Dark
Light
Dark
Light

Asal-Usul Resolusi Jihad

Asal-Usul Resolusi Jihad

Surabaya, titimangsa 22 Oktober 1945. Alkisah, delapan minggu setelah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, terjadi peperangan di Surabaya. Guna memobilisasi dukungan umat Muslim, Kiai Haji Hasyim Asy’ari (1871-1947) mengeluarkan fatwa untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Fatwa-fatwa itu sebagai berikut:

(1) Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus wajib dipertahankan, (2) Republik Indonesia, sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, harus dijaga dan ditolong; (3) Musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan Sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia, (4) Umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali; (5) Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius itu harus membantu secara material terhadap mereka yang berjuang. (Khuluq 2000: 110).

Fatwa-fatwa ini–yang kemudian masyhur sebagai Peristiwa “Resolusi Jihad NU 22 Oktober” sekaligus dasar penetapan Hari Santri–selanjutnya dibutuhkan oleh segenap ulama yang mengadakan pertempuran di Surabaya pada November 1945 yang mendeklarasikan kembali pendapat mereka, bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dan Republik Indonesia ialah satu-satunya pemerintahan nan sah yang harus dilindungi meskipun dengan mengorbankan harta dan nyawa. Para ulama juga memutuskan, bahwa pergi berhaji dengan menggunakan kapal Belanda adalah terlarang. Fatwa itu juga dikuatkan dengan karisma KH. Hasyim Asy’ari dan perlunya berperang melawan orang-orang kafir (lihat Akarhanaf 1950).

Jadi, perang kemerdekaan dipandang sebagai perang suci di jalan Allah (jihad fi sabilillah) dan barang siapa yang mati dalam perang ini dijamin akan masuk surga. Hingga kiwari, perang ini masih dilihat sebagai perang terbesar dalam sejarah Indonesia modern, sehingga tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Akhirnya, kita dapat meneroka bahwa fatwa ini merupakan contoh yang paling bernas mengenai usaha ulama di tanah air sebagai pemimpin umat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Simpulan lain yang dapat dipetik dari peristiwa di atas ialah bahwa KH. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk bekerja sama dengan kalangan pemimpin nasionalis sekuler untuk memenangkan perang. Misalnya, Bung Tomo, figur sosialis dari Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), yang berhasil membangun solidaritas nasional melalui siaran radio, meminta dukungan KH. Hasyim Asy’ari dalam perang ini (Gumanty 1982). Hal ihwal ini juga menunjukkan bahwa kalangan nasionalis sekuler mau juga bekerja sama dengan ulama untuk kepentingan bersama. Melalui ulama, usaha mereka mendapat legitimasi agama dan perang ini dikuatkan dengan ideologi jihad.

Ideologi jihad memainkan peran penting dalam Gerakan anti-kolonial. Ideologi ini telah mendorong muslim santri untuk bergabung dalam Hizbullah dan Sabilillah yang dibentuk semasa pendudukan Jepang.

Anthony Reid dalam bukunya, The Indonesian National Revolution, 1945-1950, menceritakan fenomena ini sebagai berikut: “Pesantren merupakan salah satu sumber kepemimpinan [revolusi kemerdekaan]. Para santri tinggal di pondok pesantren, seringkali jauh dari tempat tinggal mereka, dan membentuk ikatan loyalitas yang kuat terhadap guru mereka. Dalam pesantren ini, mereka juga belajar ilmu beladiri, pencak silat, dengan disiplin fisik dan spiritual. Mungkin hanya guru mereka sendiri yang mengerti misteri ilmu kekebalan. Ulama baik dari kalangan modernis maupun tradisionalis mempercayai adanya kewajiban perang suci dan mati syahid di dalamnya. Sebagai pusat daerah santri pesisir utara Jawa, Surabaya sangat dipengaruhi oleh pemikiran ini. Bulan November, ulama dari daerah ini menyatakan bahwa mempertahankan republik adalah wajib dilaksanakan berdasarkan perang suci” (Reid 1974: 56).

