Dark
Light
Dark
Light

Haji Masagung: Penggerak Toko Buku Gunung Agung Penempuh Mimbar Dakwah

Haji Masagung: Penggerak Toko Buku Gunung Agung Penempuh Mimbar Dakwah

Pada akhir 2023, orang-orang menjadi saksi keberakhiran. Toko buku terkenal di Jakarta dan pernah membuka cabang di pelbagai kota sampai babak akhir. Toko bernama Gunung Agung itu tutup. Orang-orang bersedih tapi mengerti situasi zaman dan lakon perniagaan buku abad XXI.

Ingat toko buku, ingat tokoh. Ingat Gunung Agung, ingat (Haji) Masagung (1927-1990). Pada saat mendirikan usaha toko dan penerbitan, ia belum bernama Haji Masagung. Pedagang peranakan Tionghoa itu mengawali bisnis buku dengan keberanian dan kesadaran zaman. Ia memastikan Indonesia ingin mulia wajib berlimpahan buku. Haji Masagung tampil sebagai penggerak dengan pelbagai risiko politik, ekonomi, pendidikan, dan risiko-kultural. Ia mengawali dengan gairah revolusi meski tak melulu politik. Ia berpihak buku dalam memajukan Indonesia.

Pada 1983, terbit buku tipis berjudul Kilasan Riwayat Haji Masagung. Buku diterbitkan oleh Yayasan Idayu. Buku mengenalkan pribadi Haji Masagung sebagai pendakwah, setelah orang-orang mengakrabi sebagai pedagang atau pengusaha.

Dulu, ia bernama Tjio Wie Tay. Ia tak berpendidikan tinggi tapi bisa mencapai “ketinggian” dalam perdagangan dan usaha memberi faedah untuk Indonesia. Babak-babak berdagang memuncak dengan pendirian beragam usaha dinamakan Agung Grup. Usaha paling teringat publik sejak masa 1950-an: NV Gunung Agung. Publik mengetahui itu toko buku, berlanjut usaha penerbitan buku. Selama puluhan tahun di dua rezim (Soekarno dan Soeharto), ia berhasil membesarkan usaha meski tak ingin terus sibuk dalam bisnis.

Pada 1975, ia memeluk agama Islam. Nama moncer setelah pulang dari ibadah haji di tanah suci: Haji Masagung. Ia menjadi sosok berbeda dari pribadi masa 1950-an sampai 1970-an. Di mata publik, ia perlahan diakui sebagai pendakwah. Ia menjadikan buku-buku dan beragam usaha untuk misi dakwah Islam.

Di majalah Eksekutif edisi Juli 1980, kita membaca pengakuan Haji Masagung dalam wawancara cukup panjang. Di situ, ia menjelaskan: “Dan saya senang melakukan dakwah meskipun saya belum pernah masuk pesantren, belum belajar huruf atau bahasa Arab. Kalau Quran saya baca terjemahannya. Tetapi kalau diundang berdakwah, saya berdakwah. Tanpa teks saya bicara tentang apa yang kira-kira bisa diingat. Saya sampaikan dengan bahasa sederhana. Memberi contoh yang sederhana, supaya rakyat mengerti. Saya harus tetap bahagia di mata Tuhan, bukan di mata dunia.” Ia berdakwah dengan kemonceran sebagai pengusaha lekat dengan buku-buku.

Sosok itu unik. Ia besar dengan usaha perbukuan tapi bukan pembaca buku. Pengakuan lugas: “Ah, saya seumur hidup hampir-hampir tidak pernah baca buku. Yang tipis-tipis, saya baca…” Ia tekun dalam menggerakkan perbukuan, sejak masa 1950-an. Ia bukan pembaca buku tapi memungkinkan ribuan atau jutaan orang Indonesia gandrung buku. Bisnis buku membuat ia meraih untung besar. Pada usia makin menua dan menekuni agama, ia berujar bahwa sisa hidup untuk pengabdian dan berdakwah.

Pada suatu hari, ia pernah menjadi penceramah di rumah KH Idham Chalid. Peristiwa itu membuat ia sering diundang berdakwah di pelbagai tempat, termasuk di kampung-kampung. Ia mengaku bahagia bisa turut berdakwah. Kini, kita agak mengerti bahwa dakwah sederhana model Haji Masagung mampu membuat orang-orang sadar atas bisnis, uang, ibadah, amal sosial, dan usaha menjadi Indonesia.

Sejak dulu, Haji Masagung dengan para tokoh nasional: Soekarno, Hatta, Adam Malik, AH Nasution, dan lain-lain. Di bisnis buku, ia bergaul dengan kaum politik dan intelektual. Pada saat berdakwah, pergaulan bertambah luas. Ia pun bersama para tokoh agama dalam mendakwahkan Islam. Haji Masagung mengerti kemampuan dan keterbatasan tapi menganggap dakwah itu sejenis kewajiban.

Di buku berjudul Bapak Saya Pejuang Buku (2003) susunan Rita Sri Hastuti, Ketut Masagung berbagi cerita mengenai Haji Masagung dalam memahami bisnis dan jalan keimanan. Pada babak awal memeluk agama Islam, ia berusaha meningkatkan ibadah dan amalan. Pada 1980, KH Ghaffar Ismail mengukuhkan keislaman Haji Masagung. KH Ghaffar Ismail itu bapak sastrawan kondang di Indonesia: Taufiq Ismail.

Haji Masagung akrab dengan para ulama dan cendekiawan muslim. Dulu, Nurcholis Madjid biasa diundang untuk berceramah di Masjid Agung Al A’raf, masjid didirikan Haji Masagung di Kwitang. Pergaulan dan persahabatan makin menambahi kesungguhan mendalami Islam. Keterangan terbaca dalam buku: “… untuk selanjutnya, undangan yang diberikan kepada Masagung berkembang menjadi undangan memberi ceramah. Rata-rata tiga kali seminggu, ia berkeliling daerah untuk memenuhi undangan berceramah.”

Dakwah juga diwujudkan dengan pendirian Toko Buku Wali Songo. Toko buku-buku Islam itu diinginkan menjadi acuan bagi umat Islam dalam mencari buku. Haji Masagung berpengalaman dalam perniagaan buku. Toko Buku Wali Songo sengaja berbeda dari lakon bersejarah Toko Buku Gunung Agung.

Ia dalam babak berbeda. Dulu, ia tampil sebagai tokoh penting dalam perbukuan. Penulisan sejarah perbukuan di Indonesia wajib mencantumkan nama Haji Masagung. Buku berjudul Pekan Buku Indonesia 1954 itu jejak beragam ikhtiar memuliakan Indonesia dengan buku. Haji Masagung mengartikan revolusi dan kemajuan itu buku melalui NV Gunung Agung. Acara bersejarah perbukuan itu diadakan di Jakarta, 8-14 September 1954.

Jejak itu ikut menentukan kehormatan Haji Masagung dalam berdakwah. Ia menganjurkan orang-orang terus belajar Islam. Sejak dulu, ia menjadi penggerak buku di seantero Indonesia. Pada masa berdakwah, ia menginginkan Islam berkembang di Indonesia. Ia memang bukan pembaca buku tapi memuliakan Indonesia. Ia memang bukan berasal dari pesantren atau mahir membaca Al-Qur'an tapi bergairah di jalan dakwah. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo