-Jihadi dikatakan ekstrem karena mereka membenarkan kekerasan atas nama jihad kepada siapapun yang dianggap berbeda dengan keyakinannya. Al-Qaeda, ISIS, Taliban adalah contoh dari Salafi-Jihadi. Di Indonesia, kelompok ini menjelma dalam Jamaah Islamiyah (JI) beserta turunannya, dan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) beserta pecahannya.
Kelompok keempat adalah Salafi-Hizbut Tahrir. Varian ini cenderung sama dengan Salafi-Jihadi. Mereka menolak dan mengkafirkan semua sistem hukum yang menduakan hukum Allah. Perbedaan di antara keduanya hanya terletak dalam cara mewujudkan agenda masing-masing. Salafi-Hizbut Tahrir menolak kekerasan sebagai instrumen perjuangan. Biasanya mereka bergerak dengan melakukan infiltrasi ke lembaga-lembaga negara sebelum nantinya melakukan kudeta. Di Indonesia, kelompok ini sempat berkembang pesat beberapa tahun lalu. Namun kini eksistensi Salafi-Hizbut Tahrir memudar karena dibubarkan pemerintah.
Kelompok kelima ialah Salafi-Jamaah Tabligh (JT). Kelompok ini berbeda dengan Salafi yang lain. Mereka tidak berpolitik, tidak pula memakai kekerasan dalam bergerak. Kesamaan Salafi-JT dengan yang lain terletak dari visi mereka yang sama-sama ingin mengajak orang-orang untuk hidup sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Namun oleh pembesar Salafi lain, kelompok ini dianggap ahli bidah karena menempuh ritus-ritus tarekat, yang mana hal tersebut diharamkan oleh sebagian besar ulama Salafi.
Friksi
Kelima kelompok Salafi meskipun akar ideologinya sama-sama merujuk kepada Ibnu Taimiyah, namun satu dengan yang lain acapkali justru saling bersitegang. Salah satu contoh perselisihan antar para Salafi terjadi ketika Perang Teluk berkecamuk di Timur Tengah di awal 1900an. Surur dan pengikutnya dalam Salafi-Ikhwani mengkritik Arab Saudi yang mengizinkan Amerika Serikat memasuki tanah suci. Kritik tersebut direspons oleh ulama-ulama Salafi-Hijazi dengan fatwa bahwa Surur dan pengikutnya sesat. Surur dianggap bukan Salafi, melainkan Quthbi, pengikut Sayyid Quthb. Friksi semacam ini terjadi pula di banyak kasus lain yang umumnya berkutat pada urusan-urusan politik dan jihad.
Kelima varian Salafi yang hari ini eksis menunjukkan bahwa Salafi tidaklah monolitik. Salafi punya banyak wajah. Orang awam akan secara mudah menyebut seluruhnya Wahabi. Padahal satu dan lainnya berbeda. Ada karakteristik tertentu yang saling membedakan yang tidak jarang jatuh dalam friksi yang tajam satu sama lain. Namun yang pasti, Salafi adalah gerakan besar yang saat ini berpengaruh di dunia Islam. Di mana pun Islam berada, aliran pemikiran Salafi ada dan menunjukkan berkembangnya.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor: Muhammad Zunus


