"Setiap orang pasti punya mekanisme bertahan. Itu biasa. Tapi tidak setiap orang punya semangat untuk melejitkan kinerja. Nah, ini yang istimewa. Itu karena, bertahan adalah seni hidup. Tapi melejitkan kinerja adalah seni menghidupkan yang hidup. Karena itu, melejitkan kinerja pasti lebih tinggi dari sekadar bertahan hidup."
***
Itulah kemuliaan. Itulah yang kutangkap dari kerja pelayanan para petugas haji Indonesia di Arab Saudi selama musim haji tahun 1445 H/2024 M. Mereka tidak hanya mampu bertahan untuk dirinya sendiri di tengah cuaca yang sangat panas dan tekanan psikososial yang dirasakan. Juga, mereka mampu memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia yang banyak ragamnya, termasuk lansia dan risti (risiko tinggi) terhadap problem kesehatan.
“Kita pernah dicakar-cakar, dipukul-pukul,” kata Bu Hartatik memberikan penjelasan kepadaku di tengah kesibukan kerjanya melayani jemaah haji Indonesia di Bandara Jeddah, Minggu (30 Juni 2024). Para jemaah haji itu sedang berada di ruang tunggu untuk menuju ke dalam Bandara Jeddah untuk proses terbang kembali ke Indonesia. Bu Hartatik itu sedang bersama rekan petugas haji Indonesia lainnya. Namanya, Izza. Usianya masih sangat muda. Dia masih menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Timur Tengah namun sudah mengambil peran sebagai petugas haji Indonesia pada musim haji tahun 1445 H/2024 M ini.
Ungkapan “dicakar-cakar” dan “dipukul-pukul” dalam cerita Bu Hartatik di atas hanya sebagian kecil saja dari cerita pengalaman menantang yang dialami petugas haji Indonesia di Arab Saudi. Level dan ragamnya mungkin tak sama. Tapi cerita mengenai tantangan yang dihadapi petugas haji Indonesia itu tak sedikit jumlahnya. Bahkan jika ditanya, setiap petugas haji Indonesia mungkin akan bisa menceritakan pengalamannya tersendiri. Baik saat menunaikan tugas pelayanan di bandara, hotel tempat menginap maupun di perjalanan. Juga, baik berkaitan dengan soal konsumsi maupun transportasi, atau bahkan juga hingga kesehatan.
Namun satu yang pasti: masing-masing pengalaman itu menunjukkan bahwa yang dihadapi oleh petugas haji Indonesia tidak selalu baik-baik saja. Anggitan “pengalaman menantang” dalam cerita pengalaman praktis masing-masing petugas haji Indonesia di Arab Saudi menunjukkan bahwa yang dialami petugas haji Indonesia dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji, khususnya lagi, tidaklah mudah. Ketidakmudahan ini sengat variatif dalam pengalaman masing-masing petugas haji itu.
Begitu pula yang dialami oleh Bu Hartatik. Hingga berbagai kisah pelayanan pun diceritakan olehnya dengan penuh haru. Orang biasa mungkin akan menangis. Orang pada umumnya mungkin akan marah. Kita secara kebanyakan mungkin juga akan kesal. Semua sikap itu mungkin akan muncul saat sudah harus melayani jemaah haji lansia dengan baik. Namun dalam praktiknya, yang dialami petugas haji terkadang sebaliknya, mendapatkan perlakuan yang menantang, untuk tidak mengatakan tidak menyenangkan, dari mereka yang dilayani.
“Tapi, kami-kami ini pantang menyerah dalam menghadapi lansia,” begitu jelas Bu Hartatik atas apa yang dilakukan dalam melayani secara maksimal kebutuhan jemaah haji lansia selama pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi. “Bahkan, dalam melayani mereka, kadang [jemaah haji lansia] harus dipapah, harus digendong,” jelas Bu Hartatik lebih lanjut menceritakan pengalaman pelayanan yang dia lakukan selama menjalankan tugas sebagai petugas haji Indonesia di Arab Saudi pada musim haji 1445 H/2024 M ini.
