Di Sparta, anak-anak tidak dilahirkan untuk hidup. Mereka dilahirkan untuk dipilih. Begitu keluar dari rahim ibu, tubuh kecil itu diperiksa. Kalau terlalu lemah, ia dibuang. Bukit Taygetos menjadi tempat bagi yang tidak lulus seleksi. Bayi tak bersalah dilempar ke jurang bukan karena bersalah, tapi karena tidak cocok. Ia tidak cukup kuat. Ia tidak cukup tunduk.
Barang kali kita sedang menyusun kembali versi modern dari praktik itu, tapi tanpa jurang, tanpa bukit. Kita pakai barak.
Kini, anak-anak yang dianggap terlalu sulit diajar, terlalu gaduh untuk didiamkan, terlalu asing bagi sistem yang ingin segalanya rapi—dikirim ke markas militer. Mereka tidak dicintai oleh sekolah, tidak dimiliki oleh rumah, dan tidak bisa dijinakkan oleh negara. Maka mereka dikirim. Dikirim tanpa seremoni, tanpa perpisahan, tanpa imajinasi tentang masa depan. Yang tinggal hanya satu keyakinan: mereka harus diperbaiki, dan karena guru tak diberi ruang untuk membina, maka tentara dianggap lebih sanggup mengatur.
Dalam sejarah panjang kekuasaan, pembuangan bukan sekadar mekanisme administratif. Ia adalah deklarasi. Ia adalah keputusan bahwa seseorang tak lagi bagian dari “kita.” Ia dipisahkan bukan karena kejahatan, tapi karena ketidaksesuaian. Di era Stalin, kamp Gulag dipenuhi orang-orang yang tidak sesuai. Mereka tidak berbahaya. Mereka hanya tidak cukup patuh. Dan kepatuhan, sebagaimana kita tahu, selalu lebih penting daripada kebenaran dalam sistem yang takut pada pertanyaan.
Barak bukan tempat belajar. Ia adalah tempat membungkam. Di sana, waktu tidak berjalan berdasarkan kurikulum, tapi berdasarkan komando. Tidak ada pelajaran sejarah, hanya ada ingatan tentang baris-berbaris. Tidak ada pendidikan karakter, hanya ada prosedur untuk melemahkan suara dalam. Anak-anak tidak diajak memahami dunia, mereka diajak lupa bahwa dunia bisa dipahami. Dan ketika tubuh dibentuk untuk tunduk, pikiran akan ikut menyusut.
Inilah bentuk paling mutakhir dari kekalahan sipil. Bukan karena direbut dengan senjata, tapi karena diserahkan lewat surat bermaterai. Negara tidak dijatuhkan oleh militer. Negara menyerahkan diri, karena takut dianggap lemah. Birokrasi yang malu menjadi sipil akhirnya meminta tentara untuk mengasuh. Dan tentara, sebagaimana selalu dalam sejarahnya, tidak pernah menolak tugas. Bahkan ketika tugas itu bukan miliknya.
Kita tahu, ini bukan hal baru. Di abad ke-20, semua diktator besar memulai dengan proyek pembinaan remaja. Mussolini punya Balilla. Hitler punya Hitlerjugend. Mereka tidak langsung membunuh. Mereka mengatur barisan. Mereka tidak langsung menindas. Mereka melatih ketepatan gerak. Karena tahu, yang bergerak seragam akan lebih mudah dikendalikan daripada yang berpikir sendiri.
Kini, dengan wajah yang sopan dan niat yang katanya baik, kita kembali meniru itu. Tapi kita menyebutnya “karakter.” Seolah karakter hanya bisa tumbuh dalam tubuh yang dibentak. Seolah karakter hanya milik mereka yang bisa diam lebih lama. Seolah anak-anak harus dilatih untuk patuh sebelum diajari untuk berpikir. Semua ini terjadi di tengah keyakinan palsu bahwa kita telah lebih beradab. Tapi ritus pembuangan masih terus dijalankan—bedanya, sekarang lebih rapi, lebih sah. Tidak lagi dengan tebing dan batu. Kini dengan barak dan tanda tangan.
Anak-anak yang disebut “nakal”—terlalu keras kepala, terlalu tak sesuai untuk duduk tenang di kelas—dikemas ke dalam program yang disebut “pembinaan,” lalu dikirim ke markas militer. Ini bukan hukuman, katanya. Ini pendidikan karakter. Ini bukan kekerasan, ini pendisiplinan. Tapi semua itu hanya kalimat. Dan kalimat, jika terlalu sering diulang tanpa pengalaman, akan berubah menjadi kedok.
Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar kebijakan salah arah. Ini adalah kebusukan sistemik yang disamarkan sebagai niat baik. Ini bentuk terang bagaimana negara menyerah terhadap anak-anaknya, dan dalam keputusasaan itu, memilih kekerasan yang terstruktur rapi sebagai solusi. Negara yang tak mampu memeluk, memilih mengirim. Negara yang tak sabar menjelaskan, memilih membentak.
