Dekolonisasi pikiran menjadi sebuah keharusan dan fondasi untuk melepaskan dominasi intelektual dan budaya Barat. Negara-negara Selatan harus berani mengambil langkah pertama dalam perjalanan menuju dekolonisasi pikiran tersebut sebagai proses yang terus berkembang.
Setelah krisis Ukraina, pada 2022-2023, menjadi jelas bahwa negara-negara di Dunia Selatan (Global South), termasuk Indonesia, perlu melepaskan pengaruh kolonial dalam pemikiran mereka untuk setara dengan Barat. Hal ini bukan hanya retorika, melainkan keharusan berdasarkan pengalaman historis. Penjajahan telah meninggalkan dampak besar di negara-negara Selatan, tidak hanya dalam ekonomi dan politik, tapi juga dalam mentalitas.
Sejak abad ke-15, Barat telah mendominasi standar modernitas, sering mengabaikan warisan budaya negara lain. Indonesia, seperti banyak negara, telah dipengaruhi oleh kolonialisme yang membentuk kebijakan dan pendidikannya.
Peristiwa di Ukraina dan Gaza menyoroti perbedaan pandangan antara Barat dan Dunia Selatan. Harapan Barat agar negara-negara Selatan mendukungnya tanpa syarat tidak terpenuhi. Negara-negara Selatan mulai menjauhi pandangan dunia yang berpusat pada Barat, menegaskan kedaulatan dan pemikiran independen mereka.
Dengan menurunnya pengaruh Barat, negara-negara seperti Indonesia memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kembali posisi mereka di panggung global, mendefinisikan hubungan internasional berdasarkan sejarah, budaya, dan aspirasi mereka sendiri.
Dekolonisasi pikiran menjadi sebuah keharusan dan fondasi untuk melepaskan dominasi intelektual dan budaya Barat, merebut kembali, serta menilai ulang pengetahuan lokal. Bagi Indonesia, ini berarti mengeksplorasi warisan budayanya, mengintegrasikan keragaman etnik dan agama ke dalam narasi nasional, dan menciptakan narasi otentik yang berakar pada sejarah dan konteks sosial unik Indonesia, bukan mengikuti ideologi Barat.
Proses ini juga mengkritisi neoliberalisme, yang sering menunjukkan keterbatasannya dan dampak negatif, seperti kesenjangan sosial. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi diiringi dengan tantangan sosial dan lingkungan. Pengalaman ini mengharuskan adanya pemikiran ulang tentang model dan kebijakan ekonomi yang selaras dengan etos nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Dengan kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan revolusi digital, muncul konsep "penjajahan digital". Kontrol atas data, yang penting untuk AI, sangat berpengaruh terhadap hak individu, kedaulatan nasional, dan integritas budaya. Negara seperti Indonesia, yang sedang berkembang dalam ekonomi digital, perlu berhati-hati dalam menghadapi fenomena ini. Penting bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi AI yang sesuai dengan kepentingan dan nilai nasionalnya, bukan hanya mengikuti model Barat.
Di bidang pembangunan berkelanjutan, Indonesia dan negara-negara Dunia Selatan lainnya harus menciptakan jalur mereka sendiri. Indonesia, yang sangat beragam, menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Model pembangunan Barat, yang sering menekankan pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan lingkungan, tidak cocok untuk Indonesia. Negara ini harus mengejar model pembangunan yang selaras dengan lingkungan dan nilai budayanya.
Kebutuhan akan pendekatan berbeda dalam pembangunan berkaitan dengan tema lebih luas mengenai Dunia Selatan yang mencari suara dan jalannya sendiri di panggung internasional. Sistem global saat ini, yang didominasi norma Barat, seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan negara-negara Selatan. Mereka harus mengembangkan strategi yang sesuai dengan konteks spesifik mereka, baik dalam ekonomi maupun dalam peran mereka dalam tata kelola global dan diplomasi.