Bu Hartatik di atas hanya satu contoh saja dari petugas Jemaah haji Indonesia. Ada ratusan hingga ribuan petugas haji Indonesia di Arab Saudi pada musim haji 1445 H/2024 M ini. Dari manapun asalnya dan level apapun jabatannya, selama mereka menyandang status sebagai petugas haji Indonesia di Arab Saudi, maka semua mereka memiliki kewajiban serupa untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia. Jadi, ada ratusan hingga ribuan Hartatik-Hartatik lain di Arab Saudi yang bertugas memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia.
Pertanyaannya kemudian, apa yang menguatkan petugas haji hingga mampu bertahan dan sekaligus melejitkan kinerja layanan kepada jemaah haji Indonesia selama pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi? Apa yang membuat mereka begitu hebat dalam memberikan pelayanan haji? “Ikhlas. Itu yang menguatkan kami,” kata Bu Hartatik.
Kata “Ikhlas” memang tampak ringan. Atau bahkan cenderung bisa dipersepsi sebagai klise. Namun, dalam praktik pelayanan haji, kata “Ikhlas” oleh petugas haji Indonesia di Arab Saudi itu menjadi kekuatan yang tertandingi oleh apapun.
Maka, munculnya jiwa melayani tak akan bisa begitu saja jika dalam diri petugas haji memang tak ada spirit dan dedikasi pelayanan. Jiwa itu, lebih-lebih, akan sulit sekali muncul dalam diri seseorang jika saat dan selama hidup dalam keseharian di Indonesia justru dalam posisi dilayani. Lalu, tiba-tiba harus mengubah posisi dari dari dilayani menjadi melayani, tak akan semudah membalikkan tangan. Bahkan, akan cenderung bergerak seperti mencabut bambu dari ujung. Sulit dan cenderung tak mungkin.
Tapi toh, keberadaan Hartatik-Hartatik dalam jumlah ratusan hingga ribuan pada petugas haji Indonesia di Arab Saudi di atas akhirnya bisa menjawab keraguan atas masih adanya jiwa melayani di kalangan warga masyarakat. Bahkan, alih-alih, jiwa melayani itu masih sangat kuat melekat pada diri para petugas haji Indonesia di Arab Saudi di atas. Jiwa melayani itu tampak dari praktik konkret dan kerja riil pelayanan kepada para jemaah haji Indonesia.
Simaklah, sebagai contoh, pernyataan figur Bu Hartatik: “Menangani lansia, menurut saya tuh, tantangannya memang terlalu berat. Tapi kalau kita niati dengan ikhlas dan enjoy, [jadinya] udah biasa dan nggak [lagi jadi] tantanganlah bagi kita sebagai petugas jemaah haji Indonesia, terutama yang menangani lansia.” Jadi, lagi-lagi, kata “ikhlas” muncul dalam pernyataan Bu Hartatik. Kalau kata “ikhlas" itu muncul lebih dari sekali, maka itu bisa berarti bahwa kata tersebut sudah menjadi kata kunci dalam kerja pelayanan kepada jemaah haji.
Pada titik ini, ungkapan Jonah Berger penting ditelaah. Dia adalah seorang Profesor dari Wharton School of Business, the University of Pennsylvania Amerik Serikat dan sekaligus penulis terkenal internasional atas buku-buku motivasi-popular. Dalam wawancaranya di sebuah Podcast yang sudah ditranskripsi (lihat URL: https://news.uchicago.edu/magic-words-can-what-you-say-help-you-get-your-way), dia mengatakan begini: Our words do have power. Kata kita memiliki kuasa pengaruh. Di sinilah lalu muncul istilah magic words atau magical words. Kata-kata magis. Pada kata-kata magis itu, terdapat kuasa yang bisa mempengaruhi atau menggerakkan seseorang untuk mengambil langkah penting dalam hidup.