Dan para guru? Mereka tidak menyerah. Mereka justru berdiri paling depan menghadapi kekacauan sosial yang tidak mereka ciptakan. Mereka ditinggalkan. Mereka dipaksa mendidik tanpa ruang bernapas, tanpa sistem pendukung, dan ketika mereka kewalahan, mereka tidak ditolong, tapi dilewati. Anak-anak yang mereka upayakan setiap hari diserahkan begitu saja kepada barak, oleh sistem yang tak percaya pada ketekunan sipil. Guru bukan pelaku pembuangan. Guru adalah saksi yang terpaksa menyaksikan muridnya dipisahkan bukan karena jahat, tapi karena dianggap tak sesuai cetakan.
Pembuangan selalu punya pola. Ia bukan soal salah dan benar. Ia soal kecocokan. Siapa yang tak cocok dengan desain besar akan dipindahkan. Kadang ke kamp. Kadang ke pulau. Kadang ke sekolah militer. Di bawah Stalin, yang terlalu keras berpikir dikirim ke Siberia. Di bawah Hitler, yang terlalu keras bertanya dikirim ke kamp konsentrasi. Di bawah kita—negara yang katanya demokrasi terbesar ketiga di dunia—yang terlalu sulit dibina dikirim ke barak.
Tidak ada senapan. Tidak ada borgol. Tapi ada daftar nama. Ada surat bermaterai. Ada kendaraan yang menjemput. Ada orang tua yang menyerah, bukan karena benci, tapi karena lelah dan tidak tahu harus berharap pada siapa. Negara menerima penyerahan itu dengan senyuman dan formulir. Dan dari situ, pengasingan dimulai.
Barak bukan ruang belajar. Ia bukan ruang perdebatan. Ia adalah tempat di mana tubuh diatur agar seragam. Agar bergerak bersama. Agar diam dalam waktu yang sama. Di sana, berpikir tidak relevan. Bertanya dianggap lamban. Dan diam disalahpahami sebagai dewasa. Yang sedang dibentuk bukan manusia merdeka. Yang sedang dibentuk adalah barisan.
Dan di balik barisan itu, tersembunyi keputusan politis yang jauh lebih dingin: negara tidak percaya pada warga sipil. Tidak pada guru, tidak pada psikolog, tidak pada sistem pendidikan itu sendiri. Maka diundanglah militer. Bukan karena militer meminta, tapi karena sipil sudah menyerah. Dalam keheningan birokrasi, dalam retorika moral, dalam euforia ketertiban—militer masuk, bukan sebagai penjaga, tapi sebagai pendidik.
Padahal pendidikan adalah soal keberanian membiarkan kesalahan terjadi. Ia adalah ruang di mana keraguan bukan kelemahan, tapi titik awal berpikir. Tapi logika militer tidak mengenal itu. Ia mengenal aba-aba. Ia mengenal target. Ia mengenal hukuman. Maka yang tumbuh dari dalam barak bukan karakter, tapi kepatuhan. Dan kepatuhan, jika tidak dipagari dengan nalar, bisa berubah menjadi senjata.
Yang lebih menyakitkan dari semua ini adalah sunyi yang menyambutnya. Tidak ada keributan nasional. Tidak ada krisis konstitusional. Semua berlangsung tenang, administratif, seolah-olah kita sedang mengatur daftar logistik, bukan nasib anak-anak. Orang-orang yang biasanya paling lantang berbicara tentang hak anak kini memilih nada rendah. Mereka yang selama ini membela demokrasi memilih berhitung. Mereka yang seharusnya berdiri justru duduk.
Dalam kondisi semacam ini, kita harus menyebut benda dengan namanya. Ini bukan pembinaan. Ini pengusiran. Ini bukan character building. Ini eksil domestik. Negara menempatkan yang dianggap ‘cacat sipil’ ke dalam barak, bukan untuk disembuhkan, tapi disingkirkan dari sistem utama. Dan seperti semua bentuk pengasingan, yang paling dulu dilucuti bukan tubuhnya, tapi imajinasinya.
Bayangkan anak-anak itu sepuluh tahun dari sekarang. Bukan hanya mereka yang ditanya apa arti pendidikan, tapi kita semua. Apa yang akan kita katakan? Bahwa kita mengirim mereka ke tempat tanpa diskusi? Tempat di mana yang penting hanya bergerak sesuai aba-aba? Tempat yang tidak mengenal “mengapa,” hanya “ya, Pak”?
Bangsa yang besar tidak menghapus yang dianggap menyimpang. Ia membesarkan semua, bahkan yang sulit. Dan yang lebih penting: bangsa yang berani tidak menitipkan proses paling manusiawinya—yakni mendidik—kepada struktur yang diciptakan untuk bertarung.
Karena mendidik bukan bertarung. Mendidik adalah mengasuh di tengah keruwetan. Memberi waktu bagi yang lambat. Merawat agar luka tidak berubah menjadi dendam.
Jika negara hari ini menyerahkan anak-anak ke barak, maka kita sedang hidup dalam republik yang kehilangan keberanian membimbing. Negara yang memindahkan murid ke ruang militer karena tak cocok dengan ruang kelas bukan sedang membina, tapi membuang. Dan pembuangan, dalam sejarah mana pun, selalu meninggalkan luka yang diam-diam tumbuh menjadi ingatan.
Dan ingatan itu tidak bisa ditebus dengan program baru. Ia hanya bisa ditebus oleh keberanian untuk berkata: ini salah. Dan keberanian itu tidak bisa ditunda lebih lama.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Zunus