Peran Indonesia Teramat Vital dalam Kolaborasi Dunia Selatan
Posisi dan strategi Indonesia sangat penting. Sebagai negara besar di Dunia Selatan dan anggota kunci ASEAN, Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana negara bisa menjaga warisan dan nilai-nilainya sambil berpartisipasi dalam komunitas global. Ini melibatkan keseimbangan antara mempertahankan identitas nasional dan terbuka untuk kerjasama internasional.
Konsep otonomi strategis politik luar negeri menjadi relevan. Ini berarti Indonesia dan negara-negara Selatan lainnya harus mengikuti kebijakan luar negeri yang independen dan mencerminkan kepentingan dan nilai mereka, tanpa dipengaruhi oleh tekanan atau keberpihakan eksternal. Ini bukan isolasi, melainkan keterlibatan selektif dan berprinsip.
Perjalanan menuju dekolonisasi pikiran dan menegaskan kembali posisi Dunia Selatan memang penuh tantangan dan memerlukan langkah-langkah strategis dan berani. Pertama dan terutama, ini membutuhkan keberanian untuk menantang dan melepaskan diri dari norma-norma yang telah lama diinternalisasi akibat pengaruh kolonialisme dan dominasi Barat. Negara-negara Selatan harus berani mempertanyakan dan meninjau ulang prinsip-prinsip yang telah menjadi dasar kebijakan dan praktek mereka, baik dalam konteks domestik maupun internasional.
Selanjutnya, kreativitas menjadi kunci dalam mencari solusi yang inovatif dan efektif. Mengingat setiap negara memiliki konteks sosial, ekonomi, dan politik yang unik, tidak ada solusi tunggal yang dapat diterapkan secara universal. Oleh karena itu, penting untuk berinovasi dan menyesuaikan solusi dengan realitas lokal dan regional. Hal ini mungkin melibatkan pengembangan model ekonomi baru yang lebih adil dan berkelanjutan, strategi diplomasi yang lebih inklusif, atau pendekatan baru dalam pendidikan dan teknologi.
Kolaborasi antarnegara dengan sejarah dan aspirasi serupa juga sangat penting. Negara-negara Selatan dapat saling mendukung melalui berbagi pengetahuan, sumber daya, dan pengalaman. Dalam konteks multilateral, mereka dapat bersatu untuk membentuk blok yang lebih kuat dalam negosiasi dan tata kelola global, mewakili kepentingan kolektif yang seringkali tidak terwakili secara memadai di arena internasional. Hal ini tidak hanya meningkatkan kekuatan negosiasi mereka, tetapi juga membantu dalam mengembangkan solusi yang lebih sesuai dengan realitas dan kebutuhan mereka.
Penyair Spanyol Antonio Machado mengatakan, "Traveler, there is no road, the road is made by walking," sangat relevan dalam konteks ini. Itu menggambarkan perjalanan menuju dekolonisasi pikiran sebagai proses yang terus berkembang, di mana jalan yang diambil tidak selalu jelas atau sudah ditentukan. Ini mengharuskan negara-negara Selatan untuk berani mengambil langkah pertama, bahkan tanpa kepastian penuh tentang hasilnya, dan kemudian belajar, beradaptasi, dan berkembang sepanjang jalan. Proses ini memerlukan eksplorasi yang berkelanjutan, peninjauan ulang, dan kemauan untuk mengambil risiko dalam mencari jalan baru yang lebih sesuai dengan aspirasi dan realitas mereka.
Dalam konteks ini, Indonesia memegang peran strategis. Sebagai negara besar di Dunia Selatan dan aktor utama di ASEAN, Indonesia berpotensi menjadi teladan. Indonesia dapat mendemonstrasikan cara menghargai warisan dan nilai tradisional, sambil berpartisipasi aktif dalam komunitas internasional. Ini menuntut keseimbangan antara mempertahankan identitas nasional dan terbuka terhadap kerjasama serta kemitraan global.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Zunus