Selain itu, banyak orang meminta dukungan spiritual dari kiai yang mempunyai kekuatan khusus untuk memberkati orang dan membuat mereka kebal dari peluru dan senjata tajam. Kekuatan ini dipercaya muncul setelah membaca zikir dan ratub suatu ajaran mistik khusus, baik dari ajaran Islam ataupun non-Islam. Banyak orang juga memperoleh jimat yang biasanya berupa secarik kain putih yang ditulis beberapa ayat Al-Qur’an oleh seorang Kiai keramat atau guru yang memiliki kemampuan dalam hal mistik (Fogg 2019: 152). K.H. Hasyim Asy’ari yang tidak diragukan lagi mempunyai kemampuan seperti itu karena telatah kesalehan dan kepribadian karakter beliau telah memberkahi dan memberi kekuatan spiritual kepada banyak orang, khususnya santri muslim yang menjadi penjaga utama Islam nusantara.

Pertempuran Surabaya ini memperkuat kekuatan moral bangsa Indonesia di daerah-daerah liyan, dan memicu Gerakan serupa melawan Belanda dan Sekutunya di Indonesia, sebagaimana dilukiskan oleh William H. Frederick dalam Visions and Heat: Making of an Indonesian Revolution, bahwa “untuk ide perjuangan, Surabaya adalah sebagai monument dan model. Generasi selanjutnya terus menganggap 10 November sebagai Hari Pahlawan–tidak hanya karena peristiwa ini salah satu di antara sedikit gerakan massa yang seluruh segmen Masyarakat terpenting bersatu: politikus, pemuda, muslim, dan petani…pertempuran Surabaya sangat menambahkan tekanan pada Inggris dan Belanda untuk mengakhiri penggunaan kekerasan menuju perundingan dengan pihak Republik” (Frederick 1988: 53).

Pertempuran Surabaya jelas-jelas merupakan kemenangan bangsa Indonesia, sebab karakter heroik dan keagamaan dari pertempuran ini dikait-kelindan dengan diplomasi yang dilakukan oleh para politikus. Pertempuran ini memberi inspirasi pada daerah-daerah lain untuk melakukan perihal serupa. Di manapun mereka berada, para anggota Nahdlatul Ulama berpartisipasi aktif dalm perang revolusi Indonesia. Para pemudanya bergabung dalam Hizbullah, yang setengah baya tergabung dalam Sabilillah, dan yang kamitua membentuk Markas Ulama. Banyak anggota milisia ini kelak dimasukkan dalam tentara nasional Indonesia, yang baru dibentuk, Tentara Keamanan Rakjat (TKR).

Menurut Lathiful Khuluq dalam Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari, fatwa jihad K.H. Hasyim Asy’ari dapat ditinjau sebagai pengakuan terhadap pemerintah baru Indonesia dan perlawanan terhadap Belanda. Para anggota NU menjadi sangat radikal karena mereka mendukung perang suci ini. Perubahan sikap mereka itu dari sikap diam selama penjajahan Belanda, bisa jadi disebabkan oleh Latihan militer yang merek terima melalui tentara Jepang dan peningkatan partisipasi para anggota NU dalam kegiatan politik pada masa itu (Khuluq 2000: 114). Para sarjana melihat fenomena di NU ini juga disebabkan oleh kombinasi kebanggaan sebagai muslim dan patriotisme sebagai bangsa Indonesia. Sikap ini juga disebabkan loyalitas para anggota NU kepada pemerintah Indonsia yang sah.

Sebelum masa pendudukan Jepang, NU mengakui pemerintah kolonial Belanda sebagai pemerintahan de facto, yang memiliki hak untuk dipatuhi meskipun mereka bukan pemerintahan Islam, asalkan umat muslim diperbolehkan melaksanakan ajaran agamanya. Akan tetapi, setelah kedatangan Jepang, Belanda telah kalah sehingga pemerintah yang sah ketika itu ialah Jepang. Setelah yang terakhir ini terkalahkan dan kemudian pemerintahan anyar Republik Indonesia terbentuk, para anggota NU memandang pemerintahan ini sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah dan wajib dipatuhi. Oleh sebab itu, tatkala Belanda berusaha kembali merebut hegemoni di Indonesia, para anggota NU terang-terangan menolaknya dengan mengadakan perang suci terhadap Belanda dan Sekutu.  

Perihal ini dinyatakan dalam muktamar NU pertama setelah kemerdekaan pada Maret 1946 yang menyatakan kembali adanya kewajiban jihad bagi umat muslim yang memenuhi syarat untuk mempertahankan pemerintahan Republik (Van Bruinessen, 1994: 60-1). Arkian, KH. Hasyim Asy’ari wafat titimangsa 25 Juli 1947. Beliau kemudian diakui sebagai pahlawan nasional dengan Keputusan Presiden No. 294/1964.

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo