Di Indonesia, binatang terlaris dipilih untuk logo partai politik: burung. Kita melihat burung-burung dalam pamrih raihan kekuasaan dan sengketa kepentingan atas nama Indonesia. Partai politik memang tak menggunakan nama burung tapi pilihan logo burung mengesankan klise-klise simbolik dan permainan tafsir oleh elite politik.
Kini, kita tak usah terlalu dipusingkan dengan burung. Di Solo, 19 Juli 2025, Kaesang berteriak dengan kata “gajah”. Ia memimpin lagi PSI. Pada saat keramaian tercipta di Solo, bendera PSI berada di pinggir jalan dan pelbagai tempat. Orang-orang melihat gambar gajah. Mereka memastikan itu gajah dalam politik, bukan iklan kebun binatang di Jurug (Solo). Kongres di Solo digunakan untuk mengenalkan logo baru. Kaesang berseru “gajah”, mengajak orang-orang melihat PSI dalam wajah berbeda dan gairah baru.
Kita sedang capek memikirkan politik. Kehadiran gajah dalam kerja politik PSI mendingan kita tandingi dengan pengertian-pengertian berbeda. Gajah dalam ruang kekuasaan di Indonesia mungkin bikin gemetar. Publik makin gemetar jika mengingat gajah dan Lupus ketimbang Kaesang (PSI) dan gajah.
Pembuktian dalam novel berjudul Lupus Kecil (1982) gubahan Hilman dan Boim. Dua pengarang tak berniat menjadi peramal (politik) merujuk gajah. Pada masa 1990-an, mereka justru berkelakar saat mengenalkan sosok Lupus sebagai murid SD: “Dia yakin apa yang dikatakannya selalu benar. Pernah ditanya, binatang apa yang paling kecil di dunia? Jawabannya: gajah. Aneh! Tapi, dia tidak mau tahu. Pokoknya jawaban itu harus dianggap betul. Biar bagaimanapun juga Lupus tidak mau mengganti jawabannya. Kalau masih keberatan, kata Lupus, lebih baik pertanyaannya saja yang diganti, dicocokkan dengan jawabannya. Pasti nanti betul. Yah, itulah Lupus.”
Kita gunakan paragraf Hilman dan Boim untuk membuat lelucon terbaru. Kita ulangi kalimat: “Binatang apa yang paling kecil di dunia?” Lupus memberi jawab: gajah. Lupus meminta perubahan kalimat agar “gajah” menjadi jawaban benar. Kita mengadakan kalimat baru: “Binatang apa digunakan sebagai logo PSI?” Terbukti jawaban Lupus benar. Jawaban itu gajah. Kaesang mungkin tak pernah membaca novel Lupus. Dulu, seri Lupus pernah terjual sejuta eksemplar gara-gara bikin kecanduan kaum remaja di Indonesia. Kaesang dan PSI tak menjadikan novel sebagai referensi memilih logo gajah.
Kita tinggalkan politik, berganti novel. Kate DiCamillo menggubah novel berjudul The Magician Elephant. Novel tipis membikin pembaca terharu. Seorang bocah bernama Peter kangen untuk bertemu adik telah lama menghilang. Pada suatu hari, ia terpisah dari adik. Peter ingin mencari dan mengasuh adik. Mereka hidup dalam penderitaan.
Peter mendatangi peramal: “Kalau dia masih hidup berarti aku harus mencarinya. Jadi, pertanyaanku adalah bagaimana aku bisa ke sana, ke tempat dia berada?” Peramal lekas menjawab lugas: “gajah”. Bocah itu kebingungan. Ia memerlukan alamat tapi malah diminta memikirkan gajah. Peramal pun melanjutkan: “Kau harus mengikuti gajahnya. Gajah betina itu akan membawamu ke sana.”
Peter bingung dan ragu. Di kota, tiada gajah. Mengapa peramal memberi petunjuk agar mengikuti gajah? Kejadian mengejutkan membenarkan ramalan. Di kota, ada Gedung Opera Bliffendorf. Di situ ada pertunjukan penyihir memukau para penonton. Pengarang menceritakan: “Ia bermaksud memunculkan sebuket bunga lili tapi si penyihir malah menghadirkan gajah. Gajah itu jatuh menerobos langit-langit gedung opera di tengah hamburan debu plester dan kasau atap, lalu mendarat di pangkuan wanita bangsawan bernama Madam Bettine LeVaughn, yang semula akan diberi buket oleh si penyihir.” Peristiwa mengejutkan dan orang-orang mengira itu kemustahilan. Peter mendengar kabar tentang kemunculan gajah. Ia perlahan memiliki pengharapan bakal menemukan adik asal mau mengikuti perjalanan gajah.
Gajah dalam sihir. Pembaca berhak terkejut tapi novel memang ingin menjadikan gajah tak sekadar gajah seperti ditemukan di kebun binatang atau sirkus. Apakah elite di PSI membaca novel berjudul The Magician Elephant? Mereka sibuk dalam arus imajinasi dan bahasa politik. Novel mungkin bukan referensi penting dalam menggerakkan isu-isu politik. Mereka tak memerlukan novel meski berusaha membuat “sihir” politik melalui gajah sebagai logo.
Gajah tak jatuh dari langit. Gajah itu hasil rapat dan terbenarkan dalam kongres agar membuat jutaan orang Indonesia “tersihir”. Pembuktian kelak dalam pemilu-pemilu berdasarkan perolehan PSI. Kita pastikan dua novel mengandung gajah bukan acuan dalam hajatan politik PSI di Solo.
Kita tutup dua novel, berganti membaca dua buku “ilmiah”. Semula, tulisan-tulisan dimuat dalam majalah, berlanjut terbit sebagai buku. Publik gemar dengan cara penulis (Slamet Soeseno) menceritakan dan menjelaskan binatang. Ia memang pernah menulis cerita-cerita anak, memiliki pijakan imajinasi saat menghasilkan tulisan bertema binatang terbaca publik di majalah Intisari.
Di buku berjudul Taman Firdaus Terakhir (1977), kita membaca kutipan omongan tokoh terasa kocak: “Bangsa gajah hanya bangsa tempe! Hanya karena ukuran tubuhnya sangat kolosal saja, maka tampaknya lantas serem. Tapi, selama gajah tidak berteriak, maka mereka tidak apa-apa. Jadi, tidak usah taku!” Tokoh itu sedang mengantar rombongan mengamati perilaku gajah.
Tulisan lama tapi memberi sengat. Slamet Soeseno tak lupa membuka lembaran sejarah menggenapi pengamatan di alam: “Gajah-gajah bangsa Indonesia baru diberitakan sekitar tahun 16000 sesudah Masehi sebagai gajah yang tidak merdeka lagi. Sebab, ada yang digunakan oleh para pembesar sipil dan militer pada pesta-pesta resmi Kerajaan Aceh waktu itu. Juga, para anggota Corps Diplomatique pergi ke kondangan dengan naik gajah…”
Sejarah teringat lagi. Politik di Nusantara sekian abad silam dipengaruhi gajah dalam misi perjalanan dan perang. Gajah telah “berpolitik” dalam nasib penguasa di pelbagai kerajaan. Babak sejarah itu bakal membuat kita penasaran jika mau membaca setumpuk buku dalam beragam bahasa. Gajah tergunakan oleh PSI tak perlu mengejutkan atau mendapat tepuk tangan meriah. Di arus sejarah, kita menemukan gajah-gajah dalam pelbagai kepentingan: kekuasaan, ritual, asmara, perdagangan, dan lain-lain.
Slamet Soeseno belum rampung bercerita gajah. Kita berlanjut membuka buku berjudul Dari Kutu ke Gajah: Bertualang ke Dunia Fauna Bersama Slamet Soeseno (1984). Di situ, Slamet Soeseno suguhkan artikel mengenai gajah dan pemilut. Kita jang mudah bercuriga buruk. Pemilu itu bukan pemilihan umum. Pengarang memberi pengertian berbeda: pemilu itu pembuat pilu.
Ia menanggapi para pemburu gajah dan keberadaan suaka alam Indrapura. Gegeran dan polemik terjadi setelah amukan gajah di permukiman penduduk. Konflik binatang dan manusia mengakibatkan kerusakan rumah. Ketakutan pun melanda. Slamet Soeseno menjelaskan: “Begitu ada pemburu asing muntup-muntup mau menyelundup, segera dilaporkan ke pihak yang berwajib, sambil dimintai kesadarannya bahwa berburu gajah di situ dapat berakibat kesengsaraan yang memilukan, di kalangan rakyat setempat yang daerahnya dipakai sebagai medan amukan gajah yang merasa terancam jiwanya.” Ada konklusi teringat: “Kaum gajah sebagai makhluk yang seolah-olah diprogram untuk musnah pelan-pelan.” Para pemburu dan kolektor bersaing mendapatkan gading.
Nasib gajah di alam sedang terancam. Di pelbagai tempat, gajah mengamuk dan bertarung dengan manusia itu biasa. Di Indonesia, ikhtiar pemerintah dan komunitas berharap agar gajah tetap hidup di alam makin rumit. Pada situasi berbeda, gajah menghuni kebun binatang biasa dikunjungi anak dan keluarga dalam kepentingan piknik. Kini, nasib gajah dalam politik meski sekadar logo digunakan PSI. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