Tentu, yang disampaikan Prof. Jonah Berger di atas adalah dalam kaiannya dengan kata-kata regular-umum. Tentu kuasa magis itu akan semakin membesar saat kata-kata itu dibungkus dengan nilai spiritual tertentu. Kata “ikhlas” seperti yang disebut-sebut Bu Hartatik di atas adalah salah satu contohnya. Di sinilah kita penting untuk menelaah lebih mendalam anggitan “ikhlas” dalam mindset para petugas haji Indonesia di Arab Saudi, seperti yang diwakili oleh Bu Hartatik.
Sebab, kata “ikhlas” terbukti sangat magis. Punya kekuatan pemengaruh yang kuat dalam kerja pelayanan haji. Juga, ternyata nilai yang dikandung oleh kata “ikhlas” menjadi sangat magis dalam kerja pelayanan haji. Dalam ikhlas itu ada ketulusan. Ada loyalitas. Ada praktik untuk terus setia kepada sebuah nilai yang diperjuangkan. Tak ada kata “tapi” yang membuat ketulusan berbatas waktu, lokasi atau kondisi. Tak ada kata “kecuali” dalam ekspresi loyalitas yang dipertunjukkan. Juga tak ada kata “bersyarat” atas kesetiaan yang dipersembahkan.
Nilai “ikhlas” itulah yang selalu menguatkan penunaian tugas pelayanan haji, seperti oleh Bu Hartatik. Dan itu tidak berdiri sendiri. Pemerintah melalui Kementerian Agama RI sejak awal telah membangun sikap kerja petugas haji Indonesia. Simaklah lirik di bagian Ref pada lagu “Mars Petugas Haji”. Di situ ditegaskan nilai tugas dan sikap kerja nan mulia yang harus dijunjung oleh petugas haji Indonesia, khususnya di Arab Saudi, selama pelaksanaan tugas pelayanan ibadah haji. Berikut kutipan di antaranya:
/Melayani Tamu Allah adalah Tugas Kita/
/Sabar, Jujur, Tulus, Ikhlas/
/Adalah Sikap Kita/
Merujuk kepada fakta-fakta ini, harus disebut, kata “ikhlas” bukanlah utopis, melainkan sangat magis sekali. Hanya, tentu tak mudah mengamalkan nilai ikhlas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji lansia. Maka yang penting untuk ditelaah lebih lanjut adalah bagaimana para petugas haji Indonesia menerjemahkan nilai ikhlas itu dalam kerja pelayanan haji. Bagaimanakah caranya? Pertanyaan ini penting untuk melihat bagaimana yang abstrak lalu bisa dikonkretkan hingga berubah menjadi energi penggerak kerja konkret para petugas haji Indonesia di Arab Saudi.
Simaklah bagaimana Bu Hartatik membayangkan nilai ikhlas dalam praktik pelayanan terhadap jemaah haji lansia. Poin ini menjadi penting untuk ditelaah karena bayangan soal nilai ikhlas ini akan bisa menjadi energi penguat kerja pelayanan kepada jemaah haji lansia.
Berikut ini pernyataan Bu Hartatik tentang cara menerjemahkan konsep ikhlas: “Kita punya bapak, punya ibu.” Pernyataan Bu Hartatik ini langsung disahuti oleh Izza. Begini sahut Izza: “Ya mereka kita anggap seperti keluarga kita sendiri. Apalagi mereka datang dari berbagai daerah dan latar belakang. Lalu ada di antara mereka yang tiba-tiba mengalami dimensia. Kita harus sabar melayani mereka.”
Ternyata, ada cara tersendiri yang menjadi bagian dari kearifan lokal para petugas haji Indonesia di Arab Saudi dalam menerjemahkan nilai yang abstrak seperti yang dikandung oleh kata “ikhlas”. Membayangkan jemaah lansia adalah ibu kandung sendiri atau bapak kandung sendiri adalah cara kemuliaan untuk menggerakan nilai yang abstrak dalam sebuah kata ke dalam panduan kerja konkret pelayanan jemaah haji lansia. Duh, mulianya para petugas haji Indonesia itu. Bu Hartatik dan Izza, engkau adalah duta kemuliaan untuk kita semua.
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024
Prof. Akh Muzakki
Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Editor: Muhammad Faizin


